Kamis, 09 Oktober 2014

"Belajar Mencintaimu" (2014)

 “Aku mencintaimu, Nadilla,” akunya.
Aku terperangah. Sedikitpun aku tak berkutik. Bibirku masih ternganga mendengar pengakuannya. Otakku terus berputar-putar.
“Bagaimana bisa? Kita, kan, bersahabat,” tanyaku, hampir menangis.
Ia meraih tanganku. Entah rasa apa yang diberikannya, tangan kami yang bergenggaman seperti menjadi ‘kabel penghubung’ antara benakku dan hatinya. Kecupan kecil di ujung bibirku darinya sebagai penegas bahwa benaknya hanya meneriakkan namaku.
“Terima aku di hatimu, Nadilla,” katanya lagi. Wajahnya meneduh, menentramkan hati.

“Baiklah. Aku juga akan belajar mencintaimu, Nabila,” ujarku sambil menahan air mataku dengan senyuman yang terkembang di bibirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar