Kamis, 09 Oktober 2014

"Terang dalam Gelapku" (2014)

“Maafkan aku, Mayla. Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya,” kejar Farhan, berharap sang kekasih bersedia mendengarkannya.
“Aku mengerti, Farhan. Aku sudah mengerti tanpa harus mendengar penjelasan darimu.” Hati Mayla memang terasa begitu tersayat menyaksikan pengkhianatan cinta Farhan dengan perempuan lain di balik punggungnya.
“Aku tak mau kehilanganmu, Mayla. Aku mencintaimu, amat sangat mencintaimu. Aku tahu bahwa apa yang sudah aku lakukan sangat melukai hatimu. Maafkan aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini dan mengembalikan kepercaya-an yang kau berikan padaku.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu sekarang, Farhan. Dan aku juga belum tahu apa keputusan yang akan aku ambil untuk hubungan kita ini. Aku masih tetap percaya padamu. Alangkah lebih baik bahwa saat ini kita tidak berhubungan untuk beberapa waktu dan waktu itu akan kita gunakan untuk merenungkan segala hal yang telah kita perbuat yang membuat kita sampai pada masalah yang kita hadapi saat ini. Maafkan aku.” Mayla berlalu, membawa sejuta luka dan serpihan-serpihan kehancuran hatinya, dan meninggalkan Farhan bersama dengan kesalahan yang membuat hati sang kekasih teriris.

***

Farhan terhenyak dari mimpinya. Nafasnya memburu. Peluhnya menetes dari dahinya. Jantungnya berdegup berkali lipat lebih cepat. Ia sempat tertegun dengan mimpinya setelah keadaannya kembali normal. Nafas yang tersengal-sengal dan keringat yang bercucuran serta detak jantungnya yang melampaui batas normal dari mimpinya, saat mengejar kekasihnya yang terus berlari menjauhinya, terbawa saat ia terjaga. Mayla, entah sudah berapa kali benaknya menyebut nama itu. Kedua telapak tangannya menutupi seluruh bagian wajahnya. Ekor matanya sedikit menangkap jam weker di meja lampunya. Pukul 05.54. Dengan enggan Farhan menarik handuk dan bergegas mandi.
Farhan keluar dari kamarnya dengan seragam putih abu-abunya yang sedikit acak-acakan dan ransel di punggungnya. Kakak perempuannya, Dewi, tengah menyiapkan sarapan di ruang makan. Masih dengan gerakan malas Farhan duduk di salah satu kursi makan, mengambil gelas yang sudah berisi susu coklat hangat buatan Dewi lalu meminumnya seteguk.
“Farhan, ada apa denganmu? Kamu sakit?” tanya Dewi. Ada rasa khawatir yang hinggap begitu saja di benak Dewi saat menyaksikan adik semata wayangnya tak bergairah hari itu.
“Farhan sehat, Mbak,” ucap Farhan lirih.
“Pasti marahan sama Mayla.”
Farhan tertunduk. Tubuhnya serasa dibebani berton-ton pecahan kaca yang membuatnya terluka karena kesalahannya sendiri. “Farhan menyesal, Mbak.”
“Apa yang kamu lakukan sampai harus marahan sama Mayla?” desak Dewi. Ia sangat ingin mengetahui pergumulan apa yang terjadi di antara adik laki-lakinya ini dengan sang kekasih.
“Kami nggak marahan, Mbak. Mayla hanya memohon agar kami nggak berhubungan selama beberapa waktu untuk introspeksi diri.” Farhan masih menunduk. Sejujurnya ia takut menatap wajah kakak perempuannya, yang sudah hampir berumah tangga itu, setelah diakuinya bahwa ia telah mengkhianati kisah cintanya dengan Mayla. Dengan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan Farhan siap menceritakan semuanya pada kakaknya. “Farhan jahat, Mbak. Farhan punya pacar lain selagi Mayla masih jadi pacar Farhan. Farhan sudah mencoba menjelaskan semuanya tapi Mayla berkata bahwa dia mengerti dan memutuskan seperti itu,” akunya.
Mata Dewi menangkap setetes air yang keluar dari mata Farhan. Setetes air mata sesal yang amat keruh. Baru kali ini ia melihat adik semata wayangnya menangis, apalagi menangis karena seorang wanita. Apa yang dilakukan Farhan memang sangat disayangkan Dewi, namun ada suatu rasa yang tanpa sadar Farhan keluarkan dari dirinya agar Dewi mengerti kesungguhan hatinya mencintai Mayla.
“Kalau Mbak boleh jujur,” Dewi terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Lalu katanya, “Kamu itu masih labil, Farhan. Ada saatnya seorang anak laki-laki masih suka menikmati masa mudanya. Sebenarnya dia yang sudah punya seorang pacar tapi dia malah menyukai gadis lain. Di sisi lain hatinya tak ada keinginan untuk melepas sang pacar yang sudah mengisi kekosongan hatinya dan harinya. Mbak memang sedikit kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan. Mbak tahu rasanya dikhianati orang yang sangat dicintai bagaimana sakitnya dan kau tahu sendiri Mbak juga pernah menga-lami pengkhianatan semacam ini. Kamu beruntung Mayla masih memberimu kesempatan untuk berintrospeksi pada dirimu sendiri agar di kemudian hari kamu tidak jatuh pada lubang yang sama. Tetapi percayalah pada Mbak, Mayla sangat mencintaimu. Sebagai sesama kaum perempuan Mbak bisa membaca semuanya yang ada pada Mayla. Dan kamu perlu memberi kesempatan pada Mayla juga untuk menenangkan hatinya.” Dewi tersenyum meneguhkan hati Farhan.
Bulir-bulir air mata Farhan jatuh. Ia pun menyekanya dengan punggung tangannya. Beban di pundaknya sedikit berkurang. Kakak perempuannya itu memang selalu ada untuknya saat dadanya penuh sesak oleh pergumulan hidupnya. “Makasih, Mbak. Farhan sudah merasa lebih baik sekarang,” katanya dengan senyum yang sedikit meng-embang.
Dewi tersenyum. Ada suatu rasa yang menyelinap ketika ia melihat adik laki-lakinya tersenyum. “Lebih baik kamu habiskan sarapanmu lalu berangkat.”
“Iya, Mbak.”

***

Malam itu langit cerah. Sang bulan menampakkan dirinya tanpa rasa malu. Farhan sudah nampak di dalam sebuah ruang kelas di sekolahnya tempat berkumpul peserta pentas seni. Malam itu diadakan acara pentas seni dalam rangka Dies Natalis SMK Penerbangan Yogyakarta, sekolah di mana Farhan dan Mayla menimba ilmu. Bersama gitarnya ia akan menampilkan sebuah lagu bernuansa akustik.
Sebuah bayangan berkelebat di depan ruang kelas tempat Farhan dan teman-temannya berkumpul. Bayangan seperti seorang perempuan bersama seorang teman perempuannya yang lain.
“Mayla!” panggil Farhan saat kedua perempuan itu mulai menjauh dari ruang kelas.
Kedua perempuan tadi menoleh. Mayla mendapati Farhan sudah ada di hadapannya. “Ada apa?” tanyanya.
“Lebih baik kalau kalian berdua saja ngobrolnya. Aku ke toilet dulu, Mayla.” Teman perempuan yang tadinya berjalan beriringan dengan Mayla kini meninggalkannya.
“Aku ingin bicara padamu. Aku sangat merindukanmu, Mayla. Aku masih sangat merasa bersalah. Aku selalu dihantui bayanganmu. Beri aku kesempatan yang kedua untuk membuatmu lebih bahagia lagi,” ucap Farhan. Raut wajahnya memelas.
“Maaf, Farhan. Belum saatnya kita bertemu.” Mayla kembali meninggalkan Farhan dengan rasa bersalahnya yang masih bergelayut ria di hatinya.
“Acara selanjutnya adalah sebuah pementasan dari salah seorang teman kita yang akan menampilkan suara emasnya dengan iringan akustik yang dimainkannya sendiri.” Terdengan suara sang MC yang membacakan acara selanjutnya. “Langsung saja kita sambut, Antony Farhan dari kelas XI AFP 1!”

***

Farhan mengakhiri pentasnya dengan senyuman dan bergegas turun dari panggung. Gitarnya teronggok begitu saja di atas meja di ruang kelas. Ia mengingat saat tampil di panggung tadi. Sosok Mayla sama sekali tak nampak. Ia begitu kecewa. Namun ada sedikit harapan Mayla mendengarkan semua ungkapan darinya bahwa ia benar-benar sangat mencintai perempuan itu melalui sebuah lagu yang dibawakannya tadi.
“Perkenalkan, saya Veronica Mayla Ardhayanti dari kelas XI AFP 4. Saya akan membawakan sebuah lagu dari Ungu, dan lagu ini saya persembahkan untuk seorang siswa dari kelas XI AFP 1 yang bernama Antony Farhan. Selamat menikmati.”
Farhan mendengar suara yang sangat familiar di telinganya disusul tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton. Ia sempat berfikir bahwa pentasnya tadi adalah pentas terakhir sebelum penghujung acara. Dengan terburu-buru Farhan keluar dari ruang kelas dan berdiri sedikit jauh di depan panggung. Dan ia tak salah bahwa yang ada di panggung adalah Mayla, kekasihnya. Dengan gitar klasik yang sudah siap dimainkan Mayla mulai melantunkan sebuah lagu.

Terang dalam Gelapku

Kita yang pernah merasakan
Hitam terangnya cinta
Bersamamu ‘kan kujelang hari bahagia
Tanpamu kugelap, tanpamu gelap

Simpan saja semua cerita
Tentang hitamnya cinta
Bersamamu ‘kan kujelang hari bahagia
Tanpamu kugelap, engkaulah terang

Dan aku telah yakinkan hatiku
Bahagia ‘kan kujelang bersamamu
Dan aku yang tak bisa tanpamu
Karena engkaulah terang dalam gelapku

Bulan bintang yang selalu datang
Setia terangi malam
Tak seterang hatimu, tak seterang cinta
Yang kau berikan, yang kau berikan

Dan aku telah yakinkan hatiku
Bahagia ‘kan kujelang bersamamu
Dan aku yang tak bisa tanpamu
Karena engkaulah terang dalam gelapku

Dan aku telah yakinkan hatiku
Bahagia ‘kan kujelang bersamamu
Dan aku yang tak bisa tanpamu
Karena engkaulah terang dalam gelapku

Dan aku telah yakinkan hatiku
Bahagia ‘kan kujelang bersamamu

Farhan tertawa bahagia, menangkap apa makna dari lagu yang Mayla nyanyikan. Tak pernah terlintas di pikirannya Mayla, kekasih yang paling dicintainya, membawakan sebuah senandung penuh makna terkhusus untuk dirinya. Matanya mulai berair. Ada rasa haru yang terpancar. Tepuk tangan dari penonton membuatnya berani untuk mendekati Mayla yang masih berdiri di atas panggung sambil menangis. Tanpa ada rasa malu sedikitpun Farhan memeluk Mayla disaksikan oleh ratusan pasang mata. Tepuk tangan dan sorak sorai mereka semakin riuh rendah menyaksikan adegan dramatis di atas panggung. Dengan sigap Farhan menarik tangan Mayla dan membawanya ke sebu-ah teras gereja di belakang gedung sekolah.
“Aku baru tahu bahwa kau juga ikut pentas. Padahal di rundown pentasmu tak tercantum di sana,” ungkap Farhan, sesampainya mereka di depan gereja.
“Ini memang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari dan aku bekerja sama dengan semua anggota OSIS. Hanya kau saja anggota OSIS yang tak diberi tahu,” ucap Mayla sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Jadi, apakah kau sudah memaafkanku?” Farhan memburu. Ia memang sangat berharap Mayla mau menerimanya lagi.
“Menurutmu bagaimana?” Nada bicara Mayla terdengar meremehkan.
“Ayolah, Mayla. Jawab saja pertanyaanku.”
“Iya, aku memaafkanmu.” Mayla merengkuh tubuh Farhan dalam dekapannya.
“Atas dasar apa?” Mereka saling melepaskan pelukan.
“Seperti yang ada dalam lagu tadi. Suaraku sumbang, ya? Maaf aku memang tak pandai menyanyi.”
“Di telingaku terdengar sangat merdu. Sudah lama aku tak mendengar suaramu. Aku sangat merindukanmu, Mayla.” Farhan menggenggam erat kedua tangan mungil Mayla lalu memeluknya. Kali ini Farhan benar-benar menangis. Dan air yang keluar dari matanya kini nampak jernih. Hatinya kini telah utuh kembali. Separuh hati dan jiwanya yang meninggalkannya beberapa waktu telah kembali.
“Aku mencintaimu, Farhan. Sekalipun kau telah membuat hatiku remuk namun dari bekas kehancuran hatiku tetap terbentuk namamu. Aku merasa sangat sulit jika harus meninggalkanmu hanya karena kau telah melakukan kesalahan yang mungkin di masa yang akan datang bisa diperbaiki. Aku tak mendendam, aku tak akan membalas apa yang telah kau lakukan padaku. Aku tetap akan mempertahankan cinta ini, hati ini, dan hubungan ini sampai hanya Tuhan saja yang memisahkan kita.”

“Aku sangat beruntung bisa memilikimu, Mayla. Di depan gereja ini, yang berarti aku berjanji di hadapan Tuhan, bahwa aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu, segala dukamu akan kutanggung, dan segala sukacitamu mengiringimu dalam setiap langkah hidup kita. Aku yang telah menyakiti hatimu hingga membuatmu harus membuang air mata, aku sendiri yang akan menghapus air matamu dan takkan pernah kubiarkan air matamu mengalir kembali. Engkaulah alasan untukku berubah, alasan untukku memulai segalanya dari awal.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar