Aku mengambil selembar kertas putih itu.
Untuk yang pertama kalinya aku mulai belajar menulis fiksi. Dengan sebatang
pensil yang sudah kuraut sampai runcing ini aku mulai menggores kata demi kata,
segala sesuatu tentang gejolak di jiwa tak lupa kutuangkan ke atas kertas ini.
Aku membuka halaman terakhir majalah
sekolahku. Di baris pertama halaman itu tertulis, “MATA Yang Akan Datang”,
mengulas tentang semua hal yang akan dibahas di majalah edisi berikutnya. Pada
beberapa baris berikutnya tertulis, “Temukan jawaban dari kisah mereka di
Forever Friends karya Vika Puspita Septarani.” Hati begitu girang dibuatnya. Bagaimana
tidak? Hasil karya pertama yang kutulis dengan bermodal kertas dan sebatang pensil
kayu dimuat di majalah sekolahku edisi ke tiga. Sejak saat itu permintaan
pembuatan fiksi terus mengalir untuk kepentingan sekolah mulai dari majalah
dinding kelas, majalah dinding sekolah, ajang perlombaan, dan lain-lain.
Tahun itu aku mulai memasuki tingkat
pertama di sebuah sekolah menengah kejuruan di Kota Pelajar ini. Belum banyak
yang tahu dan mengenalku. Aku baru saja beradaptasi dengan lingkungan baru dan
semua temanku tak ada yang mengenalku sejak aku duduk di bangku sekolah
menengah pertama.
“Teman-teman, kita diminta membuat mading
untuk dipajang di papan mading sekolah kita. Sekarang kita bentuk tim untuk
kelas kita dan sebelum dikejar deadline
mari kita susun tim mading dan segala sesuatu yang perlu disiapkan,” kata sang
ketua kelas memimpin rapat kecil yang diadakan di kelasku. Ia menunjuk beberapa
temanku untuk membantu dalam pembuatan mading kelas kami. “Vik, kamu ikut tim,
ya? Aku lihat tampaknya kamu berbakat di bidang jurnalistik.” Sang ketua kelas menunjukku
tiba-tiba.
“Aku? Nggak salah? Baiklah, aku akan
menjalankan tugasku sebaik-baiknya,” jawabku sambil tersenyum. Ada kesempatan
untukku mengenalkan karyaku pada seantero sekolah.
Sehari setelah pembentukan tim dan
mempersiapkan perlengkapan untuk pembuatan mading kami mulai bekerja. Aku
ditunjuk sebagai sekretaris tim mading kelas kami. Di hadapanku setumpuk
coret-coretan pada kertas yang berisi materi yang akan diterbitkan dalam mading
kelas kami menanti untuk disalin. Salah satu temanku telah menyelesaikan
karikatur yang akan diikutsertakan dalam mading kelas kami. Hari itu kami
benar-benar dibuat sibuk oleh kegiatan rutin ini.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua
hari kami telah menyelesaikan mading kelas kami. Aku merasa cukup puas karena
aku punya banyak pengalaman dalam pembuatan mading saat aku masih di tingkat
sekolah menengah pertama. Dan sebuah karya fiksiku tertempel di sana. Aku
tersenyum.
“Eh, kamu yang bernama Vika, ya?” tanya
salah seorang temanku yang berbeda kelas. Aku memang tidak mengenalnya, namun
entah dari mana sumbernya ia tahu bahwa pemilik nama Vika di angkatan ini hanyalah
aku seorang.
“Iya, betul. Ada apa?” Aku mencoba
menerka-nerka apa yang sebenarnya akan dibicarakan.
“Fiksimu keren. Aku sampai merinding
bacanya.” Ia berujar polos sambil menyeringai, menampakan serentetan giginya
yang tampaknya perlu adanya behel di sana.
“Yang benar? Wah, terima kasih sudah
menyempatkan diri membaca mading kelasku.” Aku merasakan wajahku memanas,
tersipu karena pujiannya.
Suatu hari saat sudah memasuki tingkat
ketiga aku mendengar iklan mengenai sebuah sayembara penulisan non-fiksi dengan
tema kisah cinta di sekolah, dan harus menyertakan kegiatan apapun yang terjadi
di sekolah. Aku tak boleh menyia-nyiakan
kesempatan ini, semangatku pun mulai membara sejak aku berkata begitu dari
dalam hati. Meskipun deadline masih
jauh aku telah menyelesaikan karya non-fiksiku dalam waktu kurang dari dua
puluh empat jam. Menceritakan kisah cintaku pada seorang kekasihku yang saat
itu kami berpisah karena adanya kegiatan praktik kerja industri yang berbeda
propinsi. Dan pada suatu siang, dua minggu setelah pengiriman naskah
non-fiksiku aku menerima telepon dari sebuah redaktur majalah terkenal di
Indonesia yang mengadakan sayembara tersebut. Ia menyatakan bahwa karya
non-fiksiku layak masuk nominasi dan aku diundang ke Jakarta untuk menghadiri
acara pengumuman sayembara tersebut. Namun undangan itu tak kuindahkan karena
mengingat aku masih duduk di bangku sekolah dan banyaknya kegiatan yang tak dapat
aku tinggalkan. Begitu gembiranya hati ini karena selangkah demi selangkah aku
mulai mampu menunjukkan pada semua orang bahwa aku bisa berbicara melalui
karya-karyaku. Dan suaraku perlu didengar dan dirasakan semua orang meskipun
tulisanku belum dinyatakan juara pertama, kedua, maupun ketiga.
Saat ini aku sedang menempuh bangku
pendidikan di sebuah sekolah kesehatan dan sudah hampir memasuki tahun ketiga.
Dua semester lagi mungkin aku tak akan lagi ada di kelas dengan kursi bermeja
ini. Waktu luang di akhir semester ini aku gunakan untuk lebih memperdalam
bakat menulisku. Dan sekarang zaman sudah canggih. Dahulu aku yang membuat
karya hanya bermodal kertas dan sebatang pensil sekarang aku bisa membuat karya
fiksi maupun non-fiksi dengan komputer.
Sebuah media penerbit buku memberi
kesempatan bagi siapapun yang gemar menulis untuk mengirimkan salah satu karya
bertema pengalaman maupun harapan ketika memilih dunia tulis menulis. Aku tak
akan pernah meninggalkan kesempatan yang mungkin tak akan datang untuk ke dua
kalinya ini. Aku menulis ini, berharap karyaku dapat mewakiliku berbicara
dengan banyak orang sehingga orang lain menganggapku ada di dunia ini dan aku layak
untuk berbicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar