Aku merengkuh tubuh dingin itu. Mencoba
menghangatkannya yang hampir kaku. Jaket kulit yang semula terbalut di tubuhku
kini ada di tubuhnya. Matanya mulai meredup. Wajanya memucat. Tubuhnya
menggigil perlahan. Aku merapatkan pelukanku. Tangannya yang hampir tak bisa
bergerak mencoba meraih wajahku yang penuh dengan air mata. Perlahan tangannya
turun ke lenganku, hanya dingin yang ku rasakan dari sentuhannya. Aku
melepaskan pelukanku, memperhatikan apa yang akan disampaikan melalui matanya.
Dari sorot matanya yang benar-benar tak ada cahaya lagi di sana aku kembali
merengkuhnya. Air mataku kembali keluar tak tertahankan. Tubuhku terguncang
karena isakanku.
“Tia?” Ia memanggilku, tepat di
telingaku.
“Apa? Ada apa, Ezra? Apa yang kamu mau?”
tanyaku masih sambil terisak.
“Kamu kenapa nangis? Kenapa juga kamu
kasih aku jaket? AC-nya dikecilin aja, ah. Cuma kedinginan gara-gara AC aja
kamu jadi lebay gini.”
Dan aku pun tersadar dari ke-lebay-anku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar