Ini adalah sebuah memori pahit tentang pengalaman
hidup yang membuatku harus melepas air mata. Air mata ini yang mengiringi
kepergiannya di peristirahatan terakhirnya. Hanya sebuah kelalaian dalam
berkendara di jalan raya, tak memperhatikan jalanan yang ramai dan tanpa
pelindung kepala. Aku yang semasa hidupnya tak selalu ada di sisinya dan tak
ada saat ajal menjemputnya, saat ia pergi hanya sesak di dada yang aku rasakan.
Sudah lima tahun ini ia pergi. Sebuah
nisan keramik berwarna krem dan bertanda salib tampak bersih. Mawar dan kenanga
yang kubawa tertabur rata di atas nisannya. Doaku untuknya tak pernah
kulupakan.
Seorang wanita yang kini amat kucintai
mengajakku pergi makan siang dan ia ingin mengenalkanku pada seorang temannya.
Aku begitu tercekat dan terpaku ketika temannya muncul. Ia sangat mirip dengan
masa laluku yang sudah tiada! Aku tersadar saat wanita itu menjabat tanganku
yang terasa dingin. Oh, aku hanya ber-déjà
vu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar