“Menurutku—” Aku berusaha mengeluarkan
buah pikirku. Tetapi…
“Menurutku kita harus ke sana, Ris,”
potongnya.
Ah. Tepat sekali dugaanku. Makhluk satu
ini yang bernama Eros benar-benar membuatku frustrasi. Hampir saja aku melempar
botol bir ini ke kepalanya dan meng-hancurkan wajahnya.
“Ros, kamu tahu rumah itu terlalu bahaya
buat kita. Kemarin kita hampir nggak bisa keluar dari sana,” kataku berusaha
membuat Eros mengubah rencana gilanya.
Bulu kudukku mulai meremang, teringat
betapa ngerinya suasana rumah tua ber-gaya Eropa itu yang kami datangi beberapa
hari yang lalu.
“Aku masih ingin menyelidiki sejarah
rumah itu. Apa yang membuat kita terpe-rangkap di sana kemarin? Aku curiga,
mungkin ada orang lain yang sengaja mengurung kita di dalam rumah itu.” Tangannya
menopang dagunya sambil berpikir. Laptop di de-pannya menyala dan menampilkan
profil rumah-rumah tua di kota ini.
Tiba-tiba matanya berbinar lalu menggosok-gosokkan
tangannya, pertanda darah di otaknya sedang lancar.
Dan aku sadar dengan apa yang akan
dilakukannya kali ini.
“Kamu bener-bener nekad, Ros. Aku nggak
ikut misimu kali ini.”
“Yah, kalau kamu nggak ikut aku bakal—”
Nah, apa aku bilang!
“Oke, aku ikut,” potongku.
Aku tahu bahwa dia akan mengatakan
“Kalau kamu nggak ikut aku bakal bilang ke Nadia kalau kamu masih sering
minum”. Ancaman yang digunakannya agar aku mau mengikuti aksi gilanya itu.
Ancaman yang sebenarnya menurutku sangat murahan tetapi sangat mematikanku
karena dia tahu bahwa Nadia, kekasihku, sangat, sangat, dan sa-ngat benci
dengan minuman berbau alkohol seperti yang aku minum ini. Arrrgghhhhh…!! Kalau
saja dia bukan anak sahabat Mama dan Papa pasti sudah kutelan hidup-hidup.
Jeep Katana modifikasi milikku yang
bertengger di depan rumah Eros menyam-but saat kami keluar. Seorang kreator
seperti Eros selalu membuatku berdecak kagum ketika melihat hasil karya tangannya.
Mobil tuaku ini buktinya. Dengan berbekal cat semprot dia mengubah mobil tua
ini menjadi seperti mobil paling antik sedunia. Seti-daknya itu menurut pengamatanku.
Tapi untuk masalah menyelidiki sesuatu yang me-nurutku berbahaya aku tak akan
pernah mau merestuinya.
Kami terdiam sepanjang perjalanan ke
rumah tua itu. Aku yang sedang tidak di bawah pengaruh bir yang aku minum tadi
duduk di kursi kemudi, mengendalikan laju mobil tua ini dengan penuh
konsentrasi. Eros yang duduk di samping kursi kemudi si-buk dengan tabletnya,
mencoba mencari profil rumah tua yang akan kami kunjungi. Ma-tanya hampir tak
berkedip melihat apa yang ada di screen
tabletnya.
Tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi
memasuki sebuah perkampung-an di mana rumah tua itu dibangun. Suasana begitu mencekam.
Hanya ada satu dua ru-mah yang kami temui. Hingga akhirnya kami menemukan
sebuah rumah yang tak lain adalah rumah yang sedang ada di dalam otak sahabatku
yang paling sinting ini.
Menurut cerita warga di sini yang
diceritakan secara turun temurun, rumah tua bergaya Eropa itu adalah rumah milik
pasangan suami istri keturunan Inggris. Mereka memiliki seorang anak perempuan
yang saat itu masih berusia sepuluh tahun. Mereka tinggal di sana sekitar tahun
1960-an hingga 1970-an. Saat umur sang anak sudah dua puluh tahun sekelompok
orang berjubah hitam merampok dan membantai habis-habisan keluarga itu. Dan
kabar yang diperoleh dari pihak kepolisian para perampok yang ter-tangkap mati
secara misterius saat mereka masih menjalani hukuman di penjara. Konon katanya
hantu keluarga itu masih sering menampakkan diri di sekitar rumah itu dan
ter-dengar suara jeritan histeris.
Pantas, kemarin aku seperti mendengar
jeritan minta tolong.
Suasana tetap mencekam saat kami mulai
memasuki rumah tua itu. Letak pera-botan yang ditinggalkan sama sekali tak
berubah. Jejak kaki saat kami meronta-ronta kemarin masih ada di lantai dekat
pintu utama. Hanya satu hal yang berbeda.
Aku tak dapat merasakan hawa kehadiran
para makhluk itu lagi!
Aneh. Padahal saat kami datang ke sini
kemarin hawanya sudah dapat kurasakan saat kami memasuki pintu gerbang.
“Kita berpencar. Aku ke lantai atas,
kamu di lantai bawah,” katanya mengoman-do.
Aku melongo. Dengan entengnya dia
melayangkan sebuah perintah dengan la-gak seperti sang atasan yang memberi
komando pada bawahannya. Terkadang, bahkan sering kali, dia membuatku sangat
frustrasi akan aksi gilanya itu.
Tapi kali ini entah kenapa aku tak bisa
menolaknya. Ada suatu dorongan dari da-lam hati untuk menguak sebuah misteri
rumah ini.
Ya, setidaknya aku hanya berperan
sebagai pembantu si maniak misteri satu ini yang bola matanya sudah beringas
mengamati setiap senti seisi lantai atas.
Hampir satu jam aku mencari suatu hal
yang dirasa aneh di lantai bawah ini. Dan aku sama sekali tak menemukan apapun.
Aku teringat dengan Eros. Aku sama se-kali tidak menyadari bahwa sedari tadi
tidak ada suara yang ditimbulkan darinya meski-pun hanya seruannya seperti saat
dia menemukan sesuatu.
Kini aku berdiri di depan anak tangga
menuju ke lantai atas. Tanpa keraguan se-dikit pun aku melangkah naik. Di
lantai ini hanya ada tiga ruangan yang semuanya adalah ruang tidur.
“Eros? Kamu di mana?” Aku memanggilnya
saat aku melongokkan kepala ke dalam kamar pertama di lantai ini.
Tak ada tanda-tanda dirinya ada di sini.
“Ros?” Untuk yang kedua kalinya aku
memanggilnya di kamar kedua.
Dan lagi-lagi dia tak nampak di kamar
ini.
“Ros, kamu nggak perlu nakut-nakutin aku.”
Kali ini di kamar ketiga sekaligus kamar terakhir. Dan akhirnya aku
menemukannya. Tapi…
Ya Tuhan! Eros tergeletak di sisi tempat
tidur dan tak sadarkan diri!
***
Aku terpaku di depan sebuah makam.
Tatapanku kosong memandangi tanah yang baru saja menimbun sebuah peti mati berisi
seseorang yang tak bernyawa. Di bagi-an kepala jenazah tertanam papan kayu bertanda
salib bertuliskan nama, tanggal lahir, dan tanggal kematiannya.
R.I.P. Roberto Eros Haryadi. Lahir 8 Mei
1992. Wafat 19 Agustus 2014.
Benar. Eros lah yang ada di dalam tanah
ini. Lebih tepatnya hanya jenazahnya.
Bisa bayangkan bagaimana terpukulnya
aku? Aku yang kemarin menemaninya menyelidiki misteri rumah tua bergaya Eropa
itu, masih belum bisa memercayai keper-giannya. Aku yang sering mengumpatinya
karena tindakannya yang aneh-aneh kini ha-rus menerima kematiannya.
Ya, aku benar-benar merasa sangat
kehilangan sahabat karibku yang aku kenal sejak kecil ini.
Aku masih memikirkan kematian Eros yang
tanpa sebab. Setelah menemukan-nya pingsan di kamar lantai atas rumah tua itu aku
langsung membawanya ke rumah sa-kit terdekat. Dokter UGD rumah sakit tersebut
yang menangani Eros dibuat sedikit bingung, seolah mereka tak mampu berbuat
apa-apa. Usai pemeriksaan guna mendapat-kan diagnosis utama para dokter
menyatakan bahwa Eros koma dan harus dirawat di ru-ang ICU. Setelah segala
upaya yang dilakukan tim medis untuk menindaklanjuti apa yang terjadi pada Eros
namun pada akhirnya dia tak dapat diselamatkan dua hari setelah kejadian, tanpa
sempat siuman.
Terlintas di otakku untuk kembali
menyelidiki rumah tua itu, terutama kamar ke-tiga di lantai atas di mana Eros
pingsan. Masih dengan Jeep Katana kesayanganku ini a-ku bergegas menuju ke
rumah tua bergaya Eropa yang kemarin kami selidiki.
Lagi-lagi, aku tak dapat merasakan
kehadiran para makhluk itu saat aku mema-suki rumah tua itu. Terdapat garis
batas polisi di sekeliling rumah itu. Aku mencoba me-nerobosnya. Tanpa berpikir
panjang aku segera melangkah ke lantai atas. Hingga akhir-nya aku sudah memasuki
kamar di mana aku menemukan Eros yang tak sadarkan diri.
Ruangan itu memiliki ukuran 5x5 meter
dan terdapat kamar mandi di dalam. Pe-rabotan masih tersusun rapi di sana.
Tempat tidur, meja belajar, lemari, meja rias, dan rak buku. Di sisi kiri
tempat tidur aku menemukan sebuah kotak misterius, yang menu-rut keterangan
para polisi yang menyelidiki kasus Eros kemarin terdapat sidik jari Eros di gembok
kotak itu.
Rasa penasaran ini semakin memuncak saat
aku terus memandangi kotak miste-rius itu yang bertuliskan Pandora’s box. Tanpa butuh waktu lama untuk berpikir aku mende-kati
kotak itu dan membukanya.
Namun sesuatu yang aneh terjadi padaku.
***
Aku mengerjapkan mata saat aku terbangun
dari tidurku. Ha? Aku sudah ada di kamarku? Bukannya aku sedang di rumah tua
itu? Apa yang terjadi denganku?
Secarik surat yang ditulis di kertas
usang tergeletak di meja lampu di sisi tempat tidurku, menarik perhatianku. Aku
membuka lipatannya dan membacanya.
30
Juli 1971
Kotak
ini adalah milikku. Tiada satu pun manusia selain aku yang berhak mem-buka
kotak ini. Aku memberi kutukan atas kotak ini bagi siapapun yang membu-kanya,
akan mati tanpa sebab.
Pandora
Holmes
Siapa itu Pandora Holmes? Apa maksud
dari mati tanpa sebab?
Aku teringat dengan kejadian terakhir
sebelum aku ada di kamar ini. Aku ada di dalam kamar lantai atas rumah tua itu.
Aku sedang membuka kotak misterius itu di sana dan, entah kenapa tubuhku
melemas dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Apakah Eros mati tanpa sebab karena membuka
kotak itu? Lalu, aku?
Aku bergegas turun dari tempat tidur dan
keluar dari kamar. Begitu herannya a-ku ketika melihat ruang tamu yang dipenuhi
orang-orang berbaju serba hitam. Mama menangis sedikit meraung di pelukan Papa.
Jose, kakak laki-lakiku, berdiri terpaku di samping Mama dan Papa sambil
memandangi peti mati di tengah ruangan.
Peti mati? Siapa yang meninggal? Kenapa
tak ada yang memberiku kabar?
Rasa penasaranku saat ini sama dengan
rasa penasaran dengan kotak di rumah tua itu. Aku berjalan mendekati peti mati
itu dan melongok ke dalam peti mati di tengah ruang tamu rumahku. Di sisi peti
mati itu tersandar papan kayu bertanda salib.
Tulangku serasa meleleh ketika yang aku
lihat di dalam peti mati adalah tubuhku yang sudah tak bernyawa dan membaca
tulisan pada papan kayu salib.
R.I.P. Alberto Haris Sutanto. Lahir 17
Maret 1992. Wafat 22 Agustus 2014.
Oh-my-God!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar