“Dokter Suryo, pasien kecelakaan yang
baru saja tiba mengalami fracture
pada femur, nasal hemorrhage, luka-luka di sekujur tubuh, dan kondisi pasien
tidak sadarkan diri.”
“Baik. Segera lakukan pemeriksaan fisik.
Jika hasilnya baik kita langsung bawa dia ke ruang operasi.”
“Baik, Dokter.”
Aku mendengar percakapan antara perawat
dan dokter bedah itu. Meja pendaftaran pasien dengan UGD hanya dibatasi pintu
yang sengaja diberi lubang untuk memudahkan tenaga rekam medis dan perawat
berkomunikasi. Aku yang mendengar semuanya seketika bergidik ngeri.
“Pasiennya kecelakaan?” tanyaku pada
temanku sesama profesi rekam medis.
“Iya. Sampai patah gitu tulangnya.
Kasihan, ya?” katanya. Wajahnya memelas, membayangkan rasa sakit yang mungkin
dirasakan sang pasien.
“Mungkin kelalaian dia sendiri yang
bikin dia begini.”
“Mungkin juga ini kehendak Sang Kuasa.”
Di sela-sela perbincangan kami seseorang
dengan tergopoh-gopoh mendatangi meja pendaftaran. Ia bermaksud mendaftarkan
sang pasien.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapaku.
“Saya atas nama Sumarno ingin
mendaftarkan korban kecelakaan yang ada di UGD. Saya menemukan identitas
dirinya di dompet. Ini, Mbak,” katanya seraya menyerakan identitas diri milik
pasien.
Aku memperhatikan sejenak identitas diri
milik si pasien. Dan seketika itu juga ku rasakan hawa dingin menusuk tulang
dan membuatku hampir lunglai.
“Pacu jantungnya!” seru Dokter Suryo
memerintah para perawat yang menangani pasien itu.
“Dokter, pasien tidak tertolong,” kata
salah satu perawat yang membantu Dokter Suryo untuk memacu jantung pasien,
sesaat setelah mereka mencoba menolong jiwa pasien. Namun tampaknya usaha
mereka tidak membuahkan hasil.
Seketika air mataku jatuh ke pipi dan
tubuhku lunglai. Hatiku begitu pilu mendengar para perawat berkata bahwa pasien
yang mereka tangani tak dapat ditolong karena keadaannya yang terlalu parah. “Jangan
Kau ambil Putra, Tuhan. Kami belum sempat membangun rumah tangga yang Kau
anugerahkan pada kami,” isakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar