“Aku mencintaimu, Nadilla,” akunya.
Aku terperangah. Sedikitpun aku tak
berkutik. Bibirku masih ternganga mendengar pengakuannya. Otakku terus
berputar-putar.
“Bagaimana bisa? Kita, kan, bersahabat,”
tanyaku, hampir menangis.
Ia meraih tanganku. Entah rasa apa yang
diberikannya, tangan kami yang bergenggaman seperti menjadi ‘kabel penghubung’
antara benakku dan hatinya. Kecupan kecil di ujung bibirku darinya sebagai
penegas bahwa benaknya hanya meneriakkan namaku.
“Terima aku di hatimu, Nadilla,” katanya
lagi. Wajahnya meneduh, menentramkan hati.
“Baiklah. Aku juga akan belajar
mencintaimu, Nabila,” ujarku sambil menahan air mataku dengan senyuman yang
terkembang di bibirku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar