Minggu, 10 Agustus 2014

"Catatanku" (2014)


Catatan ini putih. Seperti bulu domba sehat di tengah padang rumput bersama seorang penggembala riang. Aku menulis ini di selembar catatan putih itu. Menulis apapun yang menjadi pergumulan di dalam lubuk jiwa. Hanya sekadar menulis.
Aku menikmati senja kala itu di beranda villaku di tepi pantai. Deburan ombak yang menghantam pasir pantai ini menciptakan angin yang menyapu wajahku. Rambutku yang kubiarkan tergerai menari mengikuti irama sepoi-sepoinya angin pantai. Di tengah gemuruh ombak yang bergulung dan menghempas pasir pantai, di balik itu semua sebuah pemandangan yang tak kalah indahnya dengan irama ombak yang berlomba menepi ke tepian. Sang mentari senja yang bersiap diri beristirahat dari lelahnya menerangi tanah air tercinta ini. Melewati garis horizon yang terbujur dari timur ke barat sang penerang bumi ini mulai tenggelam.
“Mau coklat panas?” Sebuah suara yang sangat familiar menyeruak masuk ke dalam liang pendengaranku. Tangannya menggenggam pegangan cangkir yang berisi minuman panas kesukaan kami.
“Mau banget,” kataku sambil tersenyum.
Ia menyodorkan cangkir itu tepat di depan lubang hidungku. Sepertinya ia berharap aku menghirup aroma coklat yang dibuatnya untukku. Dan aroma itu memang tercium, bersamaan dengan aroma tubuhnya yang tercium saat ia berjalan melewatiku. Ia pun terduduk di sisi kananku, ikut menikmati suara deburan ombak dan sunset sore itu.
Aku terkenang kisahku dengan pria satu ini. Pantai inilah yang menjadi saksi kisah kami. Walau hanya segelintir kisah kami yang terjadi disaksikan pantai ini, namun pantai ini sudah menjadi bagian dari hidup kami.
Aku menyesap coklat panasku. Masih sedikit panas. Sejak ia duduk di sampingku tak ada sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulut kami. Kami terlarut dengan pemandangan yang menjadi latar belakang gemuruh ombak yang berlomba-lomba menepi ke tepian pantai. Kami seperti terhipnotis menikmati pemandangan indah itu.
Dan aku seperti sudah tak bisa mengingat lagi bagaimana rasanya awal jatuh cinta. Hanya mengerti teori yang mengatakan bahwa jatuh cinta itu berjuta rasanya. Namun teori dan chemistry yang dirasa itu sangat berbanding terbalik karena teori mengatakan begini dan hati mengatakan begitu. Cinta itu sangat tak masuk akal.
Pria ini yang empat tahun belakangan menemani hidupku. Hanya sebuah pertemuan kecil saat aku menempuh bangku pendidikan di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota ini. Orang mengatakan hubungan kami ini karena adanya ‘cinta lokasi’ di antara kami. Sebuah pertemuan yang amat sangat tak disengaja. Berawal dari sebuah organisasi sekolah yang kami ikuti. Tanpa ada embel-embel berjabat tangan dan kalimat, “Boleh kenalan?”. Hanya saling bertatap muka tanpa menghafalkan bagaimana bentuk rupa wajahnya dan juga hanya mengingat namanya saat itu; Randi Sapta Suryono.
Ndhuk?” Begitulah dia memanggilku. Panggilan yang sebenarnya untuk anak perempuan dalam Bahasa Jawa.
“Ada apa, Mas?” tanyaku sambil menoleh memperhatikan wajahnya. Menerka-nerka apa yang akan dibicarakannya.
“Apa kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu?” Matanya tak lepas dari pemandangan sunset.
“Masih, Mas. Semua masih tersimpan rapi dalam memori ingatanku. Kenapa memang?”
“Aku ingat saat kita belum terlalu saling mengenal. Hanya sekadar kenal lalu pacaran. Saat itu aku hanya ingin mencoba mengenalmu lebih jauh dengan memacarimu. Aku pikir kita akan gagal menjalin hubungan ini, tapi sejak kita membuat keputusan untuk mencoba menjalani hari-hari berdua aku merasakan bahwa dirimu adalah wanita yang paling tepat untuk selalu ada di sisiku. Dan pada akhirnya hubungan kita masih terbina hingga detik ini.”
Aku tersipu malu dengan kata-katanya yang terang-terangan itu.
“Apa kau masih ingat pula saat pertama kali kau menamparku?”
Ah. Kenangan pahit itu, ya? Iya, aku memang masih mengingatnya. Bagaimana tidak? Aku yang baru saja merasakan benih-benih cinta ini mulai tumbuh subur di hatiku mendadak dibuat layu karena sebuah pengkhianatan. Memang, hanya sebentar saja ia merasakan cinta yang lain, namun luka yang terbentuk sangat dalam dan masih membekas hingga saat ini.
“Meski luka itu masih membekas sedikit saat aku teringat tapi aku selalu memaafkanmu, Mas. Dan tiada dendam di hati sama sekali.” Ku rasakan mataku berair. Rasanya memang getir. Dan hanya kujadikan pengalaman hidup yang kuharap tidak akan pernah terulang walau sekali saja.
“Aku mengerti kau pasti tak sepenuhnya percaya padaku lagi. Tapi yakinlah, aku pasti bisa mengembalikan rasa percayamu lagi kepadaku. Aku akan membuktikan semuanya.”
Sapta, begitu nama panggilannya, merengkuh tubuhku dari sisiku. Sunset sudah terlihat hampir sepenuhnya tenggelam. Kami terdiam menikmati pemandangan pantai sore itu. Sebuah gitar yang tersandar di sisi pintu mengundang kami untuk mengambilnya dan menyanyikan sebuah senandung. Senandung yang selalu kami nyanyikan jika kami ada di villa ini.

KEMESRAAN
Suatu kali di kala kita duduk di tepi pantai
Dan memandang ombak di lautan yang kian menepi
Burung camar terbang bermain di derunya air
Suara alam ini hangatkan jiwa kita

Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa tercurah saat itu

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini ingin ku kenang selalu
Hatiku damai jiwaku tenteram di sampingmu
Hatiku damai jiwaku tenteram bersamamu

Sang mentari senja kini benar-benar tenggelam. Gelap mulai menyelimuti seluruh wilayah pantai ini. Aku menutup catatanku hari ini. Catatan yang semula putih bersih kini penuh goresan tinta kisah hidupku. Namun tak akan pernah catatan ini kuanggap catatan yang kotor. Hanya catatan kecil yang selalu ada di genggaman tanganku dan tak akan pernah lepas. Catatan seorang Ratih Dwi Kusuma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar