Minggu, 10 Agustus 2014

"Déjà Vu" (2014)


Ini adalah sebuah memori pahit tentang pengalaman hidup yang membuatku harus melepas air mata. Air mata ini yang mengiringi kepergiannya di peristirahatan terakhirnya. Hanya sebuah kelalaian dalam berkendara di jalan raya, tak memperhatikan jalanan yang ramai dan tanpa pelindung kepala. Aku yang semasa hidupnya tak selalu ada di sisinya dan tak ada saat ajal menjemputnya, saat ia pergi hanya sesak di dada yang aku rasakan.
Sudah lima tahun ini ia pergi. Sebuah nisan keramik berwarna krem dan bertanda salib tampak bersih. Mawar dan kenanga yang kubawa tertabur rata di atas nisannya. Doaku untuknya tak pernah kulupakan.
Seorang wanita yang kini amat kucintai mengajakku pergi makan siang dan ia ingin mengenalkanku pada seorang temannya. Aku begitu tercekat dan terpaku ketika temannya muncul. Ia sangat mirip dengan masa laluku yang sudah tiada! Aku tersadar saat wanita itu menjabat tanganku yang terasa dingin. Oh, aku hanya ber-déjà vu.

"Catatanku" (2014)


Catatan ini putih. Seperti bulu domba sehat di tengah padang rumput bersama seorang penggembala riang. Aku menulis ini di selembar catatan putih itu. Menulis apapun yang menjadi pergumulan di dalam lubuk jiwa. Hanya sekadar menulis.
Aku menikmati senja kala itu di beranda villaku di tepi pantai. Deburan ombak yang menghantam pasir pantai ini menciptakan angin yang menyapu wajahku. Rambutku yang kubiarkan tergerai menari mengikuti irama sepoi-sepoinya angin pantai. Di tengah gemuruh ombak yang bergulung dan menghempas pasir pantai, di balik itu semua sebuah pemandangan yang tak kalah indahnya dengan irama ombak yang berlomba menepi ke tepian. Sang mentari senja yang bersiap diri beristirahat dari lelahnya menerangi tanah air tercinta ini. Melewati garis horizon yang terbujur dari timur ke barat sang penerang bumi ini mulai tenggelam.
“Mau coklat panas?” Sebuah suara yang sangat familiar menyeruak masuk ke dalam liang pendengaranku. Tangannya menggenggam pegangan cangkir yang berisi minuman panas kesukaan kami.
“Mau banget,” kataku sambil tersenyum.
Ia menyodorkan cangkir itu tepat di depan lubang hidungku. Sepertinya ia berharap aku menghirup aroma coklat yang dibuatnya untukku. Dan aroma itu memang tercium, bersamaan dengan aroma tubuhnya yang tercium saat ia berjalan melewatiku. Ia pun terduduk di sisi kananku, ikut menikmati suara deburan ombak dan sunset sore itu.
Aku terkenang kisahku dengan pria satu ini. Pantai inilah yang menjadi saksi kisah kami. Walau hanya segelintir kisah kami yang terjadi disaksikan pantai ini, namun pantai ini sudah menjadi bagian dari hidup kami.
Aku menyesap coklat panasku. Masih sedikit panas. Sejak ia duduk di sampingku tak ada sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulut kami. Kami terlarut dengan pemandangan yang menjadi latar belakang gemuruh ombak yang berlomba-lomba menepi ke tepian pantai. Kami seperti terhipnotis menikmati pemandangan indah itu.
Dan aku seperti sudah tak bisa mengingat lagi bagaimana rasanya awal jatuh cinta. Hanya mengerti teori yang mengatakan bahwa jatuh cinta itu berjuta rasanya. Namun teori dan chemistry yang dirasa itu sangat berbanding terbalik karena teori mengatakan begini dan hati mengatakan begitu. Cinta itu sangat tak masuk akal.
Pria ini yang empat tahun belakangan menemani hidupku. Hanya sebuah pertemuan kecil saat aku menempuh bangku pendidikan di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota ini. Orang mengatakan hubungan kami ini karena adanya ‘cinta lokasi’ di antara kami. Sebuah pertemuan yang amat sangat tak disengaja. Berawal dari sebuah organisasi sekolah yang kami ikuti. Tanpa ada embel-embel berjabat tangan dan kalimat, “Boleh kenalan?”. Hanya saling bertatap muka tanpa menghafalkan bagaimana bentuk rupa wajahnya dan juga hanya mengingat namanya saat itu; Randi Sapta Suryono.
Ndhuk?” Begitulah dia memanggilku. Panggilan yang sebenarnya untuk anak perempuan dalam Bahasa Jawa.
“Ada apa, Mas?” tanyaku sambil menoleh memperhatikan wajahnya. Menerka-nerka apa yang akan dibicarakannya.
“Apa kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu?” Matanya tak lepas dari pemandangan sunset.
“Masih, Mas. Semua masih tersimpan rapi dalam memori ingatanku. Kenapa memang?”
“Aku ingat saat kita belum terlalu saling mengenal. Hanya sekadar kenal lalu pacaran. Saat itu aku hanya ingin mencoba mengenalmu lebih jauh dengan memacarimu. Aku pikir kita akan gagal menjalin hubungan ini, tapi sejak kita membuat keputusan untuk mencoba menjalani hari-hari berdua aku merasakan bahwa dirimu adalah wanita yang paling tepat untuk selalu ada di sisiku. Dan pada akhirnya hubungan kita masih terbina hingga detik ini.”
Aku tersipu malu dengan kata-katanya yang terang-terangan itu.
“Apa kau masih ingat pula saat pertama kali kau menamparku?”
Ah. Kenangan pahit itu, ya? Iya, aku memang masih mengingatnya. Bagaimana tidak? Aku yang baru saja merasakan benih-benih cinta ini mulai tumbuh subur di hatiku mendadak dibuat layu karena sebuah pengkhianatan. Memang, hanya sebentar saja ia merasakan cinta yang lain, namun luka yang terbentuk sangat dalam dan masih membekas hingga saat ini.
“Meski luka itu masih membekas sedikit saat aku teringat tapi aku selalu memaafkanmu, Mas. Dan tiada dendam di hati sama sekali.” Ku rasakan mataku berair. Rasanya memang getir. Dan hanya kujadikan pengalaman hidup yang kuharap tidak akan pernah terulang walau sekali saja.
“Aku mengerti kau pasti tak sepenuhnya percaya padaku lagi. Tapi yakinlah, aku pasti bisa mengembalikan rasa percayamu lagi kepadaku. Aku akan membuktikan semuanya.”
Sapta, begitu nama panggilannya, merengkuh tubuhku dari sisiku. Sunset sudah terlihat hampir sepenuhnya tenggelam. Kami terdiam menikmati pemandangan pantai sore itu. Sebuah gitar yang tersandar di sisi pintu mengundang kami untuk mengambilnya dan menyanyikan sebuah senandung. Senandung yang selalu kami nyanyikan jika kami ada di villa ini.

KEMESRAAN
Suatu kali di kala kita duduk di tepi pantai
Dan memandang ombak di lautan yang kian menepi
Burung camar terbang bermain di derunya air
Suara alam ini hangatkan jiwa kita

Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa tercurah saat itu

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini ingin ku kenang selalu
Hatiku damai jiwaku tenteram di sampingmu
Hatiku damai jiwaku tenteram bersamamu

Sang mentari senja kini benar-benar tenggelam. Gelap mulai menyelimuti seluruh wilayah pantai ini. Aku menutup catatanku hari ini. Catatan yang semula putih bersih kini penuh goresan tinta kisah hidupku. Namun tak akan pernah catatan ini kuanggap catatan yang kotor. Hanya catatan kecil yang selalu ada di genggaman tanganku dan tak akan pernah lepas. Catatan seorang Ratih Dwi Kusuma.

"Gara-gara si Kembar" (2013)


“Tan, kamu mau nggak jadi pacarku?”
            Kata-kata itu masih terus terngiang di telingaku. Kata-kata yang singkat namun langsung mengena di hati. Kata-kata yang terlontar langsung dari bibir seorang cowok yang selama ini aku kagumi. Seorang cowok yang selama ini melindungiku bila ada bahaya mengancamku.
Rico. Itulah namanya. Nama yang paling sering aku sebut di hari-hariku sebulan terakhir ini. Dialah cowok terpopuler seantero SMA-ku di kota Jogja ini. Wajahnya manis, badannya tegap dan tinggi, menunjukkan suatu karisma yang membuat semua perempuan mabuk kepayang dibuatnya. Belum lagi dia adalah seorang komandan pleton dalam satu tim pleton inti di sekolahku. Tapi di balik perfeksionis yang melekat di dalam dirinya itu tidak membuatnya sombong dan angkuh. Itu yang paling aku sukai dari dirinya.
Kembali ke kata-kata yang terlontar untukku dari Rico. Satu kalimat pertanyaan yang amat sangat tidak aku sangka akan keluar dari mulut seorang cowok idola seantero SMA-ku, satu kalimat pertanyaan yang merasuki otak seorang cewek biasa aja seperti aku. Aku, Rachella Nathania, memang tidak terlihat cantik seperti cewek-cewek kebanyakan di sekolahku. Tapi mungkin aku termasuk cewek beruntung yang dapat merebut hati seorang cowok yang, notabene, seorang perfeksionis yang sangat digemari banyak cewek. Hahaha, aku tertawa sendiri.
Dan tentu saja, dari kata-kata Rico tadi, aku menerima cintanya. Itu bukan karena karismanya yang membuatku klepek-klepek dan bertekuk lutut di hadapannya, tapi semata aku memang mencintainya. Dia seseorang yang selalu melindungiku. Dan entah racun atau obat bius apa yang telah membuatku seperti ini. Yang jelas, aku mencintai hatinya. Bukan karismanya.
Seminggu telah berlalu sejak aku jadian sama Rico. Memang, sih, banyak yang sirik denganku yang berhasil merebut hati seorang cowok idola semua cewek di sekolahku. Bahkan sampai ada senior seangkatan Rico yang nglabrak aku. Tapi karena keberanian dan kenekatanku melawan senior demi membela diriku sendiri akhirnya senior itu takluk juga.
Malam itu malam minggu. Rico berencana ingin mengenalkanku dengan kedua orang tuanya. Awalnya aku ragu karena aku belum siap secara mental. Tapi dengan segenap usahanya akhirnya dia bisa meyakinkanku.
Sesampainya di rumahnya aku disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Rumahnya terletak di kawasan perumahan elite, tapi rumahnya yang paling sederhana kalau dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di komplek itu. Begitu dipersilakan masuk dan duduk, aku diserbu banyak pertanyaan tentang diriku, di mana tempat tinggalku, dari mana asalku, aku anak ke berapa dari berapa bersaudara, apa pekerjaan orang tuaku, dan masih banyak lagi. Terkadang ada juga pertanyaan yang membuatku bingung dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk menjawabnya. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 19.25, Mamanya yang seorang guru di suatu SD favorit se-Jogja itu menyuruhku makan malam bersama dengan keluarga Rico.
Aku berjalan membuntuti Rico yang berjalan di belakang Papanya, menuju ke ruang makan. Ruang makan yang berukuran sekitar 5x5 meter itu penuh dengan perabotan dapur bermerk. Di meja makan yang terletak di tengah-tengah ruangan itu duduk seorang cowok yang sangat mirip dengan Rico. Aku sudah mengenali sosok itu. Rio. Dialah saudara kembar Rico, seniorku pula. Wajah dan postur tubuh mereka sangat mirip. Hanya saja Rio sedikit dingin dan agak brutal. Rambutnya dibiarkan tumbuh asal dan acak-acakan, berbeda dengan Rico yang meskipun panjang rambutnya hampir menyentuh kerah bajunya tapi rambutnya selalu terlihat rapi dan teratur. Tidak terlalu ramah dengan cewek. Dia juga menjadi idola di sekolahku. Tapi sikapnya yang cuek terkadang membuat cewek-cewek di sekolahku takut mendekatinya, mengingat dia adalah seseorang yang tidak suka dikerumuni cewek-cewek.
Seperti biasa, Rio masih saja memasang tampang cueknya seperti yang dia lakukan di sekolah. Tapi di tampang cueknya itu, malam itu, sepintas terlihat seperti ada yang lain yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku yang duduk berhadapan dengannya mengamatinya lekat-lekat, mencoba membaca apa yang digambarkan dalam wajahnya. Ada suatu rasa ketidaksukaan yang terpancar di sana. Apa dia nggak suka kakau aku di sini? Aku berusaha mengusir pikiran negatif itu dan melanjutkan makan malamku bersama keluarga itu.

***

Sebulan berlalu. Aku dan Rico makin lengket saja. Membuat semua cewek di sekolahku iri padaku. Wajahku memang tidak cantik, tapi aku beruntung karena cowok seperti Rico bisa takluk denganku. Tak sedikit cewek fans Rico yang berpindah haluan mengejar Rio, dan ada beberapa yang beralih ke sang ketua OSIS, Yudha namanya. Orangnya memang biasa aja. Nggak ganteng tapi juga nggak jelek. Tapi sikapnya yang ramah banget sama semua orang akhirnya dia bisa juga menaklukkan beberapa cewek di sekolahku.
Sore itu langit mendung gelap. Sepertinya akan turun hujan lebat. Jam sudah menunjukkan pukul 15.54 saat aku tersadar bahwa langit mulai bergemuruh. Aku segera membereskan barang-barangku yang berserakan di atas meja baca di perpustakaan. Aku harus segera pulang.
Aku berjalan keluar perpus yang berada di lantai dua dan menuruni tangga ke lantai satu. Aku mempercepat jalanku agar aku tidak kehujanan saat pulang nanti. Aku melewati koridor lantai satu yang berdekatan dengan lapangan basket. Di cuaca gelap seperti ini terlihat anak-anak cowok masih bersemangat bermain basket. Awalnya aku mencoba tak acuh pada cowok-cowok itu, tapi karena pandanganku tertuju pada salah satu cowok yang sedang menikmati permainan itu aku mengurungkan niatku untuk langsung pulang. Aku mengira cowok itu adalah Rico pacarku, tapi setelah melihat rambutnya yang acak-acakan aku langsung mengenali sosok itu. Rio! Rio ternyata jago banget main basket! Terlihat dari cara bermainnya yang begitu gesit dan memukau. Wah.
Entah perasaan apa ini, aku ingin sekali memperhatikan wajahnya saat dia melepas topengnya. Melepas segala ‘atribut’ yang dia pakai sehari-hari di sekolah yang membuat cewek-cewek penasaran kenapa dia bisa nggak mau deket sama cewek. Bukan karena saat itu dia hanya bertelanjang dada agar bajunya tidak terkena keringatnya yang melimpah. Tapi sisi lainnya yang agak misterius.
Tanpa aku sadari hujan mulai turun. Perlahan hujan mulai deras, membuatku kecewa karena tidak bisa langsung pulang. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Sambil menunggu hujan reda aku menunggu di bangku depan kelas 10-6 yang tepat menghadap lapangan basket tadi. Seketika anak-anak yang sedang menikmati permainan basket mereka membubarkan diri karena hujan semakin lebat. Saat mataku mencari sosok Rio, ternyata cowok itu sudah menghilang entah ke mana. Sedikit kecewa, sih, karena aku tidak melihatnya lagi. Mungkin cowok itu udah pulang, pikirku.
Jam digital unguku menunjukkan pukul 16.39. Hujan masih saja belum reda. Aku biasa pulang sendirian naik bus. Tapi ini sudah terlalu sore, pasti tidah ada bus lagi yang lewat. Aku tekadkan niatku untuk berhujan-hujanan ria agar cepat sampai di rumah. Tapi saat aku hendak pergi dari tempatku duduk tadi, tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku, seakan mencegahku untuk pergi.
“Kamu mau ke mana?” tanya orang itu. Ternyata dia Rio!
“Pulang,” jawabku singkat.
“Naik apa?”
“Bus.”
“Tau nggak ini masih hujan? Mau kayak anak kecil? Nggak lucu, tau, kalau kamu sampai sakit cuma gara-gara hujan-hujanan.” Dia menatap mataku tajam.
Aku agak kaget dengan ucapan Rio. Kenapa dia jadi perhatian gini?
“Bukan urusanmu kalau aku sakit. Emang kamu siapaku?” Aku mulai sewot.
“Nggak usah belagu. Kamu pacarnya kakakku. Jangan kayak gitu. Kita tunggu sampai hujan reda.” Suaranya mulai melembut.
Entah, aku seperti terbius oleh kata-katanya barusan. Aku menurut saja dengannya. Aku kembali duduk di bangku tadi dan dia ikut duduk di kananku. Keheningan mulai tercipta di antara kami. Dia sudah larut dengan android-nya, entah apa yang dilakukannya dengan benda itu. Tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya yang mirip dengan Rico. Mereka memang saudara kembar yang sangat identik. Kalau rambut Rio tidak acak-acakan pasti orang akan sulit membedakan mana Rico dan mana Rio.
“Kenapa ngliatin aku? Suka, ya?” katanya tanpa menoleh ke arahku. Sepertinya dia mencoba untuk menggodaku.
Mukaku serasa memanas dan memerah. “Ih, ge-er amat, sih!? Siapa juga yang ngliatin kamu. Adanya nanti mataku kelilipan gara-gara ngliatin kamu!” Aku berusaha menyembunyikan mukaku, tapi mungkin dia sudah tahu seberapa merah mukaku.
Rio hanya tersenyum kecil. Tapi ada yang beda dari senyumannya itu. Senyuman yang tulus dan tidak terasa dibuat-buat, seperti yang biasa dia lakukan. Aku mulai tertarik dengan sosok Rio, saudara kembar pacarku ini. Rio yang dingin dan brutal kenapa bisa menunjukkan senyumannya yang beda di mataku?
“Hujannya udah reda. Aku anterin kamu pulang aja, yuk? Aku yakin jam segini udah nggak ada bus lewat.” Dia melirik arlojinya yang bermotif tentara itu. Jam digitalku pun memang sudah menunjukkan pukul 17.12. Jarang sekali ada bus yang lewat jam segini, bahkan hampir tidak ada. Aku mempertimbangkan tawarannya itu. Dan pada akhirnya aku menyetujuinya.

***

Dua bulan berlalu sejak hubunganku dengan Rico berjalan. Tapi beberapa hari yang lalu aku sempat bertengkar dengan Rico. Berita tentang Rio yang menawarkanku untuk pulang sama dia langsung menyebar ke seantero sekolah. Sontak berita itu membuat para fans Rio marah padaku. Dan sepertinya Rico pun agak cemburu. Itulah penyebab pertengkaran kami.
Malam ini malam minggu. Demi mengusir kejenuhanku karena konflikku dengan Rico, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran titik nol kilo meter kota Jogja. Aku sengaja pergi sendirian agar aku bisa sedikit menenangkan pikiranku yang semrawut. Ditemani motor matikku yang sudah aku ubah warnanya menjadi ungu dan bahan bakar yang full tank aku bersiap mengelilingi Jogja malam ini.
Suasana Malioboro sudah padat pengunjung. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap malam minggu Malioboro selalu macet. Tapi aku tetap menikmati pemandangan kemacetan ini. Aku menghentikan motor di depan Mal Malioboro dan memarkirkannya. Aku masuk ke McDonald dan memesan McFlurry. Setelah beres aku langsung pergi dan ingin menikmati es krimku itu. Tempat tujuanku adalah Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Sesampainya di sana aku menitipkan motorku di komplek Beteng Vredeburg lalu mencari tempat di dekat monumen yang terkena sinar lampu. Aku berhenti di tempat itu, duduk di seberang monumen dan membelakangi jalan raya lalu segera menikmati es krimku sebelum akhirnya meleleh tanpa sempat aku nikmati.
Dari tempatku duduk aku menikmati pemandangan sekitar yang ramai dipenuhi anak-anak muda. Ada yang nongkrong, foto-foto, bahkan ada juga yang mojok alias pacaran. Dari sekian pasangan yang mojok, ada satu pasangan yang duduk di sebelah timur monumen yang sangat menarik perhatianku. Sepasang muda mudi yang terlihat sangat bahagia menikmati setiap detik yang mereka lalui bersama. Tapi sepertinya aku sangat mengenali sosok si cowok itu. Seperti… Rico! Nggak, nggak mungkin itu Rico. Pasti itu Rio. Tapi hati nuraniku mengatakan bahwa itu Rico. Terlihat dari rambutnya yang rapi dan senyumannya yang khas. Aku mencoba mendekati pasangan itu diam-diam dan, benar saja bahwa cowok itu adalah Rico. Pacarku! Seketika aku syok ketika Rico memanggil cewek itu dengan sebutan ‘sayang’. Air mataku mulai meleleh. Aku keluar dari persembunyianku dan ingin menangkap basah mereka berdua. Seketika itu juga mereka yang aku pergoki tampak sangat terkejut, apalagi Rico. Air mataku terus menetes.
“Tan, ini nggak kayak yang kamu pikirin. Aku bisa jelasin semuanya.” Rico berusaha mendekatiku dan aku perlahan mundur selangkah demi selangkah. Tapi tak disangka, entah dari mana datangnya, muncul saudara kembarnya memukul wajah Rico.
“Kamu, tuh, keterlaluan banget, Ric! Aku kecewa banget sebagai saudaramu! Tega banget selingkuhin pacarmu sendiri yang selama ini kamu kejar-kejar! Ayo, Tan. Kita pergi dari sini!” Rio yang penuh dengan amarah dan emosi itu lalu menggandeng tanganku untuk pergi dari tempat itu. Sesaat adegan tadi sempat menjadi tontonan gratis orang-orang yang ada di sekitar situ.
Rio membawaku ke Pojok Beteng Wetan, tempat yang menjadi batas wilayah Kraton Yogyakarta. Di sana terlihat sepi pengunjung. Sepertinya dia sudah tahu kalau aku membutuhkan suatu tempat untuk menumpahkan segala emosi karena kejadian yang aku alami tadi.
“Kamu tadi, kok, tiba-tiba datang? Kamu tau kalo kakakmu di sana?” tanyaku sambil sesenggukan menahan tangis.
“Aku ngikutin dia,” jawabnya.
Aku memandangi wajahnya yang sedang tidak memperhatikan aku. Aku yang masih syok karena kejadian tadi terlihat sangat berantakan.
Dia pun menoleh. Mendapati diriku yang sedang memperhatikan wajahnya. Lalu katanya, “Kalau mau nangis, nangis aja sepuasnya, Tan. Aku tunggu sampai kamu puas nangisnya.”  Rio berjalan agak menjauh dariku agar aku dapat menenangkan diri. Tapi, entah mengapa, aku membutuhkannya. Sangat membutuhkannya.
“Rio,” panggilku, masih sambil terisak.
“Apa?” Dia menoleh.
“Kenapa harus kayak gini?” Tangisku semakin keras.
Rio terdiam. Dia tampak berpikir keras karena pertanyaan konyolku ini. “Ini semua salahku, Tan. Maafin aku.” Dia merengkuh tubuhku dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Sontak hal ini membuatku terkejut karena Rio melakukannya dengan tiba-tiba. Tapi aku membiarkannya melakukan hal ini, karena aku menjadi merasa sangat nyaman berada di pelukannya.
“Seharusnya sejak awal aku kasih tau kamu tentang Rico.”
Aku melepaskan pelukannya perlahan dan menatap matanya. “Ada apa sama Rico? Apa ada yang salah?” tanyaku dengan tatapan nanar.
“Kamu tau? Cewek tadi itu sebenernya cewekku. Mereka selingkuh. Aku tau tentang hal itu udah sekitar dua minggu yang lalu. Tapi aku memilih diam karena aku nggak tau harus gimana. Apalagi posisi kalian saat itu masih berantem.” Matanya menatapku dengan penuh penyesalan.
Lukaku semakin dalam kali ini. Seperti tersayat benda yang lebih tajam daripada benda yang paling tajam sekalipun. Kepalaku tertunduk dan tangisanku semakin keras. Aku seakan tidak percaya dengan kenyataan. Rio kembali merengkuh tubuhku dan membelai rambutku.
“Maafin aku, Tan. Jujur, aku sayang sama kamu. Sejak pertama kita ketemu. Tapi aku nggak tau gimana caranya deketin kamu. Sampai pada akhirnya aku keduluan Rico. Aku nyerah dan akhirnya aku cari cewek, tapi aku sama sekali nggak ada rasa sama tuh cewek. Aku bener-bener nyesel, Tan, maafin aku. Aku sayang sama kamu.”
Pengakuan Rio yang blak-blakan itu sontak membuatku terperangah. Sosok Rio yang selama ini aku kenal ternyata menaruh hati padaku. Sesaat aku melepaskan pelukannya dan menatap matanya lekat-lekat. Benar saja. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya ada ketulusan. Air mataku pun kembali meleleh.
“Rio, asal kamu tau. Entah sejak kapan aku mulai tertarik juga sama kamu. Kamu emang mirip banget sama Rico. Tapi aura yang kalian tunjukin beda banget. Aku ngrasa kalau di deket Rico biasa aja, tapi seketika berubah waktu kamu ada di deketku. Aku ngrasa kamu kayak cowokku beneran.” Akhirnya mulutku ini mengakui semuanya yang ada di hatiku.
Kali ini Rio yang terperangah mendengar pengakuanku. “Kamu serius, Tan?” tanyanya tidak percaya. Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Dan dia pun tersenyum lebar.
“Makasih, ya, Tan.” Dia kembali memelukku sebentar dan, bibir kami bertemu. Agak lama kami melakukannya. Lalu kami kembali berpelukan. Akhirnya, sejak saat itu aku mengerti arti ketulusan cinta yang sebenarnya. Berkat Rio. Gara-gara si kembar.

"Thank You" (2013)


DDRRTTT… DDRRTTT… DDRRTTT…
Handphone Dira bergetar tanpa suara. Saat itu ia sedang duduk-duduk di balkon kamarnya. Sesaat ia terkejut mendengar getaran handphone-nya. Ia segera meraihnya yang terletak di atas meja.
1 new message
Dibukanya isi sms itu yang ternyata dari Adi, kekasihnya.
Bs ktmuan skrg ga?
Dira pun berniat segera membalas pesan itu. Namun belum sempat ia menulis pesannya tiba-tiba Adi telepon. Tak butuh waktu lama Dira segera menjawab panggilan Adi.
“Halo?” sapa Dira.
“Ra, bisa ketemuan sekarang nggak?” tanya Adi dari seberang telepon, tanpa basa basi.
“Enghh, emang ada apa? Nggak biasanya mendadak banget gini,” balas Dira. Ia agak heran dengan kekasihnya yang satu ini karena tidak biasanya mengajak bertemu berdua dadakan begini. Dan lagi tidak biasanya juga Adi to the point.
“Ada yang harus aku omongin sama kamu, Ra.”
Sesaat detak jantung Dira berdegup kencang. Ada apa ya?, batin Dira. Perasaanku nggak enak, deh.
“Mmhhh, bisa sih, Di. Mau ketemuan di mana?” tanya Dira kembali, jantungnya masih berdegup kencang.
“Di kafe yang biasa kita tongkrongin berdua, ya? Aku udah nunggu di sini.”
“Oke lah. Aku segera ke sana.”
“Oke, nggak usah buru-buru.”
“Iya.”
“Ya udah, sampai ketemu nanti di kafe.”
“Yaa.”
Telepon terputus. Dira mulai khawatir. Apa yang sebenarnya ingin Adi bicarakan? Batinnya tak menentu saat itu. Namun ia segera menepis pikiran buruk itu dan bergegas untuk bersiap-siap dan berangkat.
Sampailah Dira di kafe tempat ia dan kekasihnya janjian. Jantungnya makin berdegup keras ketika matanya sudah menemukan di mana Adi duduk, di pojok ruangan yang biasa mereka tempati saat mereka mengunjungi kafe itu. Tanpa menunjukkan rasa kekhawatirannya ia pun segera menghampiri bangku Adi.
“Di?” sapa Dira, sedikit ragu-ragu.
“Eh? Dira. Udah lama?” balas Adi, kali ini ia nampak agak basa basi. Hati Dira pun sedikit lega.
“Barusan, kok.”
“Oh iya, duduk, duduk.” Ia bangkit berdiri dan menarikkan kursi yang ada di hadapan kursinya supaya Dira duduk di kursi yang ditariknya itu.
“Makasih, Di.”
Mereka pun duduk berhadapan.
“Oh iya, kamu mau pesan apa?” Adi memecah keheningan di antara mereka.
“Aku coffee latte aja, deh,” kata Dira.
“Oke. Mbak, satu coffee latte sama satu black coffee, ya?” pesan Adi pada waitress cantik yang sudah berdiri di samping meja mereka.
“Baik, Mas. Satu coffee latte dan satu black coffee segera diantar,” kata waitress itu dan akhirnya berlalu dari mereka.
Mereka terdiam lama. Hening. Tak ada yang berbicara sedikit pun. Adi sibuk dengan buku ensiklopedia yang ia bawa. Dira hanya berkutat pada handphone-nya, namun pikirannya melayang jauh. Tak lama kemudian sang waitress cantik tadi pun datang memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Makasih, Mbak,” kata Adi.
“Sama-sama, Mas, Mbak. Silakan dinikmati, permisi.” Waitress itu segera menghilang. Mata Dira tak lepas memandanginya sampai waitress itu menghilang ke belakang.
Adi berdehem sedikit. “Ra, aku mau ngomong serius sama kamu.” Tampak ada keraguan di wajahnya.
Dira mulai mengumpulkan mentalnya. “Iya, apaan, Di? To the point aja.” Jantungnya berdegup semakin keras.
“Hah, ini berat banget. Sepertinya, untuk saat ini aku nggak bisa tanggung jawab atas anak hasil perbuatan kita beberapa waktu yang lalu.”
Bagai tersambar petir. Dira pun terkejut setengah mati. Apa yang ia dengar kali ini sungguh di luar dugaannya. “Di, kamu bercanda, kan? Kamu, kan, udah janji sama aku kalau kamu mau tanggung jawab kalau aku akhirnya hamil anakmu.” Suara Dira bergetar.
“Aku nggak bercanda, Ra. Liat, nih, kedua mataku. Apa aku kelihatan bohong? Kamu tau, aku dijodohin sama anaknya temennya Mamaku dari Semarang. Kamu kira aku nggak ada usaha? Itu semua aku lakuin karena Mamaku pengen liat aku nikah sama cewek yang dipilihin Mamaku. Kamu juga tau udah separah apa penyakit Mamaku. Aku nggak tega. Aku bingung banget mau pilih antara Mamaku atau anakku.” Mata Adi pun mulai berair.
Dira terpaku. Mulutnya seakan tak dapat mengucapkan kata-kata karena shock. Ia tak menyangka jika ia harus mendapatkan cobaan ini.
“Ra, aku harap kamu mau kasih aku kesempatan buat nyenengin Mamaku. Setelah semuanya selesai aku pasti akan bertanggung jawab buat anak kita yang sedang kamu kandung itu,” harap Adi.
Tatapan Dira kosong. Ia masih belum percaya dengan keputusan kekasihnya itu. Lalu katanya, “Apa kamu nggak bilang sama Mamamu kalau aku hamil?”
“Ra, kalau kamu jadi aku apa kamu tega kasih tau Mamamu kalau kamu udah menghamili seorang wanita sedangkan Mamamu lagi sakit parah?” balas Adi. “Nggak akan lama, aku bakal segera balik lagi buat tanggung jawab.”
Dira meneguk coffee latte-nya sampai habis dan segera berpamitan dengan Adi. “It’s OK. Lumayan keterlaluan, ya, kelakuanmu ini. Eh, aku langsung pamit aja, deh. Aku baru inget kalau aku ada acara sekarang. Maaf, ya. Permisi. Oh iya, semoga kamu bahagia. Doakan semoga aku bisa pelihara anakmu ini sendirian.” Dira pun berlalu sambil melontarkan senyum manisnya untuk menutupi hatinya yang sudah tercabik-cabik. Mata Adi tak lepas memandangi kepergian Dira keluar dari kafe.
Kamu nggak ngerti gimana hancurnya hatiku karena kamu, Adi, jerit Dira dalam hati. Dengan ditemani motor matiknya ia menangis sepanjang perjalanan menuju ke tempat yang biasa ia datangi sejak kecil saat ia ingin menyendiri; pantai.
***
“Sof, kamu nggak apa-apa, kan? Sof?”
“Hah? Apaan?” Sofie kebingungan.
“Kamu bengong, ya?” tanya Rara, sahabat Sofie.
“Ah, enggak kok. Siapa bilang aku bengong?”
“Keliatan tau dari gelagatmu.”
Sofie terdiam. “Aku nggak apa-apa, kok, Ra. Santai aja.”
“Ya udah, itu makananmu dihabisin dulu. Mubazir kalau nggak dimakan, kalau nggak dimakan sama aja buang rezeki.”
“Iya, iya.” Sofie kembali melahap nasi gorengnya yang tadi sudah dipesan.
Malam itu Sofie dan Rara berencana pergi belanja ke mal Malioboro. Sebelumnya mereka mampir ke sebuah warung makan lesehan di dekat Alun-alun Utara. Saat makanan Sofie habis, Rara mencoba memancing Sofie untuk menceritakan tentang apa yang dilamunkannya tadi.
“Eh, kamu tadi ngelamunin Fino, ya?” tanya Rara.
Sofie tersedak es jeruk yang sedang diminumnya karena ia terkejut dengan pertanyaan sahabatnya.
“Hah? Fino? Emang kenapa aku harus ngelamunin Fino?” balas Sofie sambil mengatur nafas.
“Yaa, siapa tau kamu tadi ngelamunin dia gitu. Kan, kamu lagi deket sama Fino.”
“Aku deket cuma sekedar temen, Ra. Nggak lebih. Lagian kita deket juga cuma karena kita sekelas.”
“Tapi, aku ngrasain ada yang beda dari dia, Sof. Dia kayaknya suka sama kamu, deh.”
“Ah ngaco kamu.”
Entah ada angin apa, yang mereka bicarakan pun muncul. “Lah lah lah, itu, kan, Fino!” seru Rara hampir tanpa suara. “Panjang umur dia!”
Sofie mencari-cari sosok yang dilihat sahabatnya itu. “Ah, iya. Kok, panjang umur, ya?”
Lha, kok, sama cewek?” Rara melihat Fino sedang bersama seorang perempuan cantik. Dengan setelan tank top putih di dalam balutan cardigan biru tua dan celana jeans hitam membuatnya tampak seperti perempuan kalem.
“Aku bilang juga apa, nggak mungkin dia suka sama aku. Orang dia juga udah punya gandengan gitu, keliatan mesra juga. Serasi tuh mereka,” kata Sofie cuek. Apa bener itu ceweknya?, tanya Sofie dalam hati.
“Kamu nggak panas, kan, Sof? Hihihi,” goda Rara sambil senyum-senyum.
“Panas apaan?? Orang jelas-jelas aku nggak suka sama dia,” bantah Sofie, mukanya agak memerah.
“Eh, kalian pada di sini, toh? Aku baru liat.” Suara Fino mengejutkan Sofie dan Rara.
“Eh? Hai, Fin. Kok, tumben ke sini?” Rara basa basi. Sofie hanya terdiam.
“Iya, nih. Pengen mampir makan aja ke lesehan gini. Oh iya, kenalin, ini adikku. Sheil, ini temen-temenku.”
Sheilla mengulurkan tangan ke arah Rara. “Sheilla.”
“Rara.” Rara membalasnya.
Kembali Sheilla mengulurkan tangannya, kali ini ke arah Sofie. “Sheilla.”
“Sofie.”
“Eh, boleh, kan, kami duduk di sebelah kalian?” tanya Fino.
“Silakan, silakan. Masih longgar juga,” kata Rara.
Fino dan Sheilla tersenyum, lalu duduk. Fino sengaja duduk di sebelah Sofie, sedangkan Sheilla duduk di sebelah Rara. Sementara menunggu pesanan datang, Fino mencoba mengajak Sofie mengobrol. Sheilla sudah asyik mengobrol dengan Rara.
“Udah lama di sini?” Fino basa-basi.
“Lumayan, satu jam kayaknya,” balas Sofie.
“Emang kalian mau ke mana? Kok, pada cantik gitu dandanan kalian?”
“Yee! Emang kalau cewek nggak boleh tampil cantik? Kalau kamu yang tampil cantik entar kamu dikatain ‘bencong’.”
Sekilas Sofie tersenyum kecil, dan Fino sempat memperhatikan senyuman Sofie. Kamu nggak dandan pun tetep cantik, kok, Sof, puji Fino dalam hati sambil tersenyum.
“Trus, abis ini acara kalian mau pada ke mana?” tanya Fino.
“Mau ke mal. Tuh, si Rara yang ngrengek minta ditemenin. Mau cari boneka dia,” jawab Sofie.
“Sambil mejeng, ya?” Iseng, Fino mencoba menggoda Sofie.
“Enak aja, emang aku cewek apaan!”
“Hahaha, siapa tau."
Rara berdehem agak keras, sedikit menyindir Sofie dan Fino yang dari tadi asyik ngobrol. “Sof, udah hampir jam setengah delapan, nih. Buruan, yuk. Nanti kemaleman,” katanya sambil melirik Fino.
“Iya, iya. Ya udah, kami duluan, ya, Fin, Sheil.” Sofie berpamitan pada kedua kakak beradik itu.
“Oke, ati-ati, ya, Sof,” pesan Fino.
“Trus aku nggak diucapin, nih??” sindir Rara sambil ndowerin bibirnya.
“Hahaha. Iya, ati-ati juga, ya, Raratu Ndower.” Fino mengejek.
“Huh, dasar cowok. Ya udah kita pergi dulu.”
Sesaat Sheilla memperhatikan kakaknya. Wajah tampan kakaknya itu terlihat sedikit sumringah. Ia ingin mencoba mencari tahu tentang perasaan kakaknya itu.
“Mas, kamu suka sama Sofie, ya?” selidik Sheilla.
“Eh, enggak! Siapa bilang?” sanggah Fino. Sesaat mukanya memerah.
“Matamu lah, Mas. Kamu kira aku nggak tau?”
Fino terdiam. Mencoba mendalami perasaannya sendiri. “Iya, aku suka sama dia,” katanya sambil tersenyum.
“Udah sampai cinta?”
“Mungkin udah, Sheil.”
“Sejak kapan?”
“Hah? Apanya?”
“Perasaan sukamu.”
“Sejak pertama aku kenal dia.”
“Wah, udah hampir tiga tahun kamu pendam perasaanmu, Mas?? Kalian ketemu waktu awal kuliah, kan?”
“Kayaknya. Tiga tahun nggak kerasa.”
“Lama juga, ya? Trus kenapa kamu nggak tembak dia, Mas?”
Fino menghela nafas kecil. “Aku belum berani, Sheil. Aku nggak tau gimana perasaannya ke aku. Sebenernya aku rencana nembak dia setelah lulus nanti.”
“Selama itu, Mas?? Apa kamu nggak takut kalau dia nanti diambil orang?”
“Kalau dia diambil orang, aku bakal nunggu dia aja. Aku yakin sama cintaku sekarang.”
“Mas, kamu, kan, cowok. Masa’ nggak berani nembak cewek, sih?”
“Bukan nggak berani, Sheil. Aku ngrasa kurang tepat aja waktunya. Lagian, aku nggak tau gimana perasaannya ke aku. Aku belum bisa nerima ‘sinyal’ dari dia.”
“Apa harus dapet ‘sinyal’ dulu baru berani nembak, Mas?”
Fino terdiam. Ia melihat ke dalam lubuk hatinya tentang perasaannya terhadap Sofie, perempuan yang selama ini ia cintai. Dari dalam hatinya ia ingin sekali mengungkapkan perasaan cintanya yang selama ini ia pendam. Namun, hatinya juga masih ragu. Ada yang sedikit mengganjal di dalam hatinya.
“Mas? Kok malah bengong, sih? Jangan-jangan kamu tadi nggak dengerin omonganku?” kata Sheilla mengagetkan Fino dari lamunannya.
“Eh, aku dengerin, kok,” balas Fino. “Ya udah, besok kalau aku udah siap aku bakal bilang ke dia kalau aku sayang sama dia.”
“Cuma bilang? Kenapa nggak nembak sekalian, Mas?”
“Iya, maksudku nembak gitu.”
“Nah, gitu, dong. Kalau gitu, kan, jadi keliatan kalau kamu bener-bener Masku. Hahaha.”
Sebenernya aku nggak yakin sama hatinya Sofie, Sheil, batin Fino.
***
Malam itu Sofie terlihat sangat lelah. Ia baru saja pulang dari kampus untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Setelah membersihkan badan ia segera pergi ke ruang makan karena Mamanya sudah menunggu di sana.
“Gimana kuliahmu hari ini?” tanya Mama.
“Melelahkan, Ma. Tugasku banyak banget. Tadi aja sebenernya belum kelar,” jawab Sofie.
“Ya udah, kamu jangan terlalu capek dan stres, ya? Inget pesen doktermu kemarin.”
“Iya, Ma. Oh iya, piringnya biar aku yang cuciin, ya?”
“Udah nggak usah, biar Mama aja yang cuci. Kamu istirahat aja.”
“Alah, Ma. Ya udah aku bantuin Mama nyuci, ya?”
“Udah sana kamu istirahat aja. Nggak usah bantuin Mama.”
“Yaelah, Ma. Ya udah, deh. Aku ke kamar dulu, ya, Ma.”
“Iya, Sayang. Met istirahat, ya?”
“Iya, Ma.”
Sofie merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Ia memandangi langit-langit di kamarnya. Pikirannya mulai menerawang jauh. Ia teringat kembali dengan Papanya yang sudah meninggal karena kecelakaan, saat ia masih berusia lima belas tahun. Kala itu ia merengek minta dibelikan sepeda seperti teman-temannya. Saat Papanya sedang dalam perjalanan ke rumah setelah membeli sepeda untuk Sofie karena Papanya ingin memberinya kejutan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak Papanya yang saat itu juga langsung meninggal di tempat kejadian. Setelah mendapat kabar buruk itu Sofie dan Mamanya langsung menuju ke rumah sakit tempat Papanya diautopsi. Dan setelah mendengar kronologi kejadian, dan melihat sepeda yang baru saja dibeli Papanya yang masih terikat pada sepeda motor meskipun sudah agak hancur, Sofie menangis sejadi-jadinya karena ia sangat menyesal sudah merengek-rengek minta dibelikan sepeda.
Air mata Sofie mulai menetes. Ia sangat merindukan sosok Papanya yang sangat ia banggakan. Dan ia kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam.
“Kalau Papa masih hidup, pasti Papa kecewa banget sama aku,” katanya sambil menangis. Setelah lama menangis sampai sesenggukan, akhirnya Sofie pun tertidur.
***
Sof, mau ak jemput ga?
Begitulah isi sms dari Fino yang masuk di handphone Sofie. Ia segera membalasnya.
Ga ah, Fin. Ak mau nyekar dlu k makam Papaku.
Oh. Biar ak anter, y?
Yg bener, Fin?
Iya, Sof. Ak k rmhmu skrg, y?
Ok lah.
Tak lama kemudian Fino sampai ke rumah Sofie. “Udah siap?” tanyanya.
“Udah, Fin. Yuk, berangkat. Ma, aku berangkat dulu, ya?” kata Sofie sambil mencium tangan Mamanya.
“Iya, Sayang. Ati-ati, ya?” pesan Mama.
“Pamit berangkat dulu, Bu.” Fino ikut-ikutan mencium tangan Mama Sofie.
“Iya, Nak. Kamu jagain Sofie buat Ibu, ya?” pesan Mama pada Fino.
“Pasti, Bu,” jawab Fino sambil tersenyum. Lalu mereka berdua berangkat.
“Fin, beli bunga dulu di Pasar Beringharjo, ya?” kata Sofie. Setelah membeli bunga mereka pun segera ke pemakaman tempat Papa Sofie dimakamkan.
“Ini makam Papamu, Sof?” tanya Fino setelah mereka sampai di nisan Papa Sofie.
“Iya, Fin,” jawab Sofie.
“Terawat banget.”
“Aku sama Mamaku yang selalu bersihin nisan ini. Karena kami cuma hidup berdua makanya kami sering ke sini.”
Fino termenung memandangi nisan Papa Sofie. Lalu memperhatikan wajah Sofie saat menabur bunga di atas nisan.
“Kamu mau ikut naburin bunga?” tanya Sofie.
“Enghh, boleh,” jawab Fino. Ia pun merauk bunga dari keranjang.
“Pa, Mama nggak bisa ikut karena Mama jatah ‘bulanan’. Mama cuma nitip salam aja buat Papa. Oh iya, kenalin. Ini temenku, namanya Fino. Dan Fino, kenalin. Ini Papaku,” kata Sofie. Fino pun memperhatikan wajah Sofie yang sudah mulai menangis.
“Yang sabar, ya, Sof. Papamu udah bahagia di surga sana. Kalau kamu sedih Papamu juga ikut sedih,” hibur Fino.
“Penyesalanku kayak belum ilang, Fin. Aku semalem keinget lagi sama Papa. Aku pengen Papa pulang,” katanya sambil menangis.
Fino tak kuasa melihat Sofie menangis. Lalu katanya, “Ya udah, kita sama-sama berdoa aja semoga Papamu tetep bahagia di surga.” Mereka pun memanjatkan doa kepada Tuhan. Melihat Sofie masih tetap menangis, Fino mencoba merengkuh tubuh Sofie dan Sofie tak menolaknya. Bahkan Sofie merasakan ada kehangatan yang mengalir di dalam tubuhnya. Ia ingin ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya di kala ia sedang sedih. Dan akhirnya ia menemukan siapa orang itu; Fino.
“Makasih, ya, Fin, udah mau nganterin aku ke makam Papaku dan mau dengerin isi hatiku,” kata Sofie sambil tersenyum.
“Nggak masalah, Sof. Aku malahan yang harus berterimakasih sama kamu karena kamu udah nyadarin aku betapa pentingnya kehadiran seorang Ayah dalam kehidupanku. Bahkan tadi aku sempat nangis karena doain Ayahku,” cerita Fino.
Sofie tersenyum meskipun air matanya masih mengalir. “Fin, boleh aku peluk kamu lagi?” tanyanya agak malu-malu.
“Eh? Enghh, boleh, Sof.” Muka Fino agak memerah. Sofie pun merengkuh tubuh kekar Fino.
“Aku seneng bisa kenal kamu, Fin. Oh iya, abis kuliah siang ini, aku traktir kamu makan, ya?” kata Sofie, setelah mereka saling berpelukan.
“Ah, nggak usah, Sof. Kalau mau makan biar aku aja yang bayar,” kata Fino.
“Biarin, aku aja yang bayar. Anggep aja ini ucapan terima kasihku. Biar Papaku juga seneng.”
“Yaelah, Sof. Ya udah, deh.”
“Pa, kami pamit dulu, ya?” Sofie berpamitan dengan batu nisan Papanya. Lalu mereka pun pergi dari pemakaman menuju ke kampus.
***
“Kamu mau makan di mana, Fin?” tanya Sofie, saat mereka dalam perjalanan setelah kuliah siang.
“Terserah kamu aja, Sof. Aku ngikut aja,” jawab Fino.
“Enghh, ke restoran Jepang biasanya aja, yuk. Aku lagi pengen ramen, nih.”
“Oke.” Meluncurlah mereka ke restoran Jepang langganan mereka. Sesampainya di sana dan mencari bangku mereka segera memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengobrol sedikit.
“Sof, ngomong-ngomong, aku liat kamu nggak pernah jalan sama cowok. Apa kamu belum punya calon suami?” tanya Fino.
Raut muka Sofie berubah masam. Ia memandangi Fino sesaat, lalu katanya, “Aku lagi nggak pengen ngomongin cowok, Fin. Maaf.”
Fino merasa sangat bersalah saat melihat raut wajah Sofie dan mendengar jawabannya. “Aku minta maaf, Sof. Aku nggak bermaksud gitu.”
“Nggak apa-apa, kok, Fin.”
Setelah menghabiskan makanan mereka pun segera pulang. Sesampainya di rumah Sofie, Fino kembali berusaha meminta maaf.
“Udah, nggak apa-apa, Fin. Lupain aja masalah tadi, aku kayak gini juga karena kurang enak badan,” kata Sofie saat Fino kembali mencoba kembali meminta maaf. “Ya udah kamu pulangnya ati-ati, ya?”
“Enghh, ya udah aku pamit dulu, ya, Sof,” kata Fino, masih dengan rasa bersalahnya. “Sekali lagi aku minta maaf.”
“Iya, Fin.”
Fino pun berlalu. Sofie berlari masuk ke kamarnya. Mama yang sedang duduk di ruang tengah tak dihiraukannya.
Ia pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia menangis menumpahkan semua isi hatinya. Mama yang heran dengan sikap anaknya itu mencoba menguping dari luar pintu kamar. Terdengarlah suara sesenggukan Sofie. Dan Mama pun hanya bisa memaklumi apa yang sedang terjadi pada anaknya.
“Kamu bikin aku keinget sama masa laluku, Fin,” tangisnya.
***
Pagi-pagi benar Fino sudah sampai di kampus. Ia berniat menemui Sofie karena ia tahu bahwa Sofie biasanya berangkat paling awal jika ada kuliah pagi. Ia menunggu di bangku halaman kamnpusnya. Namun sudah setengah jam berlalu, yang ditunggu pun tak kunjung datang. Pengen telfon, tapi takut, batinnya. Rara yang baru saja datang dan langsung melihat Fino sendirian di bangku halaman, mendekatinya.
“Fin, kamu nungguin siapa?” tanya Rara.
“Eh, Rara. Anu, aku lagi nungguin Sofie. Kamu nggak bareng dia?” balas Fino.
“Enggak, tuh. Tadi, sih, mau aku sms tapi nggak jadi.”
“Kenapa nggak jadi? Siapa tau dia pengen bareng kamu.”
“Kalau dia mau bareng aku pasti dia sms. Soalnya dia pernah bilang sama aku kalau dia nggak sms berarti dia nggak bareng aku, gitu.”
Fino terdiam. Ketakutan mulai menghantui dirinya. Ingin rasanya Sofie benar-benar mau memaafkannya karena ia sangat merasa bersalah.
“Kamu lagi berantem sama Sofie?” tanya Rara.
“Eh, enggak, kok. Aku nggak berantem sama dia,” sanggah Fino. “Eh, ke kelas, yuk. Kayanknya kuliahnya udah mau dimulai.”
Kuliah pagi waktu itu segera dimulai. Dosen dan para mahasiswa sudah berkumpul di dalam ruangan kuliah. Fino masih celingukan mencari sosok Sofie yang belum terlihat. Saat kuliah sudah berjalan setengah jam, terdengar suara pintu ruangan diketuk oleh seseorang. Dan ternyata orang itu adalah Sofie.
“M, maaf, Pak. Saya terlambat,” katanya sambil mengatur nafas karena berlari.
“Sofie, ke mana aja kamu? Kenapa baru datang? Nggak biasanya kamu terlambat gini,” tanya sang Dosen.
“Maafkan saya, Pak. Tadi saya harus membantu orang tua saya jadi saya terlambat.”
“Ya sudah saya ijinkan kamu masuk. Tapi lain kali kamu nggak boleh terlambat.”
“Terima kasih, Pak.” Ia pun segera mencari bangku kosong. Fino terus memandanginya sampai pada akhirnya mata mereka beradu pandang. Setelah sadar Sofie hanya tersenyum lalu segera memalingkan muka pada Dosen.
***
Usai kuliah pagi itu Sofie berniat pergi ke rumah sakit menemui dokter pribadinya. Namun Fino sudah lebih dahulu mengajaknya pergi makan berdua.
“Sof, sekarang kamu nggak ada acara, kan? Aku pengen makan berdua sama kamu,” kata Fino.
“Eh? Enghh, bisa, kok, Fin,” kata Sofie.
Fino memandangi wajah Sofie yang sedikit pucat. Lalu katanya, “Kamu sakit, Sof? Kok, mukamu agak pucet gitu? Tadi kamu udah sarapan belum?”
“Oh, ini. Iya mungkin karena aku belum sarapan tadi, jadi agak pucet gini, Fin.”
“Ya udah kita langsung makan aja, yuk. Takutnya nanti perutmu sakit.”
Usai makan wajah Sofie pun kembali segar dan kembali mengobrol dengan Fino, teman sekelasnya yang mengaguminya.
“Jadi, kamu mau maafin aku nggak, Sof?” tanya Fino sedikit malu-malu.
“Iya aku udah maafin kamu, kok, Fin,” kata Sofie sambil tersenyum.
“Sof, aku boleh ngomong sesuatu?”
“Apaan, Fin?”
“Aku, aku sayang sama kamu, Sof. Sejak pertama kita ketemu di kampus.”
Sofie terperangah. Ia tidak menyangka bahwa ia akan mendapat kejutan seperti ini. Lalu Fino pun melanjutkan kata-katanya.
“Aku nggak tau kenapa aku jadi tergila-gila kayak gini sama kamu. Padahal aku nggak pernah ngrasain kayak gini. Hampir tiga tahun aku menahan perasaanku ini karena aku takut buat bilang sama kamu, karena aku nggak yakin kalau kamu bakal mencintaiku. Tapi sekarang aku pengen bilang ke kamu kalau aku sayang banget sama kamu. Kamu tau, Ayah, Ibu, dan Sheilla udah ngrestuin kalau aku sama kamu. Aku pengen kamu jadi istriku. Apa kamu mau nerima lamaranku? Walaupun kamu nggak bisa nerima aku, aku pasti bakal tetep nungguin kamu sampai kamu mau nerima aku. Aku bakal selalu mencintai kamu.”
Sofie memutar otak. Kenapa kamu harus sayang sama aku, Fin?, batinnya.
“Enghh, Fin, maaf. Aku belum bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu buat mikir, ya?” pinta Sofie.
“Oh, ya udah nggak apa-apa, kok, Sof. Lebih baik emang dipikirin dulu.”
“Ya udah, aku mau pulang, Fin. Takutnya Mamaku nyariin.”
“Aku anterin, ya?”
“Nggak usah, Fin. Aku, kan, bawa motor sendiri.”
“Enghh, ya udah, deh. Tapi kamu ati-ati, ya?”
“Iya, Fin. Aku duluan, ya?”
“Iya.”
Sofie pun berlalu dari rumah makan itu, menuju ke halaman parkir lalu pergi dengan motor matiknya. Fino berusaha membuntuti Sofie dengan motornya dari belakang. Sesampainya di rumah Sofie membiarkan motornya di depan rumahnya lalu masuk ke dalam rumahnya. Fino terdiam melihat tingkah aneh Sofie. Apa Sofie nggak cinta sama aku, ya?, batinnya.
***
Sofie masuk ke kamarnya sambil menangis. Kali ini hatinya benar-benar kacau. Pernyataan Fino lah yang sudah membuatnya seperti ini. Ia ingin melupakan segalanya, ia bertekad akan menjauh dari laki-laki yang berusaha mendekatinya. Saat ia masih di tengah-tengah isakannya terdengar suara pintu depan diketuk. Karena Mama sedang pergi akhirnya ia berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Begitu terkejutnya ketika ia mengetahui siapa sang tamu yang berkunjung ke rumahnya.
“Dira? Kamu Dira, kan?” kata sang tamu.
Sofie ternganga. Ia benar-benar terkejut karena masa lalunya kini kembali, masa lalunya - saat masih menjadi Dira - yang telah menghancurkan masa depannya; Adi.
“Adi?” sebutnya.
Adi tersenyum lega. “Ternyata kamu masih inget sama aku, Ra,” katanya.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Sofie ketus.
“Aku pengen ngobrol sama kamu, Ra. Aku kangen banget sama kamu. Boleh aku masuk?”
Sofie, alias Dira, berfikir sejenak. Lalu mempersilakan Adi masuk ke dalam rumahnya.
“Rumahmu udah agak beda, ya, Ra. Lebih unik sekarang,” puji Adi setelah dipersilakan duduk.
“Nggak, kok. Masih kayak dulu,” kata Dira. “Terus, apa tujuanmu ke sini?”
“Ah, aku, jujur aku kangen kamu, Ra. Udah lama banget kita nggak ketemu. Aku cari lagi rumahmu ini, ternyata kamu masih di sini. Aku bersyukur banget masih dikasih kesempatan buat ketemu kamu.”
Dira hanya diam, mengamati gerak-gerik Adi. Ia sangat waspada dengan mantan kekasihnya itu. Ia takut jika tiba-tiba Adi menyerangnya. Lalu katanya, “Istrimu mana?”
Adi menatap mata Dira. Lalu ia berusaha menjelaskan semuanya. “Aku cerai sama istriku karena akhirnya Mamaku meninggal. Kami nggak pernah saling mencintai. Tidur seranjang pun kami nggak pernah. Aku tau kalau dia punya pacar yang dia cintai. Dan dia juga tau kalau aku cinta sama cewek lain yang saat itu lagi hamil anakku. Sebenernya aku ke sini pengen nepatin janjiku, Ra. Aku pengen nikahin kamu karena anak kita. Oh iya, anak kita sehat, kan, Ra? Di mana dia? Aku pengen ketemu anakku.”
Dira menatap Adi lekat-lekat. Air matanya mulai mengalir. Adi jadi serba salah. “Anakmu udah mati di dalem perutku waktu umur kandungannya lima bulan,” katanya. Ia pun menutup mukanya dan menangis.
Kali ini Adi yang ternganga dan tidak percaya. “Kamu bercanda, kan, Ra? Nggak mungkin kamu sampai keguguran,” katanya.
Dira masih tetap menangis. Ia yang sudah mulai bangkit dari keterpurukan kini jatuh lagi di kala Adi datang kembali. Ia sangat menyesali tindakan yang dilakukan dengan Adi di masa lalunya yang membuat masa depannya hancur. “Lebih baik kamu pergi dari sini, Di. Aku nggak mau liat mukamu lagi,” katanya sambil berdiri, memberi aba-aba agar Adi segera pergi dari rumahnya.
“T, tapi, Ra, aku,” sanggah Adi, berusaha menenangkan Dira.
“Keluar sekarang juga!”
Adi menyerah. Ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari rumah Dira tanpa kata, hatinya amat pedih karena ia diusir Dira dan kehilangan anaknya juga.
Dira kembali masuk ke dalam kamarnya. Air matanya tumpah semua. Ia meluapkan isi hatinya dengan menangis sejadi-jadinya di kamarnya.
***
Malam itu Dira sendirian di rumah. Mama sedang pergi ke rumah temannya. Ia berusaha melawan rasa sakit di dadanya yang sedari tadi menyerang. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu depan. Ia bersyukur karena ada yang menemaninya malam itu. Saat pintu dibuka ternyata Fino yang bertamu.
“Sof, kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya.
“Aku nggak apa-apa, kok. Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?” tanya Dira.
“Nggak. Aku liat tadi kamu didatengin sama cowok, gitu. Siapa dia?”
Dira kembali teringat dengan Adi. “Ah, bukan siapa-siapa, kok, Fin. Eh, duduk dulu.”
Fino tidak menyadari sakit yang diderita Dira saat itu. “Iya makasih, Sof. Aku di teras aja.”
“Ada perlu apa kamu ke sini?”
“Enghh, aku cuma mastiin kalau kamu baik-baik aja, Sof.”
“Aku nggak apa-apa, kok, Fin.”
“Terus, kamu udah ada jawaban buat lamaranku tadi belum, Sof?”
Dira terkejut. Dadanya semakin sakit. Memori masa lalunya terbuka kembali. Ia tak ingin membicarakannya sekarang.
“Sof? Pasti kamu udah ada jawaban, kan?” Fino mengejar.
Dira terdiam sejenak. Lalu katanya, “Mending kamu pergi jauh-jauh dari aku, Fin.”
Fino terkejut dengan kata-kata Dira. “M, maksudmu apa, Sof?”
“Aku benci sama semua cowok, tau nggak!? Mereka semua sama brengseknya! Mereka nggak punya perasaan! Tega banget ninggalin ceweknya yang mengandung anaknya! Fin, asal kamu tau, cowok yang tadi siang ke sini, tuh, mantanku yang pernah menghamili aku tapi dia nggak mau tanggung jawab sampai aku keguguran!”
Fino terkejut bukan main. Ia tak menyangka bahwa perempuan yang selama ini dicintainya mengalami nasib seburuk itu. Lama ia terdiam, akhirnya Dira mengusirnya.
“Pergi dari sini!” bentak Dira sambil berlari ke dalam rumahnya dan mengunci pintu. Fino berusaha mengejarnya namun gagal.
“Sof, biarin aku ketemu kamu dulu. Aku cinta sama kamu, Sof. Please.” Fino memohon. Rasa sakit di dada Dira semakin menjadi. Dan pada akhirnya Dira pun pingsan.
***
Suasana di salah satu ruang perawatan di sebuah rumah sakit terkenal di Jogja sangat hening. Hanya ada satu pasien yang dirawat meskipun ada satu tempat tidur lagi untuk pasien lain, dan satu orang yang menemani sang pasien. Dira, sejak kejadian pingsan malam itu, dirawat di rumah sakit tersebut. Ia dilarikan saat Fino mengetahui bahwa ia pingsan saat Fino mengintip ke dalam melalui jendela rumahnya.
Fino memandangi wajah pucat Dira, perempuan yang selama ini ia kenal dengan nama Sofie. Hatinya tetap mencintai perempuan yang ada di hadapannya saat itu meskipun ia sedikit kecewa dengan masa lalunya. Ia akhirnya mengetahui rahasia Dira dari Mama Dira.
“Dira punya masa lalu yang nggak menyenangkan. Lima tahun yang lalu, setelah lulus SMA dia kuliah di akademi keperawatan. Dia ketemu sama kakak tingkatnya yang akhirnya jadi pacarnya, namanya Adi. Mereka memang terlihat saling mencintai, Ibu pun udah merestui hubungan mereka. Sampai pada akhirnya Dira mengakui kalau dia lagi hamil anaknya Adi. Ibu memang kecewa banget sama mereka, tapi mau gimana lagi. Ibu nggak bisa marah sama mereka. Kalau Papanya Dira masih ada mungkin beliau yang akan marah-marah sama Dira.
“Waktu kandungan Dira sudah memasuki usia hampir dua bulan, Adi minta putus dengan alasan dia dijodohkan dengan wanita pilihan Mamanya. Dan sejak saat itu juga Dira nggak pernah keluar rumah, kuliahnya nggak diselesaiin. Dia mulai sakit-sakitan karena mikirin Adi sampai depresi. Pada akhirnya dia divonis dokter kena penyakit lemah jantung, dan gara-gara penyakit itu dia keguguran waktu usia kandungannya menginjak lima bulan.
“Setelah keguguran dia menjalani terapi yang disarankan teman Ibu biar dia pulih lagi. Akhirnya, berkat terapi itu Dira pun pulih dari keterpurukannya. Dira berniat kuliah lagi. Tapi dia nggak pengen kuliah di keperawatan lagi dan pengen ganti nama panggilan. Akhirnya Dira daftar di jurusan teknik mesin dan ganti nama jadi Sofie karena nama lengkapnya Dira Sofia. Dan pada akhirnya Dira ketemu kamu. Hidupnya seperti udah berubah.”
Fino masih tetap memandangi wajah Dira. Ia benar-benar menyesal karena malam itu ia merasa sedikit menuntut jawaban dari Dira, yang membuatnya seperti ini sekarang. Dan matanya pun mulai berair. Entah apa yang dirasakannya, tangan Dira yang masih terinfus bergerak. Dan matanya pun mulai terbuka perlahan. Fino segera bangkit.
“Ra, kamu udah sadar?” tanya Fino setengah tak percaya.
“Aku di mana, Fin?” tanya Dira, ia tak menghiraukan pertanyaan Fino karena ia tidak dapat mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.
“Kamu di rumah sakit, Ra. Kemarin kamu sakit. Makanya aku bawa kamu ke sini. Oh iya, kamu udah baikan, kan? Gimana, masih sakit nggak?”
Dira terdiam sejenak, lalu katanya, “Aku udah nggak apa-apa, kok, Fin.”
“Syukurlah kalau udah nggak sakit.” Fino tersenyum.
Dira berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia dirawat di rumah sakit. Perlahan ingatannya pulih. Ia kembali teringat saat Fino datang ke rumahnya malam itu dan ia juga teringat ketika ia jatuh pingsan karena penyakitnya kambuh.
“Fin?” Mata Dira sedikit berair.
“Iya, Ra?” Fino membalas.
“Kamu sekarang udah tau semua rahasiaku, kan?”
Fino termenung sejenak. “Enghh. Iya, Ra,” katanya.
“Pasti kamu kecewa banget sama aku.” Dira mulai menangis.
Fino menggenggam tangan Dira. “Ra, cintaku tulus buat kamu. Aku nggak mau liat gimana masa lalumu, kok. Aku juga nggak nganggep kamu cewek nakal atau gimana, tapi aku mandang kamu sebagai cewek yang paling sempurna buat aku. Aku ngomong kayak gini, inilah kata hatiku saat ini,” katanya.
Dira memandangi wajah Fino dalam-dalam. Ia berusaha mendalami kata-kata yang baru saja diucap Fino, laki-laki yang selama ini mencintainya. Dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat mendambakan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatinya karena masa lalunya yang tidak menyenangkan. Baginya, ditinggal seorang laki-laki yang ia cintai ketika ia sedang mengandung anak dari laki-laki itu amatlah menyakitkan.
“Kamu nggak harus jawab lamaranku, kok, Ra. Aku ngerti gimana perasaanmu,” kata Fino.
“Aku butuh waktu, Fin,” balas Dira, sambil menghapus air matanya. Fino hanya tersenyum, walaupun hatinya sedikit kacau.
***
Sore itu Fino pergi mencari sebuah kafe, setelah ia mengerjakan tugas kuliahnya di perpustakaan kampusnya. Ia ingin melupakan sejenak tentang tugas kampusnya, dan juga tentang masalah lamarannya pada Dira. Ia terus mencari kafe di kota yang dirasa nyaman dan tidak terlalu ramai. Dan sampailah ia di sebuah kafe yang ia inginkan. Suasana yang nyaman dan tidak terlalu ramai. Ia bisa sejenak bersantai di kafe itu.
Seorang waitress cantik beratasan seragam kafe tersebut dan rok hitam selutut mendatangi meja Fino. Ia menanyakan pada Fino apa yang akan dipesan.
Moccachino aja, Mbak,” kata Fino.
“Baik, Mas. Satu moccachino segera diantar,” balas waitress itu dan berlalu dari meja Fino.
Fino memandangi keadaan sekitar kafe itu. Suasananya memang terlihat nyaman. Lampu yang sedikit remang-remang membuat suasanya terlihat lebih romantis. Ia menikmati pemandangan di ruangan itu, sampai ia tidak menyadari kalau waitress cantik yang melayaninya tadi sudah berdiri di dekat mejanya mengantar pesanannya.
“Oh. Makasih, Mbak,” kata Fino.
“Sama-sama, Mas. Silakan dinikmati,” balas waitress itu sambil tersenyum manis dan melenggang meninggalkan Fino.
Fino mulai menyeruput moccachino-nya. Ia masih menikmati suasana remang-remang di kafe itu. Ketika menyeruput moccachino-nya untuk yang kesekian kalinya, ia melihat seorang perempuan yang duduk di pojok ruangan kafe namun tak begitu jelas karena lampu di kafe itu remang-remang. Ia merasa sangat mengenali perempuan itu, dan ia baru sadar kalau perempuan itu adalah Dira. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat Dira sedang duduk behadapan dengan seorang laki-laki yang dilihatnya pernah berkunjung ke rumah Dira sebelum Dira masuk rumah sakit. Firasatnya mulai berkata buruk, pikiran negatifnya bermunculan. Sementara itu, Dira masih berbicara dengan laki-laki yang duduk di hadapannya itu.
“Aku, nggak bisa nerima kamu lagi, Di,” kata Dira. Matanya terlihat berair.
Adi ternganga. “Ra, apa kamu nggak mau kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu?” tanya Adi, laki-laki yang sedang bersama Dira itu. “Apa kamu cinta sama cowok lain?”
“Iya, Di. Aku cinta sama dia. Dia udah nglamar aku buat jadi istrinya. Dia mau terima aku apa adanya yang kayak gini.”
“Aku lebih bisa nerima kamu apa adanya, Ra. Aku yang lebih dulu cinta sama kamu. Aku yang berhak tanggung jawab buat semua yang kamu alami selama ini.”
 “Aku juga berhak memilih siapa yang bakal jadi suamiku, Di. Aku kayak nggak sanggup hidup sama kamu. Kamu pernah ninggalin aku yang lagi hamil sampai aku harus keguguran karena depresi.”
Adi tertunduk. Ia benar-benar menyesali apa yang telah ia perbuat dahulu. Namun semuanya tak dapat kembali. Semuanya sudah terjadi. “Please, Ra. Kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku janji aku bakal bikin kamu bahagia selamanya.”
“Maaf banget, Di. Aku nggak bisa nerima kamu lagi. Aku udah cukup trauma sama masa laluku.”
Entah apa yang membuat Dira ingin memandangi ruangan kafe itu. Dan seketika itu juga ia melihat Fino sedang memandangi dirinya yang sedang bersama Adi.  Begitu sadar bahwa laki-laki itu adalah Fino, ia pun hanya ternganga karena terkejut dan ia tak dapat bergerak sama sekali. Fino memandanginya hampir tanpa ekspresi. Fino pun meneguk moccachino-nya sampai habis, pergi ke kasir, lalu pergi dari kafe itu. Menyadari Fino pergi dari tempat itu, Dira pun berusaha mengejarnya tanpa mempedulikan Adi. Namun usahanya sia-sia. Fino sudah menghilang bersama motor bebeknya.
Dengan motor matiknya Dira berusaha mengejar Fino. Ia berpikir bahwa Fino pulang ke rumahnya, dan ia pun menuju ke rumah Fino untuk menemuinya. Sesampainya di rumah Fino ia mendapati rumah Fino tanpa penghuni. Ia teringat bahwa keluarga Fino sedang ada di luar kota dan Fino tinggal sendirian. Dan ia berpikir kalau Fino saat itu masih di jalan. Lalu ia berniat menunggu di depan rumah Fino sampai Fino pulang.
Dua jam telah berlalu sejak Dira menunggu Fino di depan rumahnya. Ia mencoba menelpon Fino berkali-kali namun hanya ada jawaban dari operator bahwa nomor Fino sedang tidak aktif. SMS yang ia kirimkan juga pending. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk pulang karena arlojinya sudah menunjukkan pukul 22.45. Ia pulang dengan sedih.
***
Pagi itu Dira berangkat ke kampus pagi-pagi benar. Selain ada kuliah pagi ia juga ingin menemui Fino yang semalam ia tunggui. Ia ingin meminta maaf atas apa yang sudah terjadi kemarin.
Kelas kuliah pagi itu sudah hampir dimulai. Namun yang ditunggu Dira tak kunjung muncul. Akhirnya ia berniat untuk mengunjungi rumah Fino lagi seusai kuliah pagi itu.
Usai kuliah Dira bergegas keluar dari kelas dan menuju ke parkiran. Namun di pintu kelas ia sudah dihadang Rara.
“Buru-buru banget. Mau ke rumah Fino, ya?” kata Rara.
“Iya. Aku mau liat dia lagi ngapain di rumah, kok, nggak ikut kuliah,” balas Dira hampir tanpa memperhatikan sahabatnya.
“Khawatir, ya?”
Dira terdiam. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah mengkhawatirkan laki-laki itu. “Iya. Aku khawatir, Ra. Makanya aku mau ke rumahnya.”
Rara tersenyum. “Ya udah. Kamu ati-ati, ya? Semoga dia nggak kenapa-kenapa.”
“Iya, Ra. Ya udah aku pergi dulu.” Dira berlalu dari hadapan Rara dan pergi ke rumah Fino.
Sesampainya di rumah Fino, Dira langsung memarkirkan motornya di depan rumah Fino dan berusaha mengumpulkan mentalnya untuk meminta maaf pada Fino. Dan ia pun mengetuk pintu dan menunggu beberapa detik. Tak ada yang membuka. Ia mengetuk pintu kembali dan menunggu beberapa detik. Tak ada yang membuka. Dan untuk yang ketiga kalinya ia mengetuk pintu dan menunggu kira-kira sepuluh detik, akhirnya ada yang membuka pintu. Dari balik pintu muncul seorang laki-laki dengan sweater rajut dan celana panjang membalut tubuhnya di balik sarung yang dipakai untuk menghangatkan tubuhnya. Matanya sayu dan wajahnya terlihat pucat. Dira memperhatikan laki-laki itu dan pada akhirnya ia menyadari bahwa laki-laki itu adalah Fino.
“Fino! Kamu kenapa??” tanya Dira panik. Dan seketika itu juga Fino jatuh pingsan di pelukan Dira.
***
“Fino hanya kecapekan. Makanya dia demam. Apakah dia semalam pergi sampai larut malam?” kata sang dokter setelah memeriksa Fino.
“Saya kurang tahu, Dok. Saya semalam memang ke rumahnya tapi dia nggak ada di rumah. Ya mungkin dia pergi sampai selarut itu, Dok,” balas Dira.
“Ya sudah, saya tinggal dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa panggil saya. Saya ada di ruangan saya. Permisi.”
“Iya, Dok. Terima kasih.” Dokter itu berlalu dari hadapan Dira.
Dira duduk di kursi yang ia tempatkan di samping tempat Fino tidur, sambil memandangi wajah Fino yang masih tertidur. Setelah Fino pingsan ia memanggil ambulans agar menjemputnya dan membawa Fino ke rumah sakit. Ia begitu khawatir dengan keadaan Fino saat itu meskipun dokter hanya mengatakan bahwa Fino hanya kecapekan. Ia merasa bersalah, dan ia pun mulai menangis.
“Maafin aku, Fin. Aku pengen kamu bangun sekarang. Aku nggak pengen kamu pergi dari aku,” katanya sambil menangis.
“Aku nggak pergi, kok, Ra.” Suara itu mengejutkan Dira yang sedari tadi menangis. Ia melihat mata Fino yang sudah mulai terbuka meskipun belum terbuka lebar karena kondisinya yang masih lemah.
“Fino! Kamu bikin aku khawatir, tau nggak!?” Tangisan Dira bertambah keras karena saking senangnya. Lalu ia memeluk Fino. “Eh, aku panggil dokter dulu, ya? Beliau tadi nyuruh aku panggil beliau kalau ada apa-apa.”
Fino menahan Dira yang akan pergi. “Nggak usah, nanti aja. Kamu temenin aku dulu aja di sini, kan aku ga kenapa-kenapa,” katanya.
“Tapi, Fin…”
“Nggak usah ngeyel daripada aku pergi.”
Dira menyerah. “Iya, deh, nggak jadi.”
Fino tersenyum. Meskipun wajahnya masih terlihat pucat ia tetap tersenyum.
“Kamu yang bawa aku ke sini?” tanya Fino.
“Iya lah. Kamu ini aneh. Bukain pintu tiba-tiba malah pingsan,” kata Dira.
“Haha. Aku pusing banget waktu itu.”
“Emang kamu pulang jam berapa semalem?”
“Jam tiga pagi.”
“Gila lu. Sampai nggak berangkat kuliah juga.”
“Hehehe. Biarin. Sekali-sekali.” Tiba-tiba Fino teringat dengan kejadian di kafe kemarin. “Oh iya, pacarmu ke mana, Ra?”
“Pacar? Pacar yang mana?” tanya Dira balik.
“Yang di kafe itu.”
Dira teringat dengan kejadian itu. “Enak aja, dia bukan pacarku.”
Lha emang siapa kalau bukan pacarmu?”
“Dia itu yang namanya Adi, mantanku yang pernah menghamili aku.”
“Dia nglamar kamu juga, kan?”
“Iya.”
“Trus kamu jawab mau nerima dia, kan?”
Dira terdiam sejenak, lalu katanya, “Enggak.”
“Kenapa? Bukannya dia masih cinta sama kamu? Bukannya dia mau tanggung jawab buat semuanya?”
“Udah telat kalau mau tanggung jawab. Dia udah ngancurin hidupku dan masa depanku.”
Fino tertegun dengan jawaban Dira. Ia seperti kembali bangkit dari keterpurukannya.
“Fin?”
“Iya?”
“Apa kamu masih mau nglamar aku?”
Fino kembali tertegun. “Maksudnya?”
“Kamu jadi nglamar aku buat jadi istrimu nggak?”
Fino terkejut dengan pertanyaan Dira. “Aku bahkan kemarin ngira kalau kamu nerima Adi lagi, Ra.”
“Nggak, kok, Fin. Aku mutusin buat ninggalin masa laluku dan menatap masa depanku. Dan aku mau nerima lamaranmu buat jadi istrimu.”
Fino ternganga. Ia hampir tidak percaya dengan perkataan Dira. “Kamu serius, Ra? Kamu mau jadi istriku?”
Dira mengangguk mantap sambil tersenyum. “Iya. Aku mau banget, Fin. Ternyata Aku butuh seseorang yang bisa nyembuhin luka hatiku di masa lalu. Kamu inget nggak waktu kamu nganterin aku ke makam Papaku? Sejak saat itu aku ngrasain ada sesuatu yang ngalir di hatiku gara-gara kita pelukan. Waktu kamu sakit gini aku khawatir banget, dan setelah itu aku sadar kalau ternyata selama ini aku sayang sama kamu. Aku nggak pernah mau ngebiarin ada cinta di hatiku. Aku nggak pernah mau mengakui kalau aku butuh seseorang buat nyembuhin luka hatiku. Intinya, aku mau jadi istrimu.”
Fino tersenyum lebar. “Boleh aku peluk kamu, Ra?”
Tanpa menjawab pertanyaan Fino, Dira langsung merengkuh tubuh Fino yang masih terbaring di atas tempat tidur.
“Makasih banget, Ra. Kamu begitu berarti buat aku. Aku mencintaimu,” bisik Fino di telinga Dira. Dira hanya tersenyum sambil menangis bahagia.

5 tahun kemudian…

Malam itu langit cerah. Nampak sebuah mobil silver baru saja melakukan perjalanan. Mobil itu berhenti di sebuah rumah mungil semi permanen yang berhalaman cukup luas. Rumah semi permanen setengah berdinding kayu dan tembok itu terletak di tengah-tengah sebidang tanah yang sisa tanahnya dijadikan halaman sekaligus taman. Pagar kayu yang mengelilingi tanah itu membuatnya nampak seperti rumah di pedesaan. Tamannya penuh dengan bermacam-macam bunga. Di halaman belakang terdapat sebuah meja dengan beberapa kursi, cocok untuk bersantai.
Si pengendara mobil tadi turun dari kemudi lalu membukakan pintu mobil untuk seseorang yang duduk di sebelahnya saat ia mengemudi agar turun dari mobil dengan tuntunan tangannya. Dengan perlahan orang itu turun dari mobil. Tangannya masih dalam genggaman si pengemudi, yang nampaknya si pengemudi adalah suami dari orang itu. Dan nampaknya orang itu sedang hamil.
“Mari turun, Tuan Putriku,” kata Fino, sang pengemudi mobil tadi.
Dira, istri dari pengemudi tadi, turun dari mobil dengan perlahan. Lalu mereka berdua segera masuk ke dalam rumah mungil semi permanen mereka.
“Langsung istirahat aja, Ma. Takutnya kalau kamu kecapekan malah nggak baik buat anak kita,” kata Fino sesampainya mereka di dalam rumah.
Dira tidak mendengarkan apa yang dikatakan Fino. Ia keluar dari kamarnya menuju ke halaman belakang. Dengan pakaian yang dipakainya saat ia pergi tadi, ia keluar ke halaman belakang dan memandangi langit malam yang cerah. Bintang berkelap-kelip indah di atas langit. Dira tersenyum. Tanpa disadarinya Fino sudah berdiri di sampingnya.
“Langitnya cerah, Pa. Aku nggak pengen tidur cepet karena aku mau menikmati keindahan langit malem ini,” kata Dira tanpa menoleh ke arah Fino.
Fino tersenyum melihat wajah istrinya. Lalu ia pun memeluk istrinya dari belakang dan memegang perut istrinya. “Kamu seneng, ya, Ma?” tanyanya.
“Iya, Pa. Bahkan aku bahagia. Apalagi kita udah mau punya anak. Aku bahagia banget.”
Fino melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Dira sehingga mereka berdiri berhadapan. Mata mereka beradu, mencoba mendalami apa arti dari tatapan mereka masing-masing. Karena sedikit malu Dira pun mencoba memeluk suaminya itu dan mencium pipinya sekilas.
Thank you, Fin. Aku bahagia banget bisa mencintaimu,” bisiknya. Fino tersenyum, lalu mencium kening Dira.

SELESAI