DDRRTTT…
DDRRTTT… DDRRTTT…
Handphone
Dira bergetar tanpa suara. Saat itu ia sedang duduk-duduk di balkon kamarnya.
Sesaat ia terkejut mendengar getaran handphone-nya.
Ia segera meraihnya yang terletak di atas meja.
1
new message
Dibukanya isi sms itu yang ternyata dari
Adi, kekasihnya.
Bs
ktmuan skrg ga?
Dira pun berniat segera membalas pesan
itu. Namun belum sempat ia menulis pesannya tiba-tiba Adi telepon. Tak butuh
waktu lama Dira segera menjawab panggilan Adi.
“Halo?” sapa Dira.
“Ra, bisa ketemuan sekarang nggak?”
tanya Adi dari seberang telepon, tanpa basa basi.
“Enghh, emang ada apa? Nggak biasanya
mendadak banget gini,” balas Dira. Ia agak heran dengan kekasihnya yang satu
ini karena tidak biasanya mengajak bertemu berdua dadakan begini. Dan lagi
tidak biasanya juga Adi to the point.
“Ada yang harus aku omongin sama kamu,
Ra.”
Sesaat detak jantung Dira berdegup
kencang. Ada apa ya?, batin Dira. Perasaanku nggak enak, deh.
“Mmhhh, bisa sih, Di. Mau ketemuan di
mana?” tanya Dira kembali, jantungnya masih berdegup kencang.
“Di kafe yang biasa kita tongkrongin
berdua, ya? Aku udah nunggu di sini.”
“Oke lah. Aku segera ke sana.”
“Oke, nggak usah buru-buru.”
“Iya.”
“Ya udah, sampai ketemu nanti di kafe.”
“Yaa.”
Telepon terputus. Dira mulai khawatir.
Apa yang sebenarnya ingin Adi bicarakan? Batinnya tak menentu saat itu. Namun
ia segera menepis pikiran buruk itu dan bergegas untuk bersiap-siap dan
berangkat.
Sampailah Dira di kafe tempat ia dan
kekasihnya janjian. Jantungnya makin berdegup keras ketika matanya sudah
menemukan di mana Adi duduk, di pojok ruangan yang biasa mereka tempati saat
mereka mengunjungi kafe itu. Tanpa menunjukkan rasa kekhawatirannya ia pun
segera menghampiri bangku Adi.
“Di?” sapa Dira, sedikit ragu-ragu.
“Eh? Dira. Udah lama?” balas Adi, kali
ini ia nampak agak basa basi. Hati Dira pun sedikit lega.
“Barusan, kok.”
“Oh iya, duduk, duduk.” Ia bangkit
berdiri dan menarikkan kursi yang ada di hadapan kursinya supaya Dira duduk di
kursi yang ditariknya itu.
“Makasih, Di.”
Mereka pun duduk berhadapan.
“Oh iya, kamu mau pesan apa?” Adi
memecah keheningan di antara mereka.
“Aku coffee
latte aja, deh,” kata Dira.
“Oke. Mbak, satu coffee latte sama satu black
coffee, ya?” pesan Adi pada waitress
cantik yang sudah berdiri di samping meja mereka.
“Baik, Mas. Satu
coffee latte dan satu black coffee segera diantar,” kata waitress itu dan akhirnya berlalu dari
mereka.
Mereka terdiam
lama. Hening. Tak ada yang berbicara sedikit pun. Adi sibuk dengan buku ensiklopedia
yang ia bawa. Dira hanya berkutat pada handphone-nya,
namun pikirannya melayang jauh. Tak lama kemudian sang waitress cantik tadi pun datang memecah keheningan di antara mereka
berdua.
“Makasih, Mbak,”
kata Adi.
“Sama-sama, Mas,
Mbak. Silakan dinikmati, permisi.” Waitress
itu segera menghilang. Mata Dira tak lepas memandanginya sampai waitress itu menghilang ke belakang.
Adi berdehem
sedikit. “Ra, aku mau ngomong serius sama kamu.” Tampak ada keraguan di
wajahnya.
Dira mulai
mengumpulkan mentalnya. “Iya, apaan, Di? To
the point aja.” Jantungnya berdegup semakin keras.
“Hah, ini berat
banget. Sepertinya, untuk saat ini aku nggak bisa tanggung jawab atas anak
hasil perbuatan kita beberapa waktu yang lalu.”
Bagai tersambar
petir. Dira pun terkejut setengah mati. Apa yang ia dengar kali ini sungguh di
luar dugaannya. “Di, kamu bercanda, kan? Kamu, kan, udah janji sama aku kalau
kamu mau tanggung jawab kalau aku akhirnya hamil anakmu.” Suara Dira bergetar.
“Aku nggak
bercanda, Ra. Liat, nih, kedua mataku. Apa aku kelihatan bohong? Kamu tau, aku
dijodohin sama anaknya temennya Mamaku dari Semarang. Kamu kira aku nggak ada
usaha? Itu semua aku lakuin karena Mamaku pengen liat aku nikah sama cewek yang
dipilihin Mamaku. Kamu juga tau udah separah apa penyakit Mamaku. Aku nggak
tega. Aku bingung banget mau pilih antara Mamaku atau anakku.” Mata Adi pun
mulai berair.
Dira terpaku.
Mulutnya seakan tak dapat mengucapkan kata-kata karena shock. Ia tak menyangka jika ia harus mendapatkan cobaan ini.
“Ra, aku harap
kamu mau kasih aku kesempatan buat nyenengin Mamaku. Setelah semuanya selesai
aku pasti akan bertanggung jawab buat anak kita yang sedang kamu kandung itu,”
harap Adi.
Tatapan Dira
kosong. Ia masih belum percaya dengan keputusan kekasihnya itu. Lalu katanya,
“Apa kamu nggak bilang sama Mamamu kalau aku hamil?”
“Ra, kalau kamu
jadi aku apa kamu tega kasih tau Mamamu kalau kamu udah menghamili seorang
wanita sedangkan Mamamu lagi sakit parah?” balas Adi. “Nggak akan lama, aku
bakal segera balik lagi buat tanggung jawab.”
Dira meneguk coffee latte-nya sampai habis dan segera
berpamitan dengan Adi. “It’s OK. Lumayan
keterlaluan, ya, kelakuanmu ini. Eh, aku langsung pamit aja, deh. Aku baru
inget kalau aku ada acara sekarang. Maaf, ya. Permisi. Oh iya, semoga kamu
bahagia. Doakan semoga aku bisa pelihara anakmu ini sendirian.” Dira pun
berlalu sambil melontarkan senyum manisnya untuk menutupi hatinya yang sudah
tercabik-cabik. Mata Adi tak lepas memandangi kepergian Dira keluar dari kafe.
Kamu
nggak ngerti gimana hancurnya hatiku karena kamu, Adi,
jerit Dira dalam hati. Dengan ditemani motor matiknya ia menangis sepanjang
perjalanan menuju ke tempat yang biasa ia datangi sejak kecil saat ia ingin
menyendiri; pantai.
***
“Sof, kamu nggak apa-apa, kan? Sof?”
“Hah? Apaan?”
Sofie kebingungan.
“Kamu bengong,
ya?” tanya Rara, sahabat Sofie.
“Ah, enggak kok.
Siapa bilang aku bengong?”
“Keliatan tau
dari gelagatmu.”
Sofie terdiam.
“Aku nggak apa-apa, kok, Ra. Santai aja.”
“Ya udah, itu
makananmu dihabisin dulu. Mubazir kalau nggak dimakan, kalau nggak dimakan sama
aja buang rezeki.”
“Iya, iya.”
Sofie kembali melahap nasi gorengnya yang tadi sudah dipesan.
Malam itu Sofie
dan Rara berencana pergi belanja ke mal Malioboro. Sebelumnya mereka mampir ke
sebuah warung makan lesehan di dekat Alun-alun Utara. Saat makanan Sofie habis,
Rara mencoba memancing Sofie untuk menceritakan tentang apa yang dilamunkannya
tadi.
“Eh, kamu tadi
ngelamunin Fino, ya?” tanya Rara.
Sofie tersedak
es jeruk yang sedang diminumnya karena ia terkejut dengan pertanyaan
sahabatnya.
“Hah? Fino?
Emang kenapa aku harus ngelamunin Fino?” balas Sofie sambil mengatur nafas.
“Yaa, siapa tau
kamu tadi ngelamunin dia gitu. Kan, kamu lagi deket sama Fino.”
“Aku deket cuma
sekedar temen, Ra. Nggak lebih. Lagian kita deket juga cuma karena kita
sekelas.”
“Tapi, aku
ngrasain ada yang beda dari dia, Sof. Dia kayaknya suka sama kamu, deh.”
“Ah ngaco kamu.”
Entah ada angin
apa, yang mereka bicarakan pun muncul. “Lah lah lah, itu, kan, Fino!” seru Rara
hampir tanpa suara. “Panjang umur dia!”
Sofie
mencari-cari sosok yang dilihat sahabatnya itu. “Ah, iya. Kok, panjang umur,
ya?”
“Lha, kok, sama cewek?” Rara melihat Fino
sedang bersama seorang perempuan cantik. Dengan setelan tank top putih di dalam balutan cardigan
biru tua dan celana jeans hitam membuatnya tampak seperti perempuan kalem.
“Aku bilang juga
apa, nggak mungkin dia suka sama aku. Orang dia juga udah punya gandengan gitu,
keliatan mesra juga. Serasi tuh mereka,” kata Sofie cuek. Apa bener itu ceweknya?, tanya Sofie dalam hati.
“Kamu nggak
panas, kan, Sof? Hihihi,” goda Rara sambil senyum-senyum.
“Panas apaan??
Orang jelas-jelas aku nggak suka sama dia,” bantah Sofie, mukanya agak memerah.
“Eh, kalian pada
di sini, toh? Aku baru liat.” Suara
Fino mengejutkan Sofie dan Rara.
“Eh? Hai, Fin.
Kok, tumben ke sini?” Rara basa basi. Sofie hanya terdiam.
“Iya, nih.
Pengen mampir makan aja ke lesehan gini. Oh iya, kenalin, ini adikku. Sheil,
ini temen-temenku.”
Sheilla
mengulurkan tangan ke arah Rara. “Sheilla.”
“Rara.” Rara
membalasnya.
Kembali Sheilla
mengulurkan tangannya, kali ini ke arah Sofie. “Sheilla.”
“Sofie.”
“Eh, boleh, kan,
kami duduk di sebelah kalian?” tanya Fino.
“Silakan,
silakan. Masih longgar juga,” kata Rara.
Fino dan Sheilla
tersenyum, lalu duduk. Fino sengaja duduk di sebelah Sofie, sedangkan Sheilla
duduk di sebelah Rara. Sementara menunggu pesanan datang, Fino mencoba mengajak
Sofie mengobrol. Sheilla sudah asyik mengobrol dengan Rara.
“Udah lama di
sini?” Fino basa-basi.
“Lumayan, satu
jam kayaknya,” balas Sofie.
“Emang kalian
mau ke mana? Kok, pada cantik gitu dandanan kalian?”
“Yee! Emang
kalau cewek nggak boleh tampil cantik? Kalau kamu yang tampil cantik entar kamu
dikatain ‘bencong’.”
Sekilas Sofie
tersenyum kecil, dan Fino sempat memperhatikan senyuman Sofie. Kamu nggak dandan pun tetep cantik, kok,
Sof, puji Fino dalam hati sambil tersenyum.
“Trus, abis ini
acara kalian mau pada ke mana?” tanya Fino.
“Mau ke mal.
Tuh, si Rara yang ngrengek minta ditemenin. Mau cari boneka dia,” jawab Sofie.
“Sambil mejeng,
ya?” Iseng, Fino mencoba menggoda Sofie.
“Enak aja, emang
aku cewek apaan!”
“Hahaha, siapa
tau."
Rara berdehem
agak keras, sedikit menyindir Sofie dan Fino yang dari tadi asyik ngobrol.
“Sof, udah hampir jam setengah delapan, nih. Buruan, yuk. Nanti kemaleman,”
katanya sambil melirik Fino.
“Iya, iya. Ya
udah, kami duluan, ya, Fin, Sheil.” Sofie berpamitan pada kedua kakak beradik
itu.
“Oke, ati-ati,
ya, Sof,” pesan Fino.
“Trus aku nggak
diucapin, nih??” sindir Rara sambil ndowerin bibirnya.
“Hahaha. Iya,
ati-ati juga, ya, Raratu Ndower.” Fino mengejek.
“Huh, dasar
cowok. Ya udah kita pergi dulu.”
Sesaat Sheilla
memperhatikan kakaknya. Wajah tampan kakaknya itu terlihat sedikit sumringah. Ia
ingin mencoba mencari tahu tentang perasaan kakaknya itu.
“Mas, kamu suka
sama Sofie, ya?” selidik Sheilla.
“Eh, enggak!
Siapa bilang?” sanggah Fino. Sesaat mukanya memerah.
“Matamu lah,
Mas. Kamu kira aku nggak tau?”
Fino terdiam.
Mencoba mendalami perasaannya sendiri. “Iya, aku suka sama dia,” katanya sambil
tersenyum.
“Udah sampai
cinta?”
“Mungkin udah,
Sheil.”
“Sejak kapan?”
“Hah? Apanya?”
“Perasaan
sukamu.”
“Sejak pertama
aku kenal dia.”
“Wah, udah
hampir tiga tahun kamu pendam perasaanmu, Mas?? Kalian ketemu waktu awal
kuliah, kan?”
“Kayaknya. Tiga
tahun nggak kerasa.”
“Lama juga, ya?
Trus kenapa kamu nggak tembak dia, Mas?”
Fino menghela
nafas kecil. “Aku belum berani, Sheil. Aku nggak tau gimana perasaannya ke aku.
Sebenernya aku rencana nembak dia setelah lulus nanti.”
“Selama itu,
Mas?? Apa kamu nggak takut kalau dia nanti diambil orang?”
“Kalau dia
diambil orang, aku bakal nunggu dia aja. Aku yakin sama cintaku sekarang.”
“Mas, kamu, kan,
cowok. Masa’ nggak berani nembak cewek, sih?”
“Bukan nggak
berani, Sheil. Aku ngrasa kurang tepat aja waktunya. Lagian, aku nggak tau
gimana perasaannya ke aku. Aku belum bisa nerima ‘sinyal’ dari dia.”
“Apa harus dapet
‘sinyal’ dulu baru berani nembak, Mas?”
Fino terdiam. Ia
melihat ke dalam lubuk hatinya tentang perasaannya terhadap Sofie, perempuan
yang selama ini ia cintai. Dari dalam hatinya ia ingin sekali mengungkapkan
perasaan cintanya yang selama ini ia pendam. Namun, hatinya juga masih ragu.
Ada yang sedikit mengganjal di dalam hatinya.
“Mas? Kok malah
bengong, sih? Jangan-jangan kamu tadi nggak dengerin omonganku?” kata Sheilla
mengagetkan Fino dari lamunannya.
“Eh, aku
dengerin, kok,” balas Fino. “Ya udah, besok kalau aku udah siap aku bakal
bilang ke dia kalau aku sayang sama dia.”
“Cuma bilang? Kenapa
nggak nembak sekalian, Mas?”
“Iya, maksudku
nembak gitu.”
“Nah, gitu,
dong. Kalau gitu, kan, jadi keliatan kalau kamu bener-bener Masku. Hahaha.”
Sebenernya
aku nggak yakin sama hatinya Sofie, Sheil,
batin Fino.
***
Malam itu Sofie terlihat sangat lelah.
Ia baru saja pulang dari kampus untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Setelah
membersihkan badan ia segera pergi ke ruang makan karena Mamanya sudah menunggu
di sana.
“Gimana kuliahmu
hari ini?” tanya Mama.
“Melelahkan, Ma.
Tugasku banyak banget. Tadi aja sebenernya belum kelar,” jawab Sofie.
“Ya udah, kamu
jangan terlalu capek dan stres, ya? Inget pesen doktermu kemarin.”
“Iya, Ma. Oh
iya, piringnya biar aku yang cuciin, ya?”
“Udah nggak
usah, biar Mama aja yang cuci. Kamu istirahat aja.”
“Alah, Ma. Ya
udah aku bantuin Mama nyuci, ya?”
“Udah sana kamu
istirahat aja. Nggak usah bantuin Mama.”
“Yaelah, Ma. Ya
udah, deh. Aku ke kamar dulu, ya, Ma.”
“Iya, Sayang.
Met istirahat, ya?”
“Iya, Ma.”
Sofie merebahkan
tubuhnya di tempat tidurnya. Ia memandangi langit-langit di kamarnya.
Pikirannya mulai menerawang jauh. Ia teringat kembali dengan Papanya yang sudah
meninggal karena kecelakaan, saat ia masih berusia lima belas tahun. Kala itu
ia merengek minta dibelikan sepeda seperti teman-temannya. Saat Papanya sedang
dalam perjalanan ke rumah setelah membeli sepeda untuk Sofie karena Papanya
ingin memberinya kejutan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah mobil
dengan kecepatan tinggi dan menabrak Papanya yang saat itu juga langsung
meninggal di tempat kejadian. Setelah mendapat kabar buruk itu Sofie dan
Mamanya langsung menuju ke rumah sakit tempat Papanya diautopsi. Dan setelah
mendengar kronologi kejadian, dan melihat sepeda yang baru saja dibeli Papanya
yang masih terikat pada sepeda motor meskipun sudah agak hancur, Sofie menangis
sejadi-jadinya karena ia sangat menyesal sudah merengek-rengek minta dibelikan
sepeda.
Air mata Sofie
mulai menetes. Ia sangat merindukan sosok Papanya yang sangat ia banggakan. Dan
ia kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam.
“Kalau Papa
masih hidup, pasti Papa kecewa banget sama aku,” katanya sambil menangis.
Setelah lama menangis sampai sesenggukan, akhirnya Sofie pun tertidur.
***
Sof,
mau ak jemput ga?
Begitulah isi
sms dari Fino yang masuk di handphone
Sofie. Ia segera membalasnya.
Ga
ah, Fin. Ak mau nyekar dlu k makam Papaku.
Oh.
Biar ak anter, y?
Yg
bener, Fin?
Iya,
Sof. Ak k rmhmu skrg, y?
Ok
lah.
Tak lama
kemudian Fino sampai ke rumah Sofie. “Udah siap?” tanyanya.
“Udah, Fin. Yuk,
berangkat. Ma, aku berangkat dulu, ya?” kata Sofie sambil mencium tangan
Mamanya.
“Iya, Sayang.
Ati-ati, ya?” pesan Mama.
“Pamit berangkat
dulu, Bu.” Fino ikut-ikutan mencium tangan Mama Sofie.
“Iya, Nak. Kamu
jagain Sofie buat Ibu, ya?” pesan Mama pada Fino.
“Pasti, Bu,” jawab
Fino sambil tersenyum. Lalu mereka berdua berangkat.
“Fin, beli bunga
dulu di Pasar Beringharjo, ya?” kata Sofie. Setelah membeli bunga mereka pun
segera ke pemakaman tempat Papa Sofie dimakamkan.
“Ini makam
Papamu, Sof?” tanya Fino setelah mereka sampai di nisan Papa Sofie.
“Iya, Fin,”
jawab Sofie.
“Terawat
banget.”
“Aku sama Mamaku
yang selalu bersihin nisan ini. Karena kami cuma hidup berdua makanya kami
sering ke sini.”
Fino termenung
memandangi nisan Papa Sofie. Lalu memperhatikan wajah Sofie saat menabur bunga
di atas nisan.
“Kamu mau ikut
naburin bunga?” tanya Sofie.
“Enghh, boleh,”
jawab Fino. Ia pun merauk bunga dari keranjang.
“Pa, Mama nggak
bisa ikut karena Mama jatah ‘bulanan’. Mama cuma nitip salam aja buat Papa. Oh
iya, kenalin. Ini temenku, namanya Fino. Dan Fino, kenalin. Ini Papaku,” kata
Sofie. Fino pun memperhatikan wajah Sofie yang sudah mulai menangis.
“Yang sabar, ya,
Sof. Papamu udah bahagia di surga sana. Kalau kamu sedih Papamu juga ikut
sedih,” hibur Fino.
“Penyesalanku
kayak belum ilang, Fin. Aku semalem keinget lagi sama Papa. Aku pengen Papa
pulang,” katanya sambil menangis.
Fino tak kuasa
melihat Sofie menangis. Lalu katanya, “Ya udah, kita sama-sama berdoa aja
semoga Papamu tetep bahagia di surga.” Mereka pun memanjatkan doa kepada Tuhan.
Melihat Sofie masih tetap menangis, Fino mencoba merengkuh tubuh Sofie dan
Sofie tak menolaknya. Bahkan Sofie merasakan ada kehangatan yang mengalir di
dalam tubuhnya. Ia ingin ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya di
kala ia sedang sedih. Dan akhirnya ia menemukan siapa orang itu; Fino.
“Makasih, ya,
Fin, udah mau nganterin aku ke makam Papaku dan mau dengerin isi hatiku,” kata
Sofie sambil tersenyum.
“Nggak masalah,
Sof. Aku malahan yang harus berterimakasih sama kamu karena kamu udah nyadarin
aku betapa pentingnya kehadiran seorang Ayah dalam kehidupanku. Bahkan tadi aku
sempat nangis karena doain Ayahku,” cerita Fino.
Sofie tersenyum
meskipun air matanya masih mengalir. “Fin, boleh aku peluk kamu lagi?” tanyanya
agak malu-malu.
“Eh? Enghh,
boleh, Sof.” Muka Fino agak memerah. Sofie pun merengkuh tubuh kekar Fino.
“Aku seneng bisa
kenal kamu, Fin. Oh iya, abis kuliah siang ini, aku traktir kamu makan, ya?”
kata Sofie, setelah mereka saling berpelukan.
“Ah, nggak usah,
Sof. Kalau mau makan biar aku aja yang bayar,” kata Fino.
“Biarin, aku aja
yang bayar. Anggep aja ini ucapan terima kasihku. Biar Papaku juga seneng.”
“Yaelah, Sof. Ya
udah, deh.”
“Pa, kami pamit
dulu, ya?” Sofie berpamitan dengan batu nisan Papanya. Lalu mereka pun pergi
dari pemakaman menuju ke kampus.
***
“Kamu mau makan di mana, Fin?”
tanya Sofie, saat mereka dalam perjalanan setelah kuliah siang.
“Terserah kamu
aja, Sof. Aku ngikut aja,” jawab Fino.
“Enghh, ke
restoran Jepang biasanya aja, yuk. Aku lagi pengen ramen, nih.”
“Oke.”
Meluncurlah mereka ke restoran Jepang langganan mereka. Sesampainya di sana dan
mencari bangku mereka segera memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang,
mereka mengobrol sedikit.
“Sof,
ngomong-ngomong, aku liat kamu nggak pernah jalan sama cowok. Apa kamu belum
punya calon suami?” tanya Fino.
Raut muka Sofie
berubah masam. Ia memandangi Fino sesaat, lalu katanya, “Aku lagi nggak pengen
ngomongin cowok, Fin. Maaf.”
Fino merasa
sangat bersalah saat melihat raut wajah Sofie dan mendengar jawabannya. “Aku
minta maaf, Sof. Aku nggak bermaksud gitu.”
“Nggak apa-apa,
kok, Fin.”
Setelah
menghabiskan makanan mereka pun segera pulang. Sesampainya di rumah Sofie, Fino
kembali berusaha meminta maaf.
“Udah, nggak
apa-apa, Fin. Lupain aja masalah tadi, aku kayak gini juga karena kurang enak
badan,” kata Sofie saat Fino kembali mencoba kembali meminta maaf. “Ya udah
kamu pulangnya ati-ati, ya?”
“Enghh, ya udah
aku pamit dulu, ya, Sof,” kata Fino, masih dengan rasa bersalahnya. “Sekali
lagi aku minta maaf.”
“Iya, Fin.”
Fino pun
berlalu. Sofie berlari masuk ke kamarnya. Mama yang sedang duduk di ruang
tengah tak dihiraukannya.
Ia pun
menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia menangis menumpahkan semua
isi hatinya. Mama yang heran dengan sikap anaknya itu mencoba menguping dari
luar pintu kamar. Terdengarlah suara sesenggukan Sofie. Dan Mama pun hanya bisa
memaklumi apa yang sedang terjadi pada anaknya.
“Kamu bikin aku
keinget sama masa laluku, Fin,” tangisnya.
***
Pagi-pagi benar Fino sudah sampai
di kampus. Ia berniat menemui Sofie karena ia tahu bahwa Sofie biasanya
berangkat paling awal jika ada kuliah pagi. Ia menunggu di bangku halaman
kamnpusnya. Namun sudah setengah jam berlalu, yang ditunggu pun tak kunjung
datang. Pengen telfon, tapi takut,
batinnya. Rara yang baru saja datang dan langsung melihat Fino sendirian di
bangku halaman, mendekatinya.
“Fin, kamu
nungguin siapa?” tanya Rara.
“Eh, Rara. Anu, aku
lagi nungguin Sofie. Kamu nggak bareng dia?” balas Fino.
“Enggak, tuh.
Tadi, sih, mau aku sms tapi nggak jadi.”
“Kenapa nggak
jadi? Siapa tau dia pengen bareng kamu.”
“Kalau dia mau
bareng aku pasti dia sms. Soalnya dia pernah bilang sama aku kalau dia nggak
sms berarti dia nggak bareng aku, gitu.”
Fino terdiam.
Ketakutan mulai menghantui dirinya. Ingin rasanya Sofie benar-benar mau
memaafkannya karena ia sangat merasa bersalah.
“Kamu lagi
berantem sama Sofie?” tanya Rara.
“Eh, enggak,
kok. Aku nggak berantem sama dia,” sanggah Fino. “Eh, ke kelas, yuk. Kayanknya
kuliahnya udah mau dimulai.”
Kuliah pagi
waktu itu segera dimulai. Dosen dan para mahasiswa sudah berkumpul di dalam
ruangan kuliah. Fino masih celingukan mencari sosok Sofie yang belum terlihat.
Saat kuliah sudah berjalan setengah jam, terdengar suara pintu ruangan diketuk
oleh seseorang. Dan ternyata orang itu adalah Sofie.
“M, maaf, Pak.
Saya terlambat,” katanya sambil mengatur nafas karena berlari.
“Sofie, ke mana
aja kamu? Kenapa baru datang? Nggak biasanya kamu terlambat gini,” tanya sang
Dosen.
“Maafkan saya,
Pak. Tadi saya harus membantu orang tua saya jadi saya terlambat.”
“Ya sudah saya
ijinkan kamu masuk. Tapi lain kali kamu nggak boleh terlambat.”
“Terima kasih,
Pak.” Ia pun segera mencari bangku kosong. Fino terus memandanginya sampai pada
akhirnya mata mereka beradu pandang. Setelah sadar Sofie hanya tersenyum lalu
segera memalingkan muka pada Dosen.
***
Usai kuliah pagi itu Sofie berniat
pergi ke rumah sakit menemui dokter pribadinya. Namun Fino sudah lebih dahulu
mengajaknya pergi makan berdua.
“Sof, sekarang
kamu nggak ada acara, kan? Aku pengen makan berdua sama kamu,” kata Fino.
“Eh? Enghh,
bisa, kok, Fin,” kata Sofie.
Fino memandangi
wajah Sofie yang sedikit pucat. Lalu katanya, “Kamu sakit, Sof? Kok, mukamu
agak pucet gitu? Tadi kamu udah sarapan belum?”
“Oh, ini. Iya
mungkin karena aku belum sarapan tadi, jadi agak pucet gini, Fin.”
“Ya udah kita
langsung makan aja, yuk. Takutnya nanti perutmu sakit.”
Usai makan wajah
Sofie pun kembali segar dan kembali mengobrol dengan Fino, teman sekelasnya
yang mengaguminya.
“Jadi, kamu mau
maafin aku nggak, Sof?” tanya Fino sedikit malu-malu.
“Iya aku udah
maafin kamu, kok, Fin,” kata Sofie sambil tersenyum.
“Sof, aku boleh
ngomong sesuatu?”
“Apaan, Fin?”
“Aku, aku sayang
sama kamu, Sof. Sejak pertama kita ketemu di kampus.”
Sofie
terperangah. Ia tidak menyangka bahwa ia akan mendapat kejutan seperti ini.
Lalu Fino pun melanjutkan kata-katanya.
“Aku nggak tau
kenapa aku jadi tergila-gila kayak gini sama kamu. Padahal aku nggak pernah
ngrasain kayak gini. Hampir tiga tahun aku menahan perasaanku ini karena aku
takut buat bilang sama kamu, karena aku nggak yakin kalau kamu bakal
mencintaiku. Tapi sekarang aku pengen bilang ke kamu kalau aku sayang banget
sama kamu. Kamu tau, Ayah, Ibu, dan Sheilla udah ngrestuin kalau aku sama kamu.
Aku pengen kamu jadi istriku. Apa kamu mau nerima lamaranku? Walaupun kamu
nggak bisa nerima aku, aku pasti bakal tetep nungguin kamu sampai kamu mau
nerima aku. Aku bakal selalu mencintai kamu.”
Sofie memutar
otak. Kenapa kamu harus sayang sama aku,
Fin?, batinnya.
“Enghh, Fin,
maaf. Aku belum bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu buat mikir, ya?” pinta
Sofie.
“Oh, ya udah
nggak apa-apa, kok, Sof. Lebih baik emang dipikirin dulu.”
“Ya udah, aku
mau pulang, Fin. Takutnya Mamaku nyariin.”
“Aku anterin,
ya?”
“Nggak usah,
Fin. Aku, kan, bawa motor sendiri.”
“Enghh, ya udah,
deh. Tapi kamu ati-ati, ya?”
“Iya, Fin. Aku
duluan, ya?”
“Iya.”
Sofie pun
berlalu dari rumah makan itu, menuju ke halaman parkir lalu pergi dengan motor
matiknya. Fino berusaha membuntuti Sofie dengan motornya dari belakang.
Sesampainya di rumah Sofie membiarkan motornya di depan rumahnya lalu masuk ke
dalam rumahnya. Fino terdiam melihat tingkah aneh Sofie. Apa Sofie nggak cinta sama aku, ya?, batinnya.
***
Sofie masuk ke kamarnya sambil
menangis. Kali ini hatinya benar-benar kacau. Pernyataan Fino lah yang sudah
membuatnya seperti ini. Ia ingin melupakan segalanya, ia bertekad akan menjauh
dari laki-laki yang berusaha mendekatinya. Saat ia masih di tengah-tengah
isakannya terdengar suara pintu depan diketuk. Karena Mama sedang pergi
akhirnya ia berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Begitu terkejutnya
ketika ia mengetahui siapa sang tamu yang berkunjung ke rumahnya.
“Dira? Kamu
Dira, kan?” kata sang tamu.
Sofie ternganga.
Ia benar-benar terkejut karena masa lalunya kini kembali, masa lalunya - saat
masih menjadi Dira - yang telah menghancurkan masa depannya; Adi.
“Adi?” sebutnya.
Adi tersenyum
lega. “Ternyata kamu masih inget sama aku, Ra,” katanya.
“Mau apa kamu ke
sini?” tanya Sofie ketus.
“Aku pengen
ngobrol sama kamu, Ra. Aku kangen banget sama kamu. Boleh aku masuk?”
Sofie, alias
Dira, berfikir sejenak. Lalu mempersilakan Adi masuk ke dalam rumahnya.
“Rumahmu udah
agak beda, ya, Ra. Lebih unik sekarang,” puji Adi setelah dipersilakan duduk.
“Nggak, kok.
Masih kayak dulu,” kata Dira. “Terus, apa tujuanmu ke sini?”
“Ah, aku, jujur
aku kangen kamu, Ra. Udah lama banget kita nggak ketemu. Aku cari lagi rumahmu
ini, ternyata kamu masih di sini. Aku bersyukur banget masih dikasih kesempatan
buat ketemu kamu.”
Dira hanya diam,
mengamati gerak-gerik Adi. Ia sangat waspada dengan mantan kekasihnya itu. Ia
takut jika tiba-tiba Adi menyerangnya. Lalu katanya, “Istrimu mana?”
Adi menatap mata
Dira. Lalu ia berusaha menjelaskan semuanya. “Aku cerai sama istriku karena
akhirnya Mamaku meninggal. Kami nggak pernah saling mencintai. Tidur seranjang
pun kami nggak pernah. Aku tau kalau dia punya pacar yang dia cintai. Dan dia
juga tau kalau aku cinta sama cewek lain yang saat itu lagi hamil anakku. Sebenernya
aku ke sini pengen nepatin janjiku, Ra. Aku pengen nikahin kamu karena anak
kita. Oh iya, anak kita sehat, kan, Ra? Di mana dia? Aku pengen ketemu anakku.”
Dira menatap Adi
lekat-lekat. Air matanya mulai mengalir. Adi jadi serba salah. “Anakmu udah
mati di dalem perutku waktu umur kandungannya lima bulan,” katanya. Ia pun
menutup mukanya dan menangis.
Kali ini Adi
yang ternganga dan tidak percaya. “Kamu bercanda, kan, Ra? Nggak mungkin kamu
sampai keguguran,” katanya.
Dira masih tetap
menangis. Ia yang sudah mulai bangkit dari keterpurukan kini jatuh lagi di kala
Adi datang kembali. Ia sangat menyesali tindakan yang dilakukan dengan Adi di
masa lalunya yang membuat masa depannya hancur. “Lebih baik kamu pergi dari
sini, Di. Aku nggak mau liat mukamu lagi,” katanya sambil berdiri, memberi
aba-aba agar Adi segera pergi dari rumahnya.
“T, tapi, Ra,
aku,” sanggah Adi, berusaha menenangkan Dira.
“Keluar sekarang
juga!”
Adi menyerah. Ia
bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari rumah Dira tanpa kata, hatinya amat
pedih karena ia diusir Dira dan kehilangan anaknya juga.
Dira kembali
masuk ke dalam kamarnya. Air matanya tumpah semua. Ia meluapkan isi hatinya
dengan menangis sejadi-jadinya di kamarnya.
***
Malam itu Dira sendirian di rumah.
Mama sedang pergi ke rumah temannya. Ia berusaha melawan rasa sakit di dadanya
yang sedari tadi menyerang. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu depan.
Ia bersyukur karena ada yang menemaninya malam itu. Saat pintu dibuka ternyata
Fino yang bertamu.
“Sof, kamu nggak
apa-apa, kan?” tanyanya.
“Aku nggak
apa-apa, kok. Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?” tanya Dira.
“Nggak. Aku liat
tadi kamu didatengin sama cowok, gitu. Siapa dia?”
Dira kembali
teringat dengan Adi. “Ah, bukan siapa-siapa, kok, Fin. Eh, duduk dulu.”
Fino tidak
menyadari sakit yang diderita Dira saat itu. “Iya makasih, Sof. Aku di teras
aja.”
“Ada perlu apa
kamu ke sini?”
“Enghh, aku cuma
mastiin kalau kamu baik-baik aja, Sof.”
“Aku nggak
apa-apa, kok, Fin.”
“Terus, kamu
udah ada jawaban buat lamaranku tadi belum, Sof?”
Dira terkejut.
Dadanya semakin sakit. Memori masa lalunya terbuka kembali. Ia tak ingin
membicarakannya sekarang.
“Sof? Pasti kamu
udah ada jawaban, kan?” Fino mengejar.
Dira terdiam
sejenak. Lalu katanya, “Mending kamu pergi jauh-jauh dari aku, Fin.”
Fino terkejut
dengan kata-kata Dira. “M, maksudmu apa, Sof?”
“Aku benci sama
semua cowok, tau nggak!? Mereka semua sama brengseknya! Mereka nggak punya
perasaan! Tega banget ninggalin ceweknya yang mengandung anaknya! Fin, asal
kamu tau, cowok yang tadi siang ke sini, tuh, mantanku yang pernah menghamili
aku tapi dia nggak mau tanggung jawab sampai aku keguguran!”
Fino terkejut
bukan main. Ia tak menyangka bahwa perempuan yang selama ini dicintainya
mengalami nasib seburuk itu. Lama ia terdiam, akhirnya Dira mengusirnya.
“Pergi dari
sini!” bentak Dira sambil berlari ke dalam rumahnya dan mengunci pintu. Fino
berusaha mengejarnya namun gagal.
“Sof, biarin aku
ketemu kamu dulu. Aku cinta sama kamu, Sof. Please.” Fino memohon. Rasa sakit
di dada Dira semakin menjadi. Dan pada akhirnya Dira pun pingsan.
***
Suasana di salah satu ruang perawatan
di sebuah rumah sakit terkenal di Jogja sangat hening. Hanya ada satu pasien
yang dirawat meskipun ada satu tempat tidur lagi untuk pasien lain, dan satu
orang yang menemani sang pasien. Dira, sejak kejadian pingsan malam itu,
dirawat di rumah sakit tersebut. Ia dilarikan saat Fino mengetahui bahwa ia
pingsan saat Fino mengintip ke dalam melalui jendela rumahnya.
Fino memandangi
wajah pucat Dira, perempuan yang selama ini ia kenal dengan nama Sofie. Hatinya
tetap mencintai perempuan yang ada di hadapannya saat itu meskipun ia sedikit
kecewa dengan masa lalunya. Ia akhirnya mengetahui rahasia Dira dari Mama Dira.
“Dira punya masa
lalu yang nggak menyenangkan. Lima tahun yang lalu, setelah lulus SMA dia
kuliah di akademi keperawatan. Dia ketemu sama kakak tingkatnya yang akhirnya
jadi pacarnya, namanya Adi. Mereka memang terlihat saling mencintai, Ibu pun
udah merestui hubungan mereka. Sampai pada akhirnya Dira mengakui kalau dia lagi
hamil anaknya Adi. Ibu memang kecewa banget sama mereka, tapi mau gimana lagi.
Ibu nggak bisa marah sama mereka. Kalau Papanya Dira masih ada mungkin beliau
yang akan marah-marah sama Dira.
“Waktu kandungan
Dira sudah memasuki usia hampir dua bulan, Adi minta putus dengan alasan dia
dijodohkan dengan wanita pilihan Mamanya. Dan sejak saat itu juga Dira nggak
pernah keluar rumah, kuliahnya nggak diselesaiin. Dia mulai sakit-sakitan
karena mikirin Adi sampai depresi. Pada akhirnya dia divonis dokter kena
penyakit lemah jantung, dan gara-gara penyakit itu dia keguguran waktu usia
kandungannya menginjak lima bulan.
“Setelah
keguguran dia menjalani terapi yang disarankan teman Ibu biar dia pulih lagi.
Akhirnya, berkat terapi itu Dira pun pulih dari keterpurukannya. Dira berniat
kuliah lagi. Tapi dia nggak pengen kuliah di keperawatan lagi dan pengen ganti
nama panggilan. Akhirnya Dira daftar di jurusan teknik mesin dan ganti nama
jadi Sofie karena nama lengkapnya Dira Sofia. Dan pada akhirnya Dira ketemu
kamu. Hidupnya seperti udah berubah.”
Fino masih tetap
memandangi wajah Dira. Ia benar-benar menyesal karena malam itu ia merasa
sedikit menuntut jawaban dari Dira, yang membuatnya seperti ini sekarang. Dan
matanya pun mulai berair. Entah apa yang dirasakannya, tangan Dira yang masih
terinfus bergerak. Dan matanya pun mulai terbuka perlahan. Fino segera bangkit.
“Ra, kamu udah
sadar?” tanya Fino setengah tak percaya.
“Aku di mana,
Fin?” tanya Dira, ia tak menghiraukan pertanyaan Fino karena ia tidak dapat
mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.
“Kamu di rumah
sakit, Ra. Kemarin kamu sakit. Makanya aku bawa kamu ke sini. Oh iya, kamu udah
baikan, kan? Gimana, masih sakit nggak?”
Dira terdiam
sejenak, lalu katanya, “Aku udah nggak apa-apa, kok, Fin.”
“Syukurlah kalau
udah nggak sakit.” Fino tersenyum.
Dira berusaha
mengingat apa yang terjadi sebelum ia dirawat di rumah sakit. Perlahan
ingatannya pulih. Ia kembali teringat saat Fino datang ke rumahnya malam itu
dan ia juga teringat ketika ia jatuh pingsan karena penyakitnya kambuh.
“Fin?” Mata Dira
sedikit berair.
“Iya, Ra?” Fino
membalas.
“Kamu sekarang
udah tau semua rahasiaku, kan?”
Fino termenung
sejenak. “Enghh. Iya, Ra,” katanya.
“Pasti kamu
kecewa banget sama aku.” Dira mulai menangis.
Fino menggenggam
tangan Dira. “Ra, cintaku tulus buat kamu. Aku nggak mau liat gimana masa
lalumu, kok. Aku juga nggak nganggep kamu cewek nakal atau gimana, tapi aku
mandang kamu sebagai cewek yang paling sempurna buat aku. Aku ngomong kayak
gini, inilah kata hatiku saat ini,” katanya.
Dira memandangi
wajah Fino dalam-dalam. Ia berusaha mendalami kata-kata yang baru saja diucap
Fino, laki-laki yang selama ini mencintainya. Dari lubuk hatinya yang paling
dalam ia sangat mendambakan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatinya
karena masa lalunya yang tidak menyenangkan. Baginya, ditinggal seorang
laki-laki yang ia cintai ketika ia sedang mengandung anak dari laki-laki itu
amatlah menyakitkan.
“Kamu nggak
harus jawab lamaranku, kok, Ra. Aku ngerti gimana perasaanmu,” kata Fino.
“Aku butuh
waktu, Fin,” balas Dira, sambil menghapus air matanya. Fino hanya tersenyum,
walaupun hatinya sedikit kacau.
***
Sore itu Fino pergi mencari sebuah
kafe, setelah ia mengerjakan tugas kuliahnya di perpustakaan kampusnya. Ia
ingin melupakan sejenak tentang tugas kampusnya, dan juga tentang masalah
lamarannya pada Dira. Ia terus mencari kafe di kota yang dirasa nyaman dan
tidak terlalu ramai. Dan sampailah ia di sebuah kafe yang ia inginkan. Suasana
yang nyaman dan tidak terlalu ramai. Ia bisa sejenak bersantai di kafe itu.
Seorang waitress cantik beratasan seragam kafe
tersebut dan rok hitam selutut mendatangi meja Fino. Ia menanyakan pada Fino
apa yang akan dipesan.
“Moccachino aja, Mbak,” kata Fino.
“Baik, Mas. Satu
moccachino segera diantar,” balas waitress itu dan berlalu dari meja Fino.
Fino memandangi
keadaan sekitar kafe itu. Suasananya memang terlihat nyaman. Lampu yang sedikit
remang-remang membuat suasanya terlihat lebih romantis. Ia menikmati
pemandangan di ruangan itu, sampai ia tidak menyadari kalau waitress cantik yang melayaninya tadi
sudah berdiri di dekat mejanya mengantar pesanannya.
“Oh. Makasih,
Mbak,” kata Fino.
“Sama-sama, Mas.
Silakan dinikmati,” balas waitress itu sambil tersenyum manis dan melenggang
meninggalkan Fino.
Fino mulai
menyeruput moccachino-nya. Ia masih
menikmati suasana remang-remang di kafe itu. Ketika menyeruput moccachino-nya untuk yang kesekian
kalinya, ia melihat seorang perempuan yang duduk di pojok ruangan kafe namun
tak begitu jelas karena lampu di kafe itu remang-remang. Ia merasa sangat
mengenali perempuan itu, dan ia baru sadar kalau perempuan itu adalah Dira.
Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat Dira sedang duduk behadapan dengan
seorang laki-laki yang dilihatnya pernah berkunjung ke rumah Dira sebelum Dira
masuk rumah sakit. Firasatnya mulai berkata buruk, pikiran negatifnya
bermunculan. Sementara itu, Dira masih berbicara dengan laki-laki yang duduk di
hadapannya itu.
“Aku, nggak bisa
nerima kamu lagi, Di,” kata Dira. Matanya terlihat berair.
Adi ternganga.
“Ra, apa kamu nggak mau kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu?” tanya Adi,
laki-laki yang sedang bersama Dira itu. “Apa kamu cinta sama cowok lain?”
“Iya, Di. Aku
cinta sama dia. Dia udah nglamar aku buat jadi istrinya. Dia mau terima aku apa
adanya yang kayak gini.”
“Aku lebih bisa
nerima kamu apa adanya, Ra. Aku yang lebih dulu cinta sama kamu. Aku yang
berhak tanggung jawab buat semua yang kamu alami selama ini.”
“Aku juga berhak memilih siapa yang bakal jadi
suamiku, Di. Aku kayak nggak sanggup hidup sama kamu. Kamu pernah ninggalin aku
yang lagi hamil sampai aku harus keguguran karena depresi.”
Adi tertunduk.
Ia benar-benar menyesali apa yang telah ia perbuat dahulu. Namun semuanya tak
dapat kembali. Semuanya sudah terjadi. “Please, Ra. Kasih aku kesempatan satu
kali lagi. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku janji aku bakal bikin kamu
bahagia selamanya.”
“Maaf banget,
Di. Aku nggak bisa nerima kamu lagi. Aku udah cukup trauma sama masa laluku.”
Entah apa yang
membuat Dira ingin memandangi ruangan kafe itu. Dan seketika itu juga ia
melihat Fino sedang memandangi dirinya yang sedang bersama Adi. Begitu sadar bahwa laki-laki itu adalah Fino,
ia pun hanya ternganga karena terkejut dan ia tak dapat bergerak sama sekali.
Fino memandanginya hampir tanpa ekspresi. Fino pun meneguk moccachino-nya sampai habis, pergi ke kasir, lalu pergi dari kafe
itu. Menyadari Fino pergi dari tempat itu, Dira pun berusaha mengejarnya tanpa
mempedulikan Adi. Namun usahanya sia-sia. Fino sudah menghilang bersama motor
bebeknya.
Dengan motor
matiknya Dira berusaha mengejar Fino. Ia berpikir bahwa Fino pulang ke
rumahnya, dan ia pun menuju ke rumah Fino untuk menemuinya. Sesampainya di
rumah Fino ia mendapati rumah Fino tanpa penghuni. Ia teringat bahwa keluarga
Fino sedang ada di luar kota dan Fino tinggal sendirian. Dan ia berpikir kalau
Fino saat itu masih di jalan. Lalu ia berniat menunggu di depan rumah Fino
sampai Fino pulang.
Dua jam telah
berlalu sejak Dira menunggu Fino di depan rumahnya. Ia mencoba menelpon Fino
berkali-kali namun hanya ada jawaban dari operator bahwa nomor Fino sedang
tidak aktif. SMS yang ia kirimkan juga pending. Dan pada akhirnya ia memutuskan
untuk pulang karena arlojinya sudah menunjukkan pukul 22.45. Ia pulang dengan
sedih.
***
Pagi itu Dira berangkat ke kampus
pagi-pagi benar. Selain ada kuliah pagi ia juga ingin menemui Fino yang semalam
ia tunggui. Ia ingin meminta maaf atas apa yang sudah terjadi kemarin.
Kelas kuliah
pagi itu sudah hampir dimulai. Namun yang ditunggu Dira tak kunjung muncul. Akhirnya
ia berniat untuk mengunjungi rumah Fino lagi seusai kuliah pagi itu.
Usai kuliah Dira
bergegas keluar dari kelas dan menuju ke parkiran. Namun di pintu kelas ia
sudah dihadang Rara.
“Buru-buru
banget. Mau ke rumah Fino, ya?” kata Rara.
“Iya. Aku mau liat
dia lagi ngapain di rumah, kok, nggak ikut kuliah,” balas Dira hampir tanpa
memperhatikan sahabatnya.
“Khawatir, ya?”
Dira terdiam. Ia
baru menyadari bahwa dirinya telah mengkhawatirkan laki-laki itu. “Iya. Aku
khawatir, Ra. Makanya aku mau ke rumahnya.”
Rara tersenyum.
“Ya udah. Kamu ati-ati, ya? Semoga dia nggak kenapa-kenapa.”
“Iya, Ra. Ya
udah aku pergi dulu.” Dira berlalu dari hadapan Rara dan pergi ke rumah Fino.
Sesampainya di
rumah Fino, Dira langsung memarkirkan motornya di depan rumah Fino dan berusaha
mengumpulkan mentalnya untuk meminta maaf pada Fino. Dan ia pun mengetuk pintu
dan menunggu beberapa detik. Tak ada yang membuka. Ia mengetuk pintu kembali
dan menunggu beberapa detik. Tak ada yang membuka. Dan untuk yang ketiga
kalinya ia mengetuk pintu dan menunggu kira-kira sepuluh detik, akhirnya ada
yang membuka pintu. Dari balik pintu muncul seorang laki-laki dengan sweater
rajut dan celana panjang membalut tubuhnya di balik sarung yang dipakai untuk
menghangatkan tubuhnya. Matanya sayu dan wajahnya terlihat pucat. Dira
memperhatikan laki-laki itu dan pada akhirnya ia menyadari bahwa laki-laki itu
adalah Fino.
“Fino! Kamu
kenapa??” tanya Dira panik. Dan seketika itu juga Fino jatuh pingsan di pelukan
Dira.
***
“Fino hanya kecapekan. Makanya dia
demam. Apakah dia semalam pergi sampai larut malam?” kata sang dokter setelah
memeriksa Fino.
“Saya kurang
tahu, Dok. Saya semalam memang ke rumahnya tapi dia nggak ada di rumah. Ya
mungkin dia pergi sampai selarut itu, Dok,” balas Dira.
“Ya sudah, saya
tinggal dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa panggil saya. Saya ada di ruangan
saya. Permisi.”
“Iya, Dok.
Terima kasih.” Dokter itu berlalu dari hadapan Dira.
Dira duduk di
kursi yang ia tempatkan di samping tempat Fino tidur, sambil memandangi wajah
Fino yang masih tertidur. Setelah Fino pingsan ia memanggil ambulans agar
menjemputnya dan membawa Fino ke rumah sakit. Ia begitu khawatir dengan keadaan
Fino saat itu meskipun dokter hanya mengatakan bahwa Fino hanya kecapekan. Ia
merasa bersalah, dan ia pun mulai menangis.
“Maafin aku,
Fin. Aku pengen kamu bangun sekarang. Aku nggak pengen kamu pergi dari aku,”
katanya sambil menangis.
“Aku nggak
pergi, kok, Ra.” Suara itu mengejutkan Dira yang sedari tadi menangis. Ia
melihat mata Fino yang sudah mulai terbuka meskipun belum terbuka lebar karena
kondisinya yang masih lemah.
“Fino! Kamu
bikin aku khawatir, tau nggak!?” Tangisan Dira bertambah keras karena saking
senangnya. Lalu ia memeluk Fino. “Eh, aku panggil dokter dulu, ya? Beliau tadi
nyuruh aku panggil beliau kalau ada apa-apa.”
Fino menahan
Dira yang akan pergi. “Nggak usah, nanti aja. Kamu temenin aku dulu aja di
sini, kan aku ga kenapa-kenapa,” katanya.
“Tapi, Fin…”
“Nggak usah ngeyel daripada aku pergi.”
Dira menyerah.
“Iya, deh, nggak jadi.”
Fino tersenyum.
Meskipun wajahnya masih terlihat pucat ia tetap tersenyum.
“Kamu yang bawa
aku ke sini?” tanya Fino.
“Iya lah. Kamu
ini aneh. Bukain pintu tiba-tiba malah pingsan,” kata Dira.
“Haha. Aku
pusing banget waktu itu.”
“Emang kamu
pulang jam berapa semalem?”
“Jam tiga pagi.”
“Gila lu. Sampai
nggak berangkat kuliah juga.”
“Hehehe. Biarin.
Sekali-sekali.” Tiba-tiba Fino teringat dengan kejadian di kafe kemarin. “Oh
iya, pacarmu ke mana, Ra?”
“Pacar? Pacar
yang mana?” tanya Dira balik.
“Yang di kafe
itu.”
Dira teringat
dengan kejadian itu. “Enak aja, dia bukan pacarku.”
“Lha emang siapa kalau bukan pacarmu?”
“Dia itu yang
namanya Adi, mantanku yang pernah menghamili aku.”
“Dia nglamar
kamu juga, kan?”
“Iya.”
“Trus kamu jawab
mau nerima dia, kan?”
Dira terdiam
sejenak, lalu katanya, “Enggak.”
“Kenapa?
Bukannya dia masih cinta sama kamu? Bukannya dia mau tanggung jawab buat
semuanya?”
“Udah telat
kalau mau tanggung jawab. Dia udah ngancurin hidupku dan masa depanku.”
Fino tertegun
dengan jawaban Dira. Ia seperti kembali bangkit dari keterpurukannya.
“Fin?”
“Iya?”
“Apa kamu masih
mau nglamar aku?”
Fino kembali
tertegun. “Maksudnya?”
“Kamu jadi
nglamar aku buat jadi istrimu nggak?”
Fino terkejut
dengan pertanyaan Dira. “Aku bahkan kemarin ngira kalau kamu nerima Adi lagi,
Ra.”
“Nggak, kok,
Fin. Aku mutusin buat ninggalin masa laluku dan menatap masa depanku. Dan aku
mau nerima lamaranmu buat jadi istrimu.”
Fino ternganga.
Ia hampir tidak percaya dengan perkataan Dira. “Kamu serius, Ra? Kamu mau jadi
istriku?”
Dira mengangguk
mantap sambil tersenyum. “Iya. Aku mau banget, Fin. Ternyata Aku butuh
seseorang yang bisa nyembuhin luka hatiku di masa lalu. Kamu inget nggak waktu
kamu nganterin aku ke makam Papaku? Sejak saat itu aku ngrasain ada sesuatu
yang ngalir di hatiku gara-gara kita pelukan. Waktu kamu sakit gini aku
khawatir banget, dan setelah itu aku sadar kalau ternyata selama ini aku sayang
sama kamu. Aku nggak pernah mau ngebiarin ada cinta di hatiku. Aku nggak pernah
mau mengakui kalau aku butuh seseorang buat nyembuhin luka hatiku. Intinya, aku
mau jadi istrimu.”
Fino tersenyum
lebar. “Boleh aku peluk kamu, Ra?”
Tanpa menjawab
pertanyaan Fino, Dira langsung merengkuh tubuh Fino yang masih terbaring di
atas tempat tidur.
“Makasih banget,
Ra. Kamu begitu berarti buat aku. Aku mencintaimu,” bisik Fino di telinga Dira.
Dira hanya tersenyum sambil menangis bahagia.
5
tahun kemudian…
Malam itu langit cerah. Nampak
sebuah mobil silver baru saja melakukan perjalanan. Mobil itu berhenti di
sebuah rumah mungil semi permanen yang berhalaman cukup luas. Rumah semi
permanen setengah berdinding kayu dan tembok itu terletak di tengah-tengah
sebidang tanah yang sisa tanahnya dijadikan halaman sekaligus taman. Pagar kayu
yang mengelilingi tanah itu membuatnya nampak seperti rumah di pedesaan.
Tamannya penuh dengan bermacam-macam bunga. Di halaman belakang terdapat sebuah
meja dengan beberapa kursi, cocok untuk bersantai.
Si pengendara
mobil tadi turun dari kemudi lalu membukakan pintu mobil untuk seseorang yang
duduk di sebelahnya saat ia mengemudi agar turun dari mobil dengan tuntunan
tangannya. Dengan perlahan orang itu turun dari mobil. Tangannya masih dalam
genggaman si pengemudi, yang nampaknya si pengemudi adalah suami dari orang
itu. Dan nampaknya orang itu sedang hamil.
“Mari turun,
Tuan Putriku,” kata Fino, sang pengemudi mobil tadi.
Dira, istri dari
pengemudi tadi, turun dari mobil dengan perlahan. Lalu mereka berdua segera
masuk ke dalam rumah mungil semi permanen mereka.
“Langsung
istirahat aja, Ma. Takutnya kalau kamu kecapekan malah nggak baik buat anak
kita,” kata Fino sesampainya mereka di dalam rumah.
Dira tidak
mendengarkan apa yang dikatakan Fino. Ia keluar dari kamarnya menuju ke halaman
belakang. Dengan pakaian yang dipakainya saat ia pergi tadi, ia keluar ke
halaman belakang dan memandangi langit malam yang cerah. Bintang berkelap-kelip
indah di atas langit. Dira tersenyum. Tanpa disadarinya Fino sudah berdiri di
sampingnya.
“Langitnya
cerah, Pa. Aku nggak pengen tidur cepet karena aku mau menikmati keindahan
langit malem ini,” kata Dira tanpa menoleh ke arah Fino.
Fino tersenyum
melihat wajah istrinya. Lalu ia pun memeluk istrinya dari belakang dan memegang
perut istrinya. “Kamu seneng, ya, Ma?” tanyanya.
“Iya, Pa. Bahkan
aku bahagia. Apalagi kita udah mau punya anak. Aku bahagia banget.”
Fino melepaskan
pelukannya dan membalikkan tubuh Dira sehingga mereka berdiri berhadapan. Mata
mereka beradu, mencoba mendalami apa arti dari tatapan mereka masing-masing.
Karena sedikit malu Dira pun mencoba memeluk suaminya itu dan mencium pipinya
sekilas.
“Thank you, Fin. Aku bahagia banget bisa
mencintaimu,” bisiknya. Fino tersenyum, lalu mencium kening Dira.
SELESAI