Kamis, 09 Oktober 2014

"Jangan Ambil Putra" (2014)

“Dokter Suryo, pasien kecelakaan yang baru saja tiba mengalami fracture pada femur, nasal hemorrhage, luka-luka di sekujur tubuh, dan kondisi pasien tidak sadarkan diri.”
“Baik. Segera lakukan pemeriksaan fisik. Jika hasilnya baik kita langsung bawa dia ke ruang operasi.”
“Baik, Dokter.”
Aku mendengar percakapan antara perawat dan dokter bedah itu. Meja pendaftaran pasien dengan UGD hanya dibatasi pintu yang sengaja diberi lubang untuk memudahkan tenaga rekam medis dan perawat berkomunikasi. Aku yang mendengar semuanya seketika bergidik ngeri.
“Pasiennya kecelakaan?” tanyaku pada temanku sesama profesi rekam medis.
“Iya. Sampai patah gitu tulangnya. Kasihan, ya?” katanya. Wajahnya memelas, membayangkan rasa sakit yang mungkin dirasakan sang pasien.
“Mungkin kelalaian dia sendiri yang bikin dia begini.”
“Mungkin juga ini kehendak Sang Kuasa.”
Di sela-sela perbincangan kami seseorang dengan tergopoh-gopoh mendatangi meja pendaftaran. Ia bermaksud mendaftarkan sang pasien.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapaku.
“Saya atas nama Sumarno ingin mendaftarkan korban kecelakaan yang ada di UGD. Saya menemukan identitas dirinya di dompet. Ini, Mbak,” katanya seraya menyerakan identitas diri milik pasien.
Aku memperhatikan sejenak identitas diri milik si pasien. Dan seketika itu juga ku rasakan hawa dingin menusuk tulang dan membuatku hampir lunglai.
“Pacu jantungnya!” seru Dokter Suryo memerintah para perawat yang menangani pasien itu.
“Dokter, pasien tidak tertolong,” kata salah satu perawat yang membantu Dokter Suryo untuk memacu jantung pasien, sesaat setelah mereka mencoba menolong jiwa pasien. Namun tampaknya usaha mereka tidak membuahkan hasil.

Seketika air mataku jatuh ke pipi dan tubuhku lunglai. Hatiku begitu pilu mendengar para perawat berkata bahwa pasien yang mereka tangani tak dapat ditolong karena keadaannya yang terlalu parah. “Jangan Kau ambil Putra, Tuhan. Kami belum sempat membangun rumah tangga yang Kau anugerahkan pada kami,” isakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar