Kamis, 09 Oktober 2014

"Karyaku Suaraku" (2014)

Aku mengambil selembar kertas putih itu. Untuk yang pertama kalinya aku mulai belajar menulis fiksi. Dengan sebatang pensil yang sudah kuraut sampai runcing ini aku mulai menggores kata demi kata, segala sesuatu tentang gejolak di jiwa tak lupa kutuangkan ke atas kertas ini.
Aku membuka halaman terakhir majalah sekolahku. Di baris pertama halaman itu tertulis, “MATA Yang Akan Datang”, mengulas tentang semua hal yang akan dibahas di majalah edisi berikutnya. Pada beberapa baris berikutnya tertulis, “Temukan jawaban dari kisah mereka di Forever Friends karya Vika Puspita Septarani.” Hati begitu girang dibuatnya. Bagaimana tidak? Hasil karya pertama yang kutulis dengan bermodal kertas dan sebatang pensil kayu dimuat di majalah sekolahku edisi ke tiga. Sejak saat itu permintaan pembuatan fiksi terus mengalir untuk kepentingan sekolah mulai dari majalah dinding kelas, majalah dinding sekolah, ajang perlombaan, dan lain-lain.
Tahun itu aku mulai memasuki tingkat pertama di sebuah sekolah menengah kejuruan di Kota Pelajar ini. Belum banyak yang tahu dan mengenalku. Aku baru saja beradaptasi dengan lingkungan baru dan semua temanku tak ada yang mengenalku sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Teman-teman, kita diminta membuat mading untuk dipajang di papan mading sekolah kita. Sekarang kita bentuk tim untuk kelas kita dan sebelum dikejar deadline mari kita susun tim mading dan segala sesuatu yang perlu disiapkan,” kata sang ketua kelas memimpin rapat kecil yang diadakan di kelasku. Ia menunjuk beberapa temanku untuk membantu dalam pembuatan mading kelas kami. “Vik, kamu ikut tim, ya? Aku lihat tampaknya kamu berbakat di bidang jurnalistik.” Sang ketua kelas menunjukku tiba-tiba.
“Aku? Nggak salah? Baiklah, aku akan menjalankan tugasku sebaik-baiknya,” jawabku sambil tersenyum. Ada kesempatan untukku mengenalkan karyaku pada seantero sekolah.
Sehari setelah pembentukan tim dan mempersiapkan perlengkapan untuk pembuatan mading kami mulai bekerja. Aku ditunjuk sebagai sekretaris tim mading kelas kami. Di hadapanku setumpuk coret-coretan pada kertas yang berisi materi yang akan diterbitkan dalam mading kelas kami menanti untuk disalin. Salah satu temanku telah menyelesaikan karikatur yang akan diikutsertakan dalam mading kelas kami. Hari itu kami benar-benar dibuat sibuk oleh kegiatan rutin ini.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua hari kami telah menyelesaikan mading kelas kami. Aku merasa cukup puas karena aku punya banyak pengalaman dalam pembuatan mading saat aku masih di tingkat sekolah menengah pertama. Dan sebuah karya fiksiku tertempel di sana. Aku tersenyum.
“Eh, kamu yang bernama Vika, ya?” tanya salah seorang temanku yang berbeda kelas. Aku memang tidak mengenalnya, namun entah dari mana sumbernya ia tahu bahwa pemilik nama Vika di angkatan ini hanyalah aku seorang.
“Iya, betul. Ada apa?” Aku mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya akan dibicarakan.
“Fiksimu keren. Aku sampai merinding bacanya.” Ia berujar polos sambil menyeringai, menampakan serentetan giginya yang tampaknya perlu adanya behel di sana.
“Yang benar? Wah, terima kasih sudah menyempatkan diri membaca mading kelasku.” Aku merasakan wajahku memanas, tersipu karena pujiannya.
Suatu hari saat sudah memasuki tingkat ketiga aku mendengar iklan mengenai sebuah sayembara penulisan non-fiksi dengan tema kisah cinta di sekolah, dan harus menyertakan kegiatan apapun yang terjadi di sekolah. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, semangatku pun mulai membara sejak aku berkata begitu dari dalam hati. Meskipun deadline masih jauh aku telah menyelesaikan karya non-fiksiku dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Menceritakan kisah cintaku pada seorang kekasihku yang saat itu kami berpisah karena adanya kegiatan praktik kerja industri yang berbeda propinsi. Dan pada suatu siang, dua minggu setelah pengiriman naskah non-fiksiku aku menerima telepon dari sebuah redaktur majalah terkenal di Indonesia yang mengadakan sayembara tersebut. Ia menyatakan bahwa karya non-fiksiku layak masuk nominasi dan aku diundang ke Jakarta untuk menghadiri acara pengumuman sayembara tersebut. Namun undangan itu tak kuindahkan karena mengingat aku masih duduk di bangku sekolah dan banyaknya kegiatan yang tak dapat aku tinggalkan. Begitu gembiranya hati ini karena selangkah demi selangkah aku mulai mampu menunjukkan pada semua orang bahwa aku bisa berbicara melalui karya-karyaku. Dan suaraku perlu didengar dan dirasakan semua orang meskipun tulisanku belum dinyatakan juara pertama, kedua, maupun ketiga.
Saat ini aku sedang menempuh bangku pendidikan di sebuah sekolah kesehatan dan sudah hampir memasuki tahun ketiga. Dua semester lagi mungkin aku tak akan lagi ada di kelas dengan kursi bermeja ini. Waktu luang di akhir semester ini aku gunakan untuk lebih memperdalam bakat menulisku. Dan sekarang zaman sudah canggih. Dahulu aku yang membuat karya hanya bermodal kertas dan sebatang pensil sekarang aku bisa membuat karya fiksi maupun non-fiksi dengan komputer.

Sebuah media penerbit buku memberi kesempatan bagi siapapun yang gemar menulis untuk mengirimkan salah satu karya bertema pengalaman maupun harapan ketika memilih dunia tulis menulis. Aku tak akan pernah meninggalkan kesempatan yang mungkin tak akan datang untuk ke dua kalinya ini. Aku menulis ini, berharap karyaku dapat mewakiliku berbicara dengan banyak orang sehingga orang lain menganggapku ada di dunia ini dan aku layak untuk berbicara.

"Ternyata" (2014)

Aku merengkuh tubuh dingin itu. Mencoba menghangatkannya yang hampir kaku. Jaket kulit yang semula terbalut di tubuhku kini ada di tubuhnya. Matanya mulai meredup. Wajanya memucat. Tubuhnya menggigil perlahan. Aku merapatkan pelukanku. Tangannya yang hampir tak bisa bergerak mencoba meraih wajahku yang penuh dengan air mata. Perlahan tangannya turun ke lenganku, hanya dingin yang ku rasakan dari sentuhannya. Aku melepaskan pelukanku, memperhatikan apa yang akan disampaikan melalui matanya. Dari sorot matanya yang benar-benar tak ada cahaya lagi di sana aku kembali merengkuhnya. Air mataku kembali keluar tak tertahankan. Tubuhku terguncang karena isakanku.
“Tia?” Ia memanggilku, tepat di telingaku.
“Apa? Ada apa, Ezra? Apa yang kamu mau?” tanyaku masih sambil terisak.
“Kamu kenapa nangis? Kenapa juga kamu kasih aku jaket? AC-nya dikecilin aja, ah. Cuma kedinginan gara-gara AC aja kamu jadi lebay gini.”

Dan aku pun tersadar dari ke-lebay-anku.

"Jangan Ambil Putra" (2014)

“Dokter Suryo, pasien kecelakaan yang baru saja tiba mengalami fracture pada femur, nasal hemorrhage, luka-luka di sekujur tubuh, dan kondisi pasien tidak sadarkan diri.”
“Baik. Segera lakukan pemeriksaan fisik. Jika hasilnya baik kita langsung bawa dia ke ruang operasi.”
“Baik, Dokter.”
Aku mendengar percakapan antara perawat dan dokter bedah itu. Meja pendaftaran pasien dengan UGD hanya dibatasi pintu yang sengaja diberi lubang untuk memudahkan tenaga rekam medis dan perawat berkomunikasi. Aku yang mendengar semuanya seketika bergidik ngeri.
“Pasiennya kecelakaan?” tanyaku pada temanku sesama profesi rekam medis.
“Iya. Sampai patah gitu tulangnya. Kasihan, ya?” katanya. Wajahnya memelas, membayangkan rasa sakit yang mungkin dirasakan sang pasien.
“Mungkin kelalaian dia sendiri yang bikin dia begini.”
“Mungkin juga ini kehendak Sang Kuasa.”
Di sela-sela perbincangan kami seseorang dengan tergopoh-gopoh mendatangi meja pendaftaran. Ia bermaksud mendaftarkan sang pasien.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapaku.
“Saya atas nama Sumarno ingin mendaftarkan korban kecelakaan yang ada di UGD. Saya menemukan identitas dirinya di dompet. Ini, Mbak,” katanya seraya menyerakan identitas diri milik pasien.
Aku memperhatikan sejenak identitas diri milik si pasien. Dan seketika itu juga ku rasakan hawa dingin menusuk tulang dan membuatku hampir lunglai.
“Pacu jantungnya!” seru Dokter Suryo memerintah para perawat yang menangani pasien itu.
“Dokter, pasien tidak tertolong,” kata salah satu perawat yang membantu Dokter Suryo untuk memacu jantung pasien, sesaat setelah mereka mencoba menolong jiwa pasien. Namun tampaknya usaha mereka tidak membuahkan hasil.

Seketika air mataku jatuh ke pipi dan tubuhku lunglai. Hatiku begitu pilu mendengar para perawat berkata bahwa pasien yang mereka tangani tak dapat ditolong karena keadaannya yang terlalu parah. “Jangan Kau ambil Putra, Tuhan. Kami belum sempat membangun rumah tangga yang Kau anugerahkan pada kami,” isakku.

"Good-bye Days" (2014)

Aku memungut MP3 player yang terlepas dari genggamanku. Bersamaan dengan itu earphone di genggaman tanganku yang lain pun terpasang di MP3 player yang baru saja kupungut dari lantai.
Aku sudah berdiri di tempat ini. Tempat di mana kita terakhir bertemu dan mendengarkan musik bersama, hanya berdua di pantai ini, lima tahun yang lalu. Aku terkenang semua yang pernah kita lalui berdua.
Aku memberikan satu sisi dari earphone yang terpasang di telinga kananku padamu. Saat kau mulai mendengarkan musik perlahan aku menaikkan volume.
“Musik yang indah, Yoko-chan. Aku sangat menyukainya,” ujarmu sambil tersenyum penuh arti.
Ya, inilah musik yang kutahu bahwa kau sangat meyukainya. Musik dengan tangga nada yang amat sangat sederhana namun memiliki arti yang mendalam.
Kau tahu? Sejak pertama kali kau memanggilku dengan sebutan Yoko-chan hari-hariku selalu dipenuhi oleh bayang-bayang wajahmu. Kupikir, sejak saat itu aku mulai menyukaimu, dan kau juga menyukaiku.
Hingga pada suatu hari kau memutuskan untuk meninggalkanku seorang diri di saat aku mulai merasakan manisnya cinta pertama yang kau berikan kepadaku.
Aku sadar. Aku memang mencintaimu sejak aku mulai mendengar mulutmu memanggilku dengan Yoko-chan. Namun rasa yang ada untukmu ini perlahan membeku, padahal aku sudah berusaha untuk menahan rasa ini.
Aku tahu jika kembali teringat tentangmu aku akan merasa sedih. Sedih karena aku tak dapat mempertahankan cinta pertamaku agar tetap ada di hatiku. Aku berharap saat bertemu denganmu, masih dengan senyuman yang sama seperti yang sering kau lihat dulu, aku bisa memanggilmu dengan sebutan teman. Agar rasa yang perlahan membeku ini kembali mencair.
Di sini, di pantai ini, setiap hari selama lima tahun terakhir aku berusaha membuat hatiku mencair. Aku masih berharap suatu saat jika kita bertemu di tempat ini kita akan mendengarkan musik sederhana nan indah yang dulu pernah kau sukai ini.

 “Goodbye days. Selamat tinggal hari-hariku yang indah bersamamu. Aku ingin selalu mengingat cinta pertamaku. Kota-kun.”

"Harus Berakhir" (2014)

“Maaf, Vira. Sepertinya hubungan kita sampai di sini saja. Aku tak sanggup lagi menutupi semuanya,” kata Farhan.
 “Kenapa, Farhan? Kenapa kau mau mengakhiri hubungan kita? Apakah kau sudah punya kekasih lain? Katakan yang sejujurnya,” buru Vira, kekasih Farhan. Matanya mulai berair.
Farhan terdiam. Pikirannya benar-benar semrawut. Antara tidak tega dan tidak ada gairah lagi dalam menjalani hubungannya dengan Vira. Ia masih terdiam dan tertunduk tanpa menunjukkan sorot matanya pada Vira. Setelah mentalnya cukup terkumpul akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya pada kekasihnya itu. “Iya, Vira. Aku sudah punya kekasih lain.” Kali ini matanya berani menatap Vira yang siap menanti jawaban apapun darinya.
Vira lemas. Tak ada cukup tenaga di tubuhnya untuk menopangnya duduk. Ia begitu syok mendengar pernyataan dari Farhan. Sebuah pengkhianatan cinta yang amat menyayat hatinya. “Siapa dia, Farhan?” tanyanya di sela-sela isakannya.

“Hanung.” Tanpa ada kata-kata lagi Farhan meninggalkan Vira yang kini menjadi mantan kekasihnya.

"Belajar Mencintaimu" (2014)

 “Aku mencintaimu, Nadilla,” akunya.
Aku terperangah. Sedikitpun aku tak berkutik. Bibirku masih ternganga mendengar pengakuannya. Otakku terus berputar-putar.
“Bagaimana bisa? Kita, kan, bersahabat,” tanyaku, hampir menangis.
Ia meraih tanganku. Entah rasa apa yang diberikannya, tangan kami yang bergenggaman seperti menjadi ‘kabel penghubung’ antara benakku dan hatinya. Kecupan kecil di ujung bibirku darinya sebagai penegas bahwa benaknya hanya meneriakkan namaku.
“Terima aku di hatimu, Nadilla,” katanya lagi. Wajahnya meneduh, menentramkan hati.

“Baiklah. Aku juga akan belajar mencintaimu, Nabila,” ujarku sambil menahan air mataku dengan senyuman yang terkembang di bibirku.

"Cinta Terpaksa" (2014)

“Aku terpaksa,” aku Radit lirih.
Rahma terdiam. Raut wajahnya hampir tanpa ekspresi. Sang lawan bicara tak dapat menelusuri otaknya.
Rahma mendesah. “Baiklah,” katanya sembari menegakkan punggungnya. “Lalu apa yang kau mau?”
Aku ingin kau tinggalkan dan lupakan aku.” Radit berbalik dan menatap Rahma. Ia masih belum dapat memahami isi hati kekasihnya itu. “Aku tak ingin kau menerima kepura-puraanku lagi.”
“Jadi kau iba padaku?” mata Rahma nanar menatap Radit.
“Ya, aku memang iba dan lebih baik kau kubur semua kenangan kita.”
“Apa kau juga hanya iba saat mengenalku sehingga kau katakana ‘aku mencintaimu’ padaku?”
Radit bungkam. Memang benar bahwa ia sebenarnyamemacari Rahma hanya karena merasa kasihan. Rasa berdosa mulai menggerogoti seluruh batinnya. “Aku menyesal, Rahma,” ucapnya.

“Baik. Aku akan ikuti kemauanmu.” Tak terkira rasa hancur Rahma tatkala Radit mengakui semuanya. Ia pergi meninggalkan Radit dengan berjuta sumpah serapah pada lelaki yang amat dicintainya itu.