“Aku terpaksa,” aku Radit lirih.
Rahma terdiam. Raut wajahnya hampir
tanpa ekspresi. Sang lawan bicara tak dapat menelusuri otaknya.
Rahma mendesah. “Baiklah,” katanya
sembari menegakkan punggungnya. “Lalu apa yang kau mau?”
Aku ingin kau tinggalkan dan lupakan
aku.” Radit berbalik dan menatap Rahma. Ia masih belum dapat memahami isi hati
kekasihnya itu. “Aku tak ingin kau menerima kepura-puraanku lagi.”
“Jadi kau iba padaku?” mata Rahma nanar
menatap Radit.
“Ya, aku memang iba dan lebih baik kau
kubur semua kenangan kita.”
“Apa kau juga hanya iba saat mengenalku
sehingga kau katakana ‘aku mencintaimu’ padaku?”
Radit bungkam. Memang benar bahwa ia
sebenarnyamemacari Rahma hanya karena merasa kasihan. Rasa berdosa mulai
menggerogoti seluruh batinnya. “Aku menyesal, Rahma,” ucapnya.
“Baik. Aku akan ikuti kemauanmu.” Tak
terkira rasa hancur Rahma tatkala Radit mengakui semuanya. Ia pergi
meninggalkan Radit dengan berjuta sumpah serapah pada lelaki yang amat
dicintainya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar