Catatan ini putih. Seperti bulu domba
sehat di tengah padang rumput bersama seorang penggembala riang. Aku menulis
ini di selembar catatan putih itu. Menulis apapun yang menjadi pergumulan di
dalam lubuk jiwa. Hanya sekadar menulis.
Aku menikmati senja kala itu di beranda
villaku di tepi pantai. Deburan ombak yang menghantam pasir pantai ini
menciptakan angin yang menyapu wajahku. Rambutku yang kubiarkan tergerai menari
mengikuti irama sepoi-sepoinya angin pantai. Di tengah gemuruh ombak yang
bergulung dan menghempas pasir pantai, di balik itu semua sebuah pemandangan
yang tak kalah indahnya dengan irama ombak yang berlomba menepi ke tepian. Sang
mentari senja yang bersiap diri beristirahat dari lelahnya menerangi tanah air
tercinta ini. Melewati garis horizon yang terbujur dari timur ke barat sang
penerang bumi ini mulai tenggelam.
“Mau coklat panas?” Sebuah suara yang
sangat familiar menyeruak masuk ke dalam liang pendengaranku. Tangannya
menggenggam pegangan cangkir yang berisi minuman panas kesukaan kami.
“Mau banget,” kataku sambil tersenyum.
Ia menyodorkan cangkir itu tepat di
depan lubang hidungku. Sepertinya ia berharap aku menghirup aroma coklat yang
dibuatnya untukku. Dan aroma itu memang tercium, bersamaan dengan aroma
tubuhnya yang tercium saat ia berjalan melewatiku. Ia pun terduduk di sisi
kananku, ikut menikmati suara deburan ombak dan sunset sore itu.
Aku terkenang kisahku dengan pria satu
ini. Pantai inilah yang menjadi saksi kisah kami. Walau hanya segelintir kisah
kami yang terjadi disaksikan pantai ini, namun pantai ini sudah menjadi bagian
dari hidup kami.
Aku menyesap coklat panasku. Masih
sedikit panas. Sejak ia duduk di sampingku tak ada sedikitpun kata-kata yang
keluar dari mulut kami. Kami terlarut dengan pemandangan yang menjadi latar
belakang gemuruh ombak yang berlomba-lomba menepi ke tepian pantai. Kami
seperti terhipnotis menikmati pemandangan indah itu.
Dan aku seperti sudah tak bisa mengingat
lagi bagaimana rasanya awal jatuh cinta. Hanya mengerti teori yang mengatakan
bahwa jatuh cinta itu berjuta rasanya. Namun teori dan chemistry yang dirasa itu sangat berbanding terbalik karena teori
mengatakan begini dan hati mengatakan begitu. Cinta itu sangat tak masuk akal.
Pria ini yang empat tahun belakangan
menemani hidupku. Hanya sebuah pertemuan kecil saat aku menempuh bangku
pendidikan di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota ini. Orang mengatakan
hubungan kami ini karena adanya ‘cinta lokasi’ di antara kami. Sebuah pertemuan
yang amat sangat tak disengaja. Berawal dari sebuah organisasi sekolah yang
kami ikuti. Tanpa ada embel-embel berjabat tangan dan kalimat, “Boleh
kenalan?”. Hanya saling bertatap muka tanpa menghafalkan bagaimana bentuk rupa
wajahnya dan juga hanya mengingat namanya saat itu; Randi Sapta Suryono.
“Ndhuk?”
Begitulah dia memanggilku. Panggilan yang sebenarnya untuk anak perempuan dalam
Bahasa Jawa.
“Ada apa, Mas?” tanyaku sambil menoleh
memperhatikan wajahnya. Menerka-nerka apa yang akan dibicarakannya.
“Apa kamu masih ingat saat pertama kali
kita bertemu?” Matanya tak lepas dari pemandangan sunset.
“Masih, Mas. Semua masih tersimpan rapi
dalam memori ingatanku. Kenapa memang?”
“Aku ingat saat kita belum terlalu
saling mengenal. Hanya sekadar kenal lalu pacaran. Saat itu aku hanya ingin
mencoba mengenalmu lebih jauh dengan memacarimu. Aku pikir kita akan gagal
menjalin hubungan ini, tapi sejak kita membuat keputusan untuk mencoba
menjalani hari-hari berdua aku merasakan bahwa dirimu adalah wanita yang paling
tepat untuk selalu ada di sisiku. Dan pada akhirnya hubungan kita masih terbina
hingga detik ini.”
Aku tersipu malu dengan kata-katanya
yang terang-terangan itu.
“Apa kau masih ingat pula saat pertama
kali kau menamparku?”
Ah. Kenangan pahit itu, ya? Iya, aku
memang masih mengingatnya. Bagaimana tidak? Aku yang baru saja merasakan
benih-benih cinta ini mulai tumbuh subur di hatiku mendadak dibuat layu karena
sebuah pengkhianatan. Memang, hanya sebentar saja ia merasakan cinta yang lain,
namun luka yang terbentuk sangat dalam dan masih membekas hingga saat ini.
“Meski luka itu masih membekas sedikit
saat aku teringat tapi aku selalu memaafkanmu, Mas. Dan tiada dendam di hati
sama sekali.” Ku rasakan mataku berair. Rasanya memang getir. Dan hanya kujadikan
pengalaman hidup yang kuharap tidak akan pernah terulang walau sekali saja.
“Aku mengerti kau pasti tak sepenuhnya
percaya padaku lagi. Tapi yakinlah, aku pasti bisa mengembalikan rasa percayamu
lagi kepadaku. Aku akan membuktikan semuanya.”
Sapta, begitu nama panggilannya,
merengkuh tubuhku dari sisiku. Sunset
sudah terlihat hampir sepenuhnya tenggelam. Kami terdiam menikmati pemandangan
pantai sore itu. Sebuah gitar yang tersandar di sisi pintu mengundang kami
untuk mengambilnya dan menyanyikan sebuah senandung. Senandung yang selalu kami
nyanyikan jika kami ada di villa ini.
KEMESRAAN
Suatu
kali di kala kita duduk di tepi pantai
Dan
memandang ombak di lautan yang kian menepi
Burung
camar terbang bermain di derunya air
Suara
alam ini hangatkan jiwa kita
Sementara
sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara
gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada
hati membara erat bersatu
Getar
seluruh jiwa tercurah saat itu
Kemesraan
ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan
ini ingin ku kenang selalu
Hatiku
damai jiwaku tenteram di sampingmu
Hatiku
damai jiwaku tenteram bersamamu
Sang mentari senja kini benar-benar
tenggelam. Gelap mulai menyelimuti seluruh wilayah pantai ini. Aku menutup
catatanku hari ini. Catatan yang semula putih bersih kini penuh goresan tinta
kisah hidupku. Namun tak akan pernah catatan ini kuanggap catatan yang kotor.
Hanya catatan kecil yang selalu ada di genggaman tanganku dan tak akan pernah
lepas. Catatan seorang Ratih Dwi Kusuma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar