Kamis, 09 Oktober 2014

"Ternyata" (2014)

Aku merengkuh tubuh dingin itu. Mencoba menghangatkannya yang hampir kaku. Jaket kulit yang semula terbalut di tubuhku kini ada di tubuhnya. Matanya mulai meredup. Wajanya memucat. Tubuhnya menggigil perlahan. Aku merapatkan pelukanku. Tangannya yang hampir tak bisa bergerak mencoba meraih wajahku yang penuh dengan air mata. Perlahan tangannya turun ke lenganku, hanya dingin yang ku rasakan dari sentuhannya. Aku melepaskan pelukanku, memperhatikan apa yang akan disampaikan melalui matanya. Dari sorot matanya yang benar-benar tak ada cahaya lagi di sana aku kembali merengkuhnya. Air mataku kembali keluar tak tertahankan. Tubuhku terguncang karena isakanku.
“Tia?” Ia memanggilku, tepat di telingaku.
“Apa? Ada apa, Ezra? Apa yang kamu mau?” tanyaku masih sambil terisak.
“Kamu kenapa nangis? Kenapa juga kamu kasih aku jaket? AC-nya dikecilin aja, ah. Cuma kedinginan gara-gara AC aja kamu jadi lebay gini.”

Dan aku pun tersadar dari ke-lebay-anku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar