Aku memungut MP3 player yang terlepas dari genggamanku. Bersamaan dengan itu earphone di genggaman tanganku yang lain
pun terpasang di MP3 player yang baru
saja kupungut dari lantai.
Aku sudah berdiri di tempat ini. Tempat
di mana kita terakhir bertemu dan mendengarkan musik bersama, hanya berdua di
pantai ini, lima tahun yang lalu. Aku terkenang semua yang pernah kita lalui
berdua.
Aku memberikan satu sisi dari earphone yang terpasang di telinga
kananku padamu. Saat kau mulai mendengarkan musik perlahan aku menaikkan
volume.
“Musik yang indah, Yoko-chan. Aku sangat
menyukainya,” ujarmu sambil tersenyum penuh arti.
Ya, inilah musik yang kutahu bahwa kau
sangat meyukainya. Musik dengan tangga nada yang amat sangat sederhana namun
memiliki arti yang mendalam.
Kau tahu? Sejak pertama kali kau
memanggilku dengan sebutan Yoko-chan hari-hariku selalu dipenuhi oleh
bayang-bayang wajahmu. Kupikir, sejak saat itu aku mulai menyukaimu, dan kau
juga menyukaiku.
Hingga pada suatu hari kau memutuskan
untuk meninggalkanku seorang diri di saat aku mulai merasakan manisnya cinta
pertama yang kau berikan kepadaku.
Aku sadar. Aku memang mencintaimu sejak
aku mulai mendengar mulutmu memanggilku dengan Yoko-chan. Namun rasa yang ada
untukmu ini perlahan membeku, padahal aku sudah berusaha untuk menahan rasa ini.
Aku tahu jika kembali teringat tentangmu
aku akan merasa sedih. Sedih karena aku tak dapat mempertahankan cinta
pertamaku agar tetap ada di hatiku. Aku berharap saat bertemu denganmu, masih
dengan senyuman yang sama seperti yang sering kau lihat dulu, aku bisa memanggilmu
dengan sebutan teman. Agar rasa yang perlahan membeku ini kembali mencair.
Di sini, di pantai ini, setiap hari
selama lima tahun terakhir aku berusaha membuat hatiku mencair. Aku masih
berharap suatu saat jika kita bertemu di tempat ini kita akan mendengarkan
musik sederhana nan indah yang dulu pernah kau sukai ini.
“Goodbye days. Selamat tinggal
hari-hariku yang indah bersamamu. Aku ingin selalu mengingat cinta pertamaku. Kota-kun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar